Hubungan Ayah dan Anak Lebih Kaku? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Hubungan ayah dan anak sering dianggap lebih kaku, lebih dingin, dan kurang mesra dibanding hubungan ibu dan anak. Riset soal attachment menunjukkan ini bukan sekadar stereotip film, meski tidak berlaku untuk semua keluarga.

Pertanyaan “kenapa ayah terasa jauh” muncul berulang di ruang keluarga, media sosial, sampai ruang konseling. Namun perdebatan ini sering terjebak pada pengalaman pribadi, lalu digeneralisasi menjadi vonis untuk semua ayah.

Padahal yang lebih relevan adalah melihat kecenderungan populasi dan pola yang konsisten di berbagai penelitian. Di titik itu, hubungan ayah-anak memang kerap tampil berbeda, bukan karena kurang sayang, melainkan karena sejarah peran yang tidak identik.

Meta-analisis psikolog Martin Pinquart dari Philipps University Marburg menemukan anak rata-rata melaporkan kedekatan emosional sedikit lebih tinggi kepada ibu dibanding ayah. Temuan seperti ini tidak mengatakan ayah buruk, tetapi menunjukkan ada pola yang berulang di banyak sampel dan konteks.

Penjelasan paling sederhana dimulai dari waktu, karena relasi ibu-anak “mulai” lebih awal bahkan sebelum kelahiran. Kehamilan, persalinan, dan menyusui menciptakan intensitas fisik dan biologis yang tidak dimiliki ayah, sehingga fondasi kedekatan terbentuk sejak hari pertama.

John Bowlby, pencetus teori attachment, menempatkan kedekatan bayi dengan pengasuh utama sebagai adaptasi evolusioner untuk bertahan hidup. Bayi yang menjaga kedekatan dengan pengasuh memiliki peluang hidup lebih besar, terutama di lingkungan purba yang keras dan penuh risiko.

Dari sudut pandang bioevolusi, tantangan reproduksi ibu dan ayah memang tidak sama sejak awal. Pada mamalia, investasi biologis terbesar ada pada ibu, sehingga wajar bila ibu lebih sering menjadi pusat perawatan langsung.

Namun manusia juga unik, karena ayah tidak sepenuhnya “selesai” setelah reproduksi. Antropolog evolusi Sarah Blaffer Hrdy menekankan keberhasilan manusia bertumpu pada pengasuhan kooperatif, dan ayah menjadi salah satu penopang penting meski dengan bentuk kontribusi berbeda.

Di banyak masyarakat, ibu cenderung membantu anak bertahan lewat kedekatan dan perawatan harian. Ayah lebih sering membantu anak bertahan lewat sumber daya, perlindungan, dan transfer keterampilan hidup, sehingga ekspresi kasih sayang bisa tampil lebih fungsional daripada verbal.

Jika kita mundur ke era pemburu-pengumpul yang mencakup sekitar 95 persen sejarah Homo sapiens, ayah tidak selalu jauh dari rumah seperti bayangan modern. Anak bisa menyaksikan ayah berburu, membuat alat, membaca jejak, memperbaiki perlengkapan, dan bernegosiasi sosial di dalam kelompok kecil.

Masalahnya, modernitas mengubah panggung kedekatan itu. Kerja bergaji, jam kantor panjang, komuter, dan budaya “ayah sebagai pencari nafkah” sering memindahkan ayah dari ruang pengasuhan harian ke ruang ekonomi.

Akibatnya, kedekatan ayah-anak kerap bergantung pada momen yang lebih jarang namun padat, seperti akhir pekan atau proyek tertentu. Pola ini mudah terbaca sebagai dingin, padahal sering kali itu cara lain untuk hadir, yakni lewat tindakan dan kapasitas.

Stereotip “ayah kaku” sebenarnya sering menjadi jalan pintas untuk menutup diskusi yang lebih penting, yaitu desain peran dan distribusi waktu. Ketika masyarakat menuntut ayah menjadi mesin finansial, lalu mengejek ayah karena kurang emosional, kita sedang menghukum orang yang mengikuti skrip yang kita tulis sendiri.

Di sisi lain, ayah juga tidak bisa berlindung di balik dalih “memang beda peran” untuk menghindari kelekatan emosional. Peran berbeda tidak berarti hubungan harus berjarak, karena attachment juga dibangun lewat respons yang konsisten, percakapan yang aman, dan kehadiran yang dapat diprediksi.

Yang perlu dikritik adalah narasi tunggal tentang kedekatan, seolah hanya valid jika berbentuk pelukan dan kata-kata manis. Banyak anak membaca cinta ayah lewat hal yang konkret, seperti diajari keterampilan, dilindungi saat genting, atau didampingi saat gagal.

Namun cinta yang konkret tetap butuh bahasa emosi agar tidak disalahpahami. Tanpa itu, anak bisa mengira ayah hanya peduli prestasi, sementara ayah merasa sudah memberi segalanya lewat kerja dan pengorbanan.

Riset attachment memberi petunjuk bahwa kedekatan ibu-anak rata-rata sedikit lebih tinggi, dan itu bisa dijelaskan oleh sejarah biologis serta pembagian peran yang panjang. Tetapi temuan populasi tidak boleh berubah menjadi takdir keluarga, karena pola bisa dibentuk ulang oleh pilihan dan kebiasaan.

Pertanyaan akhirnya bukan “apakah ayah pasti kaku,” melainkan “apa yang kita anggap sebagai kedekatan, dan siapa yang diberi waktu untuk membangunnya.” Jika ayah bisa hadir bukan hanya sebagai penyedia, melainkan juga sebagai tempat pulang emosi, mungkin yang runtuh bukan hubungan, melainkan stereotipnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Agustus 2026)