Trauma Anak Israel dan Gaza: Hidup Setelah Perang Hamas
ORBITINDONESIA.COM – Trauma anak Israel dan Gaza menjadi cermin paling jujur tentang perang Hamas-Israel yang tak benar-benar selesai, bahkan ketika istilah “gencatan senjata” diumumkan.
Dari Netiv HaAsara di selatan Israel hingga reruntuhan rumah di Gaza, dua remaja menceritakan ketakutan, kehilangan, dan cara mereka bertahan sebagai anak-anak yang dipaksa cepat dewasa.
Tiga tahun setelah serangan Hamas ke Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang, perang di Gaza memicu korban puluhan ribu warga Palestina.
CBS News menemui dua remaja di dua sisi perbatasan, untuk melihat bagaimana perang membentuk masa remaja mereka dan merusak definisi “normal”.
Ron Shargian berusia 15 tahun, dan ia berusia 12 ketika melihat militan Hamas melintas dengan paralayang melewati tembok yang seharusnya melindungi komunitasnya.
Ia menyebut hari itu seperti mimpi buruk, sesuatu yang terasa sureal dan sulit dipercaya bahkan jika diceritakan sebelumnya.
Dalam serangan itu, 17 tetangga Ron di Netiv HaAsara tewas, wilayah yang disebut sebagai komunitas Israel terdekat dari perbatasan Gaza.
Ia dan keluarganya bersembunyi di ruang perlindungan bom, mendengar tembakan yang terasa makin dekat dan memicu keyakinan bahwa ajal sudah di depan pintu.
Setelah 11 jam, mereka dievakuasi oleh aparat keamanan, namun seperti ribuan warga Israel lain, mereka tak bisa langsung pulang.
Keluarga Ron berpindah dari hotel pengungsi ke Tel Aviv, lalu kembali ke hotel, lalu tinggal satu setengah tahun di Gan Yavne, sebelum akhirnya pulang lebih dari setahun lalu.
Di Gaza, Kazem Doghmash kini berusia 14 tahun, dan ia berusia 11 ketika perang dimulai setelah serangan Hamas.
Ia berkata banyak hal hancur baginya, dan janji bahwa perang akan selesai justru berubah menjadi kenyataan yang lebih sulit.
Meski gencatan senjata disebut berlaku sejak Oktober tahun lalu, pejabat Palestina di Gaza menyatakan lebih dari 1.400 orang tetap terbunuh sejak gencatan itu resmi berjalan.
Di ingatannya, masa sebelum perang adalah hidup yang baik, ketika ia hanya menjadi anak-anak tanpa beban kelaparan dan ketakutan.
Kisah Ron dan Kazem menunjukkan perang modern bukan hanya pertempuran, melainkan sistem tekanan psikologis yang menetap lama setelah ledakan mereda.
Trauma tidak selalu tampil sebagai tangis, tetapi sebagai refleks tubuh, kewaspadaan permanen, dan cara melihat “pihak lain” dengan curiga.
Ron menggambarkan bagaimana suara roket atau sirene serangan udara membuat otot menegang dan adrenalin melonjak, namun ia juga berkata orang Israel “sudah terbiasa” dengan realitas itu.
Kebiasaan ini terdengar seperti ketahanan, tetapi juga bisa dibaca sebagai normalisasi ancaman yang mengikis sensitivitas dan memperpanjang siklus ketakutan.
Di sisi lain, Kazem menamai keadaan dengan lebih telanjang, “hidup saya hancur”, sekolahnya hancur, dan fokus keluarganya bukan lagi masa depan, melainkan cara bertahan hidup.
Kalimat itu menegaskan perbedaan besar antara hidup dengan ancaman dan hidup di dalam kehancuran, meski keduanya sama-sama melukai.
UNICEF menyatakan lebih dari 21.000 anak Palestina dilaporkan tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023 akibat serangan balasan Israel.
Di Israel, puluhan anak juga tewas, termasuk 37 anak yang terbunuh dalam serangan awal Hamas.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik, karena setiap korban menambah lapisan duka yang mudah berubah menjadi bahan bakar kebencian lintas generasi.
Ketika anak-anak menjadi korban terbesar, perang berubah menjadi mesin yang memproduksi masa depan yang rapuh, penuh luka dan sulit percaya pada rekonsiliasi.
Menariknya, Kazem tetap menyimpan mimpi menjadi dokter, dan ia kembali belajar di British International School di Gaza yang kini pindah lokasi karena gedung lamanya hancur akibat serangan udara Israel.
Di sini, pendidikan bukan hanya aktivitas sekolah, tetapi perlawanan simbolik terhadap kehampaan, dan upaya mempertahankan identitas sebagai remaja.
Trauma anak Israel dan Gaza mengungkap paradoks moral perang, yaitu setiap pihak merasa diserang, tetapi anak-anak di kedua sisi membayar harga yang tidak mereka pilih.
Ketika Ron berkata ia tidak tahu apakah ada orang baik di seberang, kita melihat bagaimana kekerasan mengubah persepsi menjadi tembok baru yang lebih tebal daripada beton.
Ia mengaku sebelum 7 Oktober ia percaya perdamaian mungkin terjadi, tetapi sejak hari itu ada sesuatu di dalam dirinya yang “patah”.
Patahnya imajinasi damai adalah kemenangan sunyi perang, karena ia merampas kemampuan generasi muda untuk membayangkan hidup bersama.
Namun, sikap “tidak membuat masalah besar” terhadap sirene juga menyimpan bahaya, karena rasa bahaya yang dinormalisasi bisa menumpulkan dorongan publik untuk mengakhiri konflik.
Di Gaza, Kazem merindukan hidup yang tidak hanya berputar pada mencari makanan dan air, melainkan kembali ke sekolah, bahagia, dan tersenyum.
Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi justru itulah inti hak asasi yang paling dasar, yaitu hidup yang layak tanpa ketakutan harian.
Di tengah pertarungan narasi politik, suara anak-anak sering dipakai sebagai simbol, tetapi jarang sungguh didengar sebagai manusia yang sedang tumbuh.
Jika perang terus dipahami hanya lewat kemenangan militer, maka kita mengabaikan kerusakan sosial yang lebih panjang, yaitu generasi yang tumbuh dengan trauma dan dendam.
Pada akhirnya, kisah Ron dan Kazem memperlihatkan bahwa “akhir perang” tidak selalu sama dengan “akhir penderitaan”.
Selama rumah, sekolah, dan rasa aman tidak pulih, gencatan senjata hanya jeda teknis, bukan pemulihan hidup.
Keduanya masih menemukan momen untuk tetap menjadi anak-anak, Ron belajar gitar dan ke pantai, sementara Kazem kembali belajar bahasa Inggris di sekolah yang berpindah dari reruntuhan.
Di celah kecil itu, ada harapan, tetapi harapan membutuhkan kerja politik dan kemanusiaan yang berani, bukan sekadar retorika.
Pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah sederhana namun menuntut, apakah dunia akan terus menghitung korban, atau mulai menghentikan mesin yang membuat anak-anak terbiasa pada mimpi buruk.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)