Harga Diesel AS Rekor $5,85: Dampak Perang Iran ke Pangan
ORBITINDONESIA.COM – Harga diesel AS menembus rekor baru, rata-rata US$5,85 per galon, saat perang enam bulan dengan Iran mengacaukan arus pasokan energi global. Kenaikan harga diesel ini segera terasa pada biaya logistik, ongkos kirim, dan pada akhirnya harga pangan di rak toko.
Diesel adalah bahan bakar utama truk, kereta barang, dan kapal yang menggerakkan jaringan distribusi modern. Ketika diesel melonjak, biaya angkut ikut naik, lalu merembet ke harga kebutuhan sehari-hari dari sayur hingga furnitur.
Menurut laporan Associated Press dari Chicago, lonjakan ini dipicu gangguan rantai pasok di Timur Tengah, terutama kemacetan tanker di Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent naik ke atas US$95 per barel, dari sekitar US$70 sebelum perang, dan harga di pompa biasanya mengikuti.
Dalam politik domestik AS, tekanan biaya hidup berpotensi menjadi beban menjelang pemilu paruh waktu November. Survei AP-NORC musim panas menunjukkan 2 dari 3 orang dewasa AS tidak menyetujui cara Presiden Donald Trump menangani ekonomi, di tengah dampak perang yang ia luncurkan.
Rata-rata diesel AS kini hampir 56% lebih mahal dibanding sebelum perang akhir Februari, ketika masih sekitar US$3,76 per galon menurut AAA. Bensin ikut naik ke US$4,15 per galon dari US$3,20 setahun lalu, namun kenaikannya lebih lambat daripada diesel.
AP mengingatkan puncak terakhir harga bahan bakar terjadi pada Juni 2022, ketika diesel hampir menyentuh US$5,82 per galon setelah perang Ukraina dan sanksi terhadap Rusia. Jika disesuaikan inflasi, diesel 2008 setara sekitar US$7,20 pada 2026, dan rekor 2022 setara sekitar US$6,56 tahun ini.
Yang paling cepat terasa adalah pangan, karena diesel hadir di setiap mata rantai dari traktor, kapal nelayan, hingga truk berpendingin ke supermarket. Independent Grocers Alliance memperkirakan bahan bakar menyumbang sekitar 15% sampai 30% dari total biaya makanan, sehingga guncangan energi sulit dihindari.
David Ortega, profesor ekonomi pangan Michigan State University, menyebut barang yang butuh pendingin sering pertama kali naik. Data Juli menunjukkan harga bahan makanan AS naik 2,7% tahunan, tetapi seafood naik 7% dan buah segar naik 4,9%.
Namun, Ortega juga menekankan harga tidak hanya ditentukan ongkos angkut. Selada, misalnya, sempat mengalami biaya transport lebih tinggi, tetapi penurunan permintaan akibat wabah cyclospora justru menekan harga.
Efek diesel juga muncul lewat biaya tambahan pengiriman. Amazon menerapkan surcharge sementara 3,5% untuk sebagian penjual pihak ketiga, sementara UPS, FedEx, dan USPS menambah fee untuk sebagian paket dengan alasan kenaikan biaya bahan bakar.
Ajesh Kapoor, CEO SemiCab, menegaskan dampak diesel sangat langsung pada semua moda pergerakan barang. Menurutnya, industri bisa beradaptasi sampai titik tertentu, tetapi ada batas ketika biaya harus dipindahkan ke pelanggan.
Guncangan ini tidak berhenti di AS, karena pasar diesel bersifat global dan stok fisik bisa menipis saat sistem kilang tertekan. Neil Atkinson dari National Center for Energy Analytics, dalam briefing Lloyd’s List Intelligence, memperingatkan produk seperti diesel makin mahal ketika persediaan menyusut dan kapasitas pemurnian menegang.
Di banyak negara Afrika dan Asia, dampaknya lebih tajam karena ketergantungan impor dari Timur Tengah. Data Global Petrol Prices mencatat diesel Nigeria melonjak 90% sejak akhir Februari, disusul Indonesia hampir 87% dan Lebanon 77%.
Angka harga bervariasi karena pajak dan kondisi ekonomi, tetapi arah pergerakannya seragam: naik cepat. Global Petrol Prices juga mencatat label tertinggi di Hong Kong, dengan diesel rata-rata US$17,73 per galon dan naik lebih dari 25% selama perang.
Kenaikan harga diesel bukan sekadar grafik energi, melainkan pajak tak terlihat pada kehidupan harian. Ketika ongkos angkut naik, yang paling dulu tertekan adalah barang yang harus bergerak cepat dan dingin, yakni pangan segar yang menyentuh rumah tangga berpendapatan rendah lebih keras.
Masalahnya, publik sering hanya melihat angka di SPBU, bukan struktur biaya yang menumpuk di belakangnya. Kontrak angkutan, margin ritel, dan fuel surcharge membuat kenaikan terasa bertahap, sehingga konsumen baru sadar saat total belanja mingguan tak lagi masuk akal.
Perang yang mengganggu Selat Hormuz memperlihatkan rapuhnya globalisasi energi, ketika satu titik sempit bisa mengguncang biaya hidup dunia. Ketergantungan pada diesel juga menunjukkan transisi energi belum menyentuh sektor logistik secepat yang dibutuhkan.
Di sisi politik, tekanan ini mudah berubah menjadi amarah pemilih, tetapi menyederhanakan masalah menjadi sekadar salah satu pihak berisiko menutupi akar strukturalnya. Jika sistem kilang global ketat dan jalur tanker terganggu, siapa pun yang berkuasa akan menghadapi inflasi biaya logistik yang sulit dikendalikan.
Rekor diesel US$5,85 per galon adalah sinyal bahwa perang dan energi selalu menemukan jalan ke meja makan. Selama diesel tetap mahal, kenaikan harga pangan, ongkir, dan layanan publik berbasis diesel akan terus merembes meski tidak selalu terlihat sekaligus.
Pertanyaan besarnya bukan hanya kapan harga turun, tetapi seberapa siap negara dan pelaku usaha mengurangi ketergantungan pada satu bahan bakar untuk menggerakkan ekonomi. Jika “ini tidak bisa berlangsung selamanya,” seperti kata Neil Atkinson, maka yang harus diputuskan adalah apakah kita menunggu krisis berikutnya, atau membangun ketahanan sebelum terlambat. (Orbit dari berbagai sumber, 7 September 2026)