Ade Munajat: Mengulas Judul Buku "Islam ala Prabowo"
Oleh Ade Munajat
ORBITINDONESIA.COM - Saya menulis ini setelah melihat judul sebuah buku beredar di media sosial: Islam Ala Prabowo. Bukan karena saya sudah selesai membacanya. Justru sebaliknya.
Saya belum membaca buku itu. Informasi yang saya miliki baru sebatas berita peluncuran, foto sampul, deskripsi toko buku, dan percakapan di berbagai platform media sosial. Saya heran dengan kepala judulnya. Sebab dalam keyakinan saya, hanya ada satu model Islam: model Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Keheranan itu yang ingin saya urai dengan tenang
Judul itu sudah bekerja sebelum isinya dibaca
Di media sosial, orang jarang menunggu selesai membaca. Empat kata di sampul sudah cukup untuk membentuk sikap. Ada yang memuji. Ada yang menyindir. Ada yang tertawa. Ada yang langsung curiga pada lembaga yang meresmikan.
Saya memahami reaksi itu. Judul bukan hiasan. Ia bingkai. Goffman (1974) menyebut bingkai sebagai cara manusia memilah apa yang penting dan apa yang boleh dilupakan. Entman (1993) menambahkan: membingkai berarti memilih dan menonjolkan sebagian realitas sehingga publik langsung mendapat definisi masalah, tafsir sebab, penilaian moral, dan usulan solusi.
Islam Ala Prabowo merupakan judul buku dengan hemat kata. Yang menonjol bukan “cara mengamalkan”, melainkan kesan bahwa Islam punya versi seorang tokoh. Subjudulnya sebenarnya lebih lembut. Sayangnya, di linimasa, subjudul kalah oleh kepala judul yang mirip slogan.
Saya teringat perdebatan Islam Nusantara
Sesungguhnya, rasa heran ini bukan baru. Ketika istilah Islam Nusantara diusung, sebagian ulama dan publik juga bertanya: mengapa Islam perlu diberi tambahan nama? Bukankah sumbernya sudah satu? Pihak yang menolak khawatir agama seolah dibagi. Pihak yang menerima menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah cara menerapkan, bukan agama baru.
Pelajaran dari situ relevan sekali. Niat di belakang istilah bisa bijak. Efek di telinga publik bisa lain. Begitu kata Islam disandingkan dengan nama tempat, kelompok, atau orang, yang terdengar lebih dulu bukan penjelasan panjang. Yang terdengar adalah kesan ada model lain. Islam Ala Prabowo mengulang pola itu, dan kali ini lebih personal: yang menempel bukan kawasan, melainkan nama individu yang sedang memimpin.
Apa yang saya lihat di media sosial
Framing di media sosial itu cepat dan tidak sabar. Yang dipilih: kata Islam plus nama tokoh. Yang ditonjolkan: klaim atau keanehan judul. Yang tenggelam: kemungkinan bahwa buku ini hanya kumpulan kesaksian orang lain tentang kepemimpinan, Palestina, zakat, dan nilai keadilan.
Maka lahir beberapa bingkai sekaligus. Bingkai penghormatan. Bingkai politisasi. Bingkai olokan. Bingkai teologis. Semuanya bisa hidup berdampingan tanpa satu orang pun membuka daftar isi. Saya sendiri menahan diri untuk tidak ikut menjatuhkan isi. Tapi saya tidak menahan diri untuk mengkritik kepala judul bukunya. Karena kepala judul buku itu itu sudah masuk ke ruang publik.
Yang ingin saya jaga
Saya ingin menjaga tiga hal. Islam sebagai ajaran tetap satu. Pengamalan manusia boleh dibahas. Nama agama jangan dijadikan merek orang.
Kritik terhadap judul, bagi saya, bukan permusuhan. Itu adab bahasa. Jika kita longgar pada nama, kita akan terbiasa mendengar Islam ala siapa saja. Lama-lama anak-anak kita bisa mengira agama itu seperti potongan baju.
Lalu apa yang lebih elok?
Tidak perlu membakar buku. Tidak perlu juga memaksa semua orang marah. Yang lebih elok adalah merendahkan judul, bukan merendahkan orang.
Tulis saja: Pengamalan Nilai Islam dalam Kepemimpinan Prabowo Subianto. Atau Jejak Seorang Muslim di Istana. Atau Nilai Islam dalam Kebijakan Publik. Tokohnya tetap bisa dibahas. Agamanya tidak perlu dipinjam sebagai label.
Lembaga keagamaan pun pantas lebih hati-hati. Literasi tetap perlu. Jarak tetap perlu. Publik, termasuk saya, pantas menunda vonis atas halaman yang belum dibuka. Menghormati pemimpin tidak berarti menyerahkan kata Islam kepadanya.
Penutup
Saya ulangi tiga pengakuan itu agar tidak ada salah paham. Saya belum membaca bukunya. Saya hanya menyusun dari apa yang beredar di media.
Saya heran pada judulnya, karena Islam yang saya pelajari tidak membutuhkan “ala” siapa pun.
Buku boleh memuji. Buku boleh menafsirkan jejak seorang pemimpin. Itu hak penulis.
Namun agama sudah cukup dengan dua sumber yang tidak usang: Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Selebihnya hanya usaha manusia. Usaha itu boleh dihargai. Tidak perlu diberi nama yang lebih besar dari usahanya sendiri.
Wallohualambishawab.
Referensi
Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x
Goffman, E. (1974). Frame analysis: An essay on the organization of experience. Harvard University Press.
Hall, S. (1980). Encoding/decoding. Dalam S. Hall, D. Hobson, A. Lowe, & P. Willis (Ed.), Culture, media, language (hlm. 128–138). Hutchinson.
*Ade Munajat. Peminat Sejarah, Pendidikan, Politik dan Sosial Budaya. ***