Budaya Kerja Toksik India: Normalisasi Lembur dan Pelecehan
ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja toksik India kembali disorot setelah pendiri startup Bengaluru, Aloona, membeberkan praktik yang dianggap “biasa” tetapi merusak batas profesional. Ia menyebut penghinaan di rapat, panggilan larut malam, stand-up akhir pekan, hingga tugas mendadak jelang weekend sebagai pola yang harus berhenti.
Unggahan Aloona di LinkedIn menjadi viral karena menampar kebiasaan lama yang sering disamarkan sebagai “dedikasi”. Ia menegaskan, “None of this is okay,” sekaligus mengingatkan bahwa tuntutan “thicker skin” sering dipakai untuk membungkam korban.
Daftar perilaku yang ia sebut terasa akrab di banyak organisasi, terutama yang mengagungkan kecepatan dan respons instan. Masalahnya, standar itu kerap dibangun di atas ketersediaan tanpa batas dan ketakutan untuk menolak.
Ia juga menyorot momen paling rentan: karyawan tetap dihubungi saat sakit, dirawat di rumah sakit, atau sedang berduka. Dalam logika tertentu, kemanusiaan diposisikan sebagai gangguan operasional.
Respons publik memperlihatkan ada kelelahan kolektif yang lama dipendam. Seorang terapis menulis bahwa toksisitas sering dinormalisasi sampai karyawan justru mempertanyakan diri sendiri, bukan sistem yang menekan.
Budaya kerja toksik biasanya tidak hadir sebagai satu ledakan, melainkan akumulasi kebiasaan kecil yang dibiarkan. Panggilan malam hari, rapat dadakan, dan target yang berubah-ubah membentuk suasana “selalu siaga” yang menggerus kontrol hidup.
Dalam psikologi kerja, ketidakpastian dan penghinaan publik adalah pemicu stres yang kuat. Ketika tekanan menjadi cara memimpin, organisasi sebenarnya sedang membangun mesin produktivitas yang rapuh.
Fenomena ini juga terkait dengan mitos lama: availability sama dengan komitmen. Padahal, komitmen dapat diukur dari kualitas hasil, bukan dari siapa yang paling cepat membalas pesan pada pukul 23.00.
Diskusi yang muncul sejalan dengan gelombang global tentang work-life balance, termasuk dorongan Gen Z yang makin vokal. Banyak profesional muda menilai pekerjaan penting, tetapi bukan satu-satunya identitas yang boleh menguasai seluruh waktu.
Data global menguatkan konteks ini, meski tidak spesifik India dalam artikel sumber. WHO dan ILO pada 2021 memperkirakan jam kerja panjang terkait dengan ratusan ribu kematian tahunan secara global akibat penyakit jantung dan stroke, menunjukkan bahwa isu ini bukan sekadar “drama kantor”.
Di tingkat perusahaan, biaya budaya toksik sering tersembunyi dalam turnover, absensi, dan penurunan kualitas keputusan. Organisasi yang mengandalkan rasa takut biasanya tampak cepat di permukaan, tetapi lambat dalam inovasi karena orang berhenti jujur.
Yang paling berbahaya adalah efek normalisasi. Ketika penghinaan di rapat dianggap “tegas”, dan lembur dianggap “mental juara”, bahasa menjadi alat untuk memutihkan kekerasan psikologis.
Unggahan Aloona penting karena memindahkan pusat masalah dari individu ke struktur. Banyak kantor menyuruh karyawan “lebih kuat”, padahal yang perlu dibenahi adalah perilaku kepemimpinan dan desain kerja.
Dalih “startup culture” juga sering dipakai sebagai kartu bebas aturan. Kecepatan bukan alasan untuk menghapus batas, karena batas justru membuat kerja berkelanjutan.
Kita perlu membedakan kerja keras dengan kerja tanpa kendali. Kerja keras lahir dari tujuan yang jelas dan penghargaan yang adil, sedangkan kerja tanpa kendali lahir dari kekacauan manajemen yang dibayar dengan kesehatan mental.
Jika pemimpin menuntut semua orang menyesuaikan jadwalnya, itu bukan kepemimpinan melainkan pemusatan kuasa. Organisasi modern seharusnya membangun sistem, bukan ketergantungan pada mood dan impuls satu orang.
Solusinya bukan sekadar “self-care” individu, karena itu sering berubah menjadi beban tambahan. Yang dibutuhkan adalah aturan jam komunikasi, standar rapat yang menghormati martabat, serta mekanisme aman untuk melaporkan pelecehan tanpa balas dendam.
Perbincangan tentang budaya kerja toksik India menunjukkan satu hal: banyak orang lelah dianggap mesin. Ketika batas pribadi dilanggar terus-menerus, produktivitas yang dipuja berubah menjadi luka yang diwariskan.
Pertanyaannya sederhana tetapi tajam: apakah kantor kita benar-benar mengejar kinerja, atau sekadar melatih kepatuhan? Jika “komitmen” hanya berarti selalu tersedia, mungkin yang sedang dipertahankan bukan budaya kerja, melainkan budaya kuasa. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)