Jackass Best and Last: Perpisahan Terakhir Johnny Knoxville
ORBITINDONESIA.COM – Jackass Best and Last menandai salam perpisahan Johnny Knoxville dan kawan-kawan, setelah lebih dari dua dekade menjadikan rasa sakit sebagai komedi dan persahabatan sebagai mesin utamanya.
Knoxville mengaku menangis pada hari terakhir syuting, karena ia sadar “ini yang terakhir kalinya kami akan membuat Jackass,” sebuah akhir yang terasa seperti “menidurkan anjing yang sangat kamu cintai, tapi kamu tahu sudah waktunya.”
Artikel sumber menggambarkan satu paradoks yang jarang dibahas dalam waralaba komedi ekstrem: set Jackass bukan tempat untuk melankolia, tetapi perpisahan justru memaksa emosi muncul.
Knoxville mengatakan saat kamera menyala ia “dalam mode menyerang,” karena ketika harus berhadapan dengan banteng marah, tidak ada ruang untuk perasaan.
Namun film kelima yang disebut sebagai penutup ini membuatnya rapuh, sekaligus bersyukur, karena ia menyadari bab itu benar-benar selesai.
Keputusan berhenti terdengar masuk akal karena tubuh mereka sudah membayar mahal, dari tulang patah hingga trauma otak.
Mayoritas personel asli juga sudah melewati usia 50 tahun, sehingga risiko yang dulu “nakal” kini berpotensi menjadi tragedi permanen.
Tetapi pertanyaan yang mengganggu publik bukan lagi “mengapa mereka berhenti,” melainkan “mengapa kita ikut sedih.”
Jackass berkembang dari acara MTV tahun 2000 menjadi waralaba bernilai hampir setengah miliar dolar, padahal awalnya tidak pernah dirancang sebagai franchise.
Jeff Tremaine, sutradara semua film Jackass, bahkan mengatakan Best and Last tidak ditulis sebagai film terakhir, dan keputusan final baru menguat saat proses syuting berjalan.
Film ini disebut “part clip show, part last hurrah,” merangkum berbagai era hidup mereka, dari masa muda hingga usia 50-an, dengan satu konstanta: tawa yang meledak tanpa henti.
Di dalamnya tersimpan arsip penting yang membentuk mitologi Jackass, termasuk rekaman Knoxville menguji rompi anti peluru dengan menembak dadanya sendiri memakai revolver kaliber .38.
Tremaine menyebutnya tidak lucu dan gelap, tetapi di situlah ia melihat kelahiran Jackass, sekaligus “preview” dari 30 tahun berikutnya.
Steve-O menilai momen itu membuat Knoxville jadi legenda di skateboard, dan justru memicu ide Tremaine untuk “mengurangi skateboard” dan menonjolkan kegilaan manusianya.
Secara produksi, Jackass nyaris gagal sejak awal, karena mereka menjual acara lewat sizzle tape, tetapi kebingungan saat harus membuat pilot.
Spike Jonze memberi saran kunci: jangan menjelaskan apa pun, karena energi anarkis tanpa narasi itulah yang menjual.
Best and Last juga mengingatkan betapa rapuhnya eksistensi mereka, seperti saat kru ditangkap setelah sketsa pilot yang melibatkan Knoxville menyamar sebagai napi kabur.
MTV sempat menutup produksi, lalu esoknya mereka tetap membuat “Poo Cocktail,” sebuah penanda bahwa batas moral dan logika memang bukan rem utama di semesta ini.
Kesuksesan cepat memunculkan reaksi balik, karena pada 2001 Senator Joe Lieberman menyerukan pembatalan acara setelah remaja di Connecticut mengalami luka bakar parah akibat meniru aksi.
MTV memindahkan jam tayang ke larut malam, dan kontrol keselamatan makin ketat, sampai ada petugas OSHA yang mempertanyakan suhu masak “vomelet.”
Peralihan ke layar lebar menjadi strategi sekaligus pelarian, karena rating R dianggap bisa mengurangi penonton anak-anak dan memberi ruang untuk aksi yang lebih “nakal.”
Jackass: The Movie (2002) dibuat dengan biaya sekitar 5 juta dolar dan menghasilkan hampir 80 juta dolar secara global, sebuah lompatan yang mengunci statusnya sebagai mesin uang.
Sejak itu, setiap sekuel terasa lebih berbahaya, hingga pada Jackass 3D (2010) Steve-O bahkan dilempar ratusan kaki dari dalam porta potty.
Namun daya tahan budaya Jackass tidak hanya bertumpu pada aksi terbesar, melainkan pada momen kecil tentang kerentanan manusia, ketakutan, dan reaksi spontan orang biasa.
Di titik ini, Jackass berubah menjadi dokumen sosial tentang persahabatan laki-laki Amerika, yang kasar di permukaan tetapi intim di dalam.
Yang membuat Jackass relevan bukan sekadar kebodohan yang dipoles, melainkan kejujuran hubungan mereka yang nyaris tidak disensor.
Tremaine menyebut penonton terhubung karena merasa “diizinkan masuk” ke keluarga yang rapat, lalu memahami idiosinkrasi dan ketakutan masing-masing anggota.
Knoxville, Tremaine, dan Jonze sejak awal menolak mengintelektualkan karya mereka, tetapi kini mengakui ada makna ketika orang melihat Jackass sebagai contoh “maskulinitas yang positif.”
Knoxville bahkan mengatakan ia bangga karena di luar sana banyak contoh maskulinitas yang buruk, sementara mereka justru dianggap membawa versi yang lebih sehat.
Ini menarik, karena Jackass sering dituduh merayakan kekerasan, tetapi yang sebenarnya dipertontonkan adalah persetujuan, saling percaya, dan kemampuan menertawakan diri sendiri.
Ketika kru ikut West Hollywood Pride Parade, Knoxville menekankan dukungan LGBTQ+ dan menormalisasi kedekatan fisik antar teman, termasuk telanjang dan sentuhan, tanpa rasa malu.
Di sini, Jackass tampak “tak sengaja” progresif, bukan lewat slogan, tetapi lewat praktik: membiarkan orang menjadi dirinya, dan tidak sibuk menghakimi.
Ada lapisan lain yang lebih pahit: tubuh yang menua memaksa komedi ekstrem bernegosiasi dengan batas biologis.
Best and Last menyelipkan humor tentang kesehatan usia paruh baya, bahkan ada stunt yang mengajarkan manfaat kolonoskopi, seolah rasa sakit kini punya fungsi edukatif.
Masuknya wajah baru seperti Zach “Zackass” Holmes, Sean “Poopies” McInerney, dan Rachel Wolfson menunjukkan regenerasi, tetapi juga mengakui bahwa generasi lama tidak mungkin terus menjadi martir komedi.
Warisan Jackass juga dibayangi kehilangan dan konflik, terutama kematian Ryan Dunn pada 2011 dan retaknya relasi dengan Bam Margera.
Tremaine mengaku emosional saat menyaring arsip Dunn, karena beberapa orang bukan hanya pemain, melainkan “senjata rahasia” yang menyelamatkan adegan dengan satu kalimat gila.
Di ruang publik, pembacaan budaya terhadap Jackass makin tajam, seperti cuitan komedian Jaboukie Young-White yang menyebutnya docuseries tentang “id” laki-laki cis-hetero kulit putih Amerika yang merespons kebosanan suburban.
Jonze menyukai tafsir itu, tetapi tetap menegaskan niat mereka tidak pernah highbrow, karena kompas kreatifnya sederhana: “apakah ini membuat kita tertawa.”
Perpisahan Jackass Best and Last terasa emosional karena ia menutup sesuatu yang lebih besar dari stunt, yakni sebuah bahasa persahabatan yang kasar, jujur, dan tidak malu terlihat bodoh.
Knoxville memilih menutup kredit dengan “Shine a Light” dari Rolling Stones, sampai menulis surat ke Mick Jagger untuk mendapat izin, lalu memilih sendiri klip-klip montasenya.
Jika Jackass selama ini mengajari kita apa pun, mungkin itu adalah keberanian untuk menertawakan rasa takut, sambil tetap memegang orang-orang yang kita sebut keluarga sebelum waktu memaksa kita berkata: cukup. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Juni 2026)