KTT G7 Evian dan Trump: Retaknya Aliansi Barat Memuncak

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – KTT G7 Evian-les-Bains kembali digelar, tetapi kali ini bukan sekadar agenda ekonomi dan keamanan. Di bawah bayang-bayang perang Amerika di Timur Tengah, para pemimpin Eropa datang dengan satu keyword utama: KTT G7 Evian, dan satu sub-keyword yang makin sering dicari publik: retaknya aliansi Amerika-Eropa.

Pertemuan terakhir para pemimpin negara terkaya dunia di Évian-les-Bains, Prancis, pada Juni 2003, terjadi saat Amerika Serikat baru saja menginvasi Irak. Prancis dan Jerman menentang keras, tetapi para pemimpin masih menjaga ilusi bahwa mereka tetap satu barisan menghadapi dunia yang kacau.

Dua puluh tiga tahun kemudian, para pemimpin berkumpul di kota yang sama, di tengah perang Amerika lainnya di Timur Tengah. Bedanya, lapisan “kesepahaman” itu kini terkelupas, dan ketegangan tidak lagi disamarkan.

Ketika Presiden Donald Trump tiba pada Senin sore di Évian, ia disambut pemimpin Eropa yang tidak lagi memandang Amerika sebagai mitra pada isu kunci seperti iklim dan keamanan. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan memandang Amerika sebagai ancaman, setelah serangan Trump terhadap Iran mengguncang ekonomi dunia, sikapnya yang makin meremehkan NATO, dan ancamannya mengambil alih Greenland.

Charles A. Kupchan, profesor hubungan internasional di Georgetown University, menyebut perubahan sikap sekutu Amerika sangat nyata. “Dari awal masa jabatan kedua Trump sampai Greenland, patokan sekutu Amerika adalah ‘gigit lidah dan bersikap manis kepada Trump,’” katanya.

Menurut Kupchan, Greenland dan Iran menjadi “pukulan ganda” yang memaksa sekutu berkata tidak. “Kami akan bekerja dengan Trump jika memungkinkan, tetapi harus bilang tidak ketika perlu,” ujarnya.

Perpecahan soal Irak pada 2003 memang tajam, tetapi tidak merusak fondasi NATO atau lembaga multilateral seperti G7. “Itu bukan situasi kita sekarang,” kata Kupchan, menegaskan tidak ada konsensus di G7 tentang apa yang harus dilakukan.

Meski begitu, para pemimpin tetap mencari titik temu karena perang terus bergemuruh di Ukraina dan Iran. Pasokan energi global terganggu setelah Iran menutup Selat Hormuz, dan kekhawatiran soal kecerdasan buatan yang mengguncang pasar kerja memicu dorongan regulasi pemerintah.

KTT ini membuat target Prancis sebagai tuan rumah menjadi lebih rendah dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tantangan terbesar Emmanuel Macron justru personal: membujuk Trump agar tidak pulang lebih awal, seperti yang ia lakukan pada KTT G7 di Kanada tahun 2018 dan 2025.

Macron mencoba “mengunci” komitmen Trump dengan undangan makan malam di Versailles pada Rabu, setelah pertemuan berakhir. Jamuan itu dikemas sebagai perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika, yang menurut pejabat Prancis terkait dengan perjanjian 1783 yang ditandatangani di Versailles.

Macron bahkan memundurkan jadwal awal KTT agar Trump bisa menghadiri acara pertarungan kandang di Gedung Putih pada Minggu malam, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80. Diplomasi pun tampak seperti manajemen suasana hati, bukan lagi perumusan kebijakan.

Jeremy Shapiro dari European Council on Foreign Relations menyebut “resep” KTT bersama Trump adalah mencegah ledakan konflik di depan kamera. “Menyarankan bahwa semuanya baik-baik saja, yang tidak lagi mereka percayai,” katanya.

Ruptur menjadi lebih dalam setelah perang Iran dimulai tanpa konsultasi dengan pemimpin Eropa. Ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland memperparah persepsi bahwa Washington bukan sekadar sulit diajak kerja sama, tetapi juga tak terduga dan koersif.

Pada isu keamanan yang paling mengkhawatirkan Eropa, Ukraina, Trump disebut tidak menunjukkan minat besar untuk kembali terlibat dalam negosiasi damai. Pada Iran, isu yang paling menyita perhatian Trump, para pemimpin G7 menolak ikut perang, dan itu memicu teguran keras dari presiden Amerika.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah “toksisitas” politik di mata publik Eropa. Shapiro menyatakan Trump begitu tidak populer sehingga bahkan sekutu politik lama, seperti Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, mulai menjaga jarak.

“Trump membuat semuanya jadi sangat beracun,” kata Shapiro. Para pemimpin Eropa merasa sulit membantu Amerika ketika Trump terus melontarkan serangan verbal terhadap mereka.

Namun, G7 juga tidak seragam dalam seberapa jauh harus menjauh dari Amerika. Jerman dan Jepang berada lebih dekat dengan ancaman Rusia dan China dibanding Kanada, sehingga ruang manuver mereka untuk “memutuskan” Washington lebih sempit.

Perbedaan sejarah juga berperan, karena Prancis lebih sering menempuh jalur independen dibanding Inggris. Macron sudah mendorong “otonomi strategis” Eropa sejak masa jabatan pertama Trump, sedangkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer hingga baru-baru ini menekankan pentingnya tetap seirama dengan Washington.

Namun Inggris pun mulai bergeser, terlihat dari penolakan London mengizinkan pesawat tempur Amerika memakai pangkalan udara Inggris untuk operasi ofensif di Iran. Inggris tetap mengizinkan penerbangan untuk operasi yang mereka sebut “defensif,” sebuah kompromi yang menunjukkan kehati-hatian sekaligus jarak.

Ketegangan politik domestik ikut menyulut emosi publik Inggris ketika Wakil Presiden JD Vance ikut campur isu internal. Ia menyinggung penusukan Henry Nowak, mahasiswa 18 tahun, dan menyalahkannya pada “politik kebencian diri dan invasi massal migran.”

Ben Judah, mantan penasihat David Lammy dan kini fellow di Chatham House, menyimpulkan perubahan karakter hubungan itu. “Trump mempraktikkan politik luar negeri, bukan kebijakan luar negeri,” katanya, seraya menegaskan Inggris kini punya “masalah Amerika” pada level politik.

Macron merancang makan siang dan makan malam tematik, serta mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Namun pejabat Prancis mengakui mereka tidak bisa memprediksi peran Trump, karena gaya kepemimpinannya yang berubah-ubah.

Prancis juga ingin fokus pada ketimpangan ekonomi antara China dan Barat. Trump baru kembali dari pertemuan dengan Xi Jinping di Beijing, sehingga secara posisi ia bisa memimpin diskusi, tetapi pejabat Prancis mengaku tidak yakin membaca arah kebijakan China versi Trump.

Shapiro mengatakan para pemimpin Eropa sebenarnya ingin “memasukkan Amerika ke satu ruangan dan membahas masalah.” Tetapi ia menyindir, setengah bercanda, bahwa “enam dari mereka akan izin ke kamar mandi,” lalu pembicaraan penting justru terjadi di luar forum resmi.

KTT G7 Evian menunjukkan krisis inti: Barat tak lagi dipersatukan oleh definisi ancaman yang sama. Ketika Amerika memandang kekuatan sebagai alat tekanan, Eropa cenderung melihat stabilitas sebagai mata uang utama, terutama saat energi dan inflasi menjadi isu domestik yang sensitif.

Ancaman mengambil alih Greenland bukan sekadar kontroversi, melainkan sinyal bahwa batas-batas norma aliansi bisa dinegosiasikan secara sepihak. Jika sekutu merasa wilayah dan kedaulatan bisa dijadikan bahan tawar, rasa percaya yang menjadi “lem” NATO dan G7 akan terkikis dari dalam.

Perang Iran menambah lapisan ketidakpastian ekonomi global, terutama lewat gangguan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital energi dunia. Dalam situasi seperti ini, penolakan G7 untuk ikut perang adalah pesan bahwa Eropa dan Jepang tidak ingin menanggung biaya politik dan ekonomi dari keputusan Washington yang tidak dikonsultasikan.

Di saat bersamaan, ketakutan terhadap AI yang mengubah pasar kerja menuntut koordinasi regulasi lintas negara. Tetapi koordinasi membutuhkan kepercayaan, dan kepercayaan sulit tumbuh ketika pertemuan puncak lebih mirip “mengelola Trump” ketimbang merumuskan agenda bersama.

G7 akhirnya tampak seperti panggung dua lapis: lapisan resmi untuk foto bersama, dan lapisan informal untuk “kerja nyata” tanpa Amerika. Jika pola ini berlanjut, G7 berisiko menjadi forum simbolik, sementara keputusan strategis berpindah ke koalisi ad hoc yang lebih kecil dan lebih homogen.

Évian pada 2003 masih menyisakan ruang untuk berpura-pura kompak, meski perang Irak membelah opini. Évian pada 2026 memperlihatkan sesuatu yang lebih telanjang: sekutu tidak lagi yakin Amerika berada di sisi yang sama dalam isu keamanan, ekonomi, dan norma.

Macron boleh jadi berhasil menahan Trump agar tidak pulang cepat, tetapi itu hanya mengulur waktu, bukan menyembuhkan retakan. Pertanyaan yang tersisa bagi publik dunia adalah apakah Barat masih bisa membangun konsensus, atau justru memasuki era di mana “aliansi” hanya bertahan sebagai kata, bukan komitmen.

(Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)