Mantan Panglima Tertinggi Kyiv Sebut NATO Terlalu Ketinggalan Zaman bagi Ukraina

Duta Besar Kyiv untuk Inggris sekaligus mantan Panglima Tertinggi, Valerii Zaluzhnyi.

Duta Besar Kyiv untuk Inggris sekaligus mantan Panglima Tertinggi, Valerii Zaluzhnyi.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Ketergantungan NATO pada "doktrin Perang Dunia II" dan lambatnya adaptasi terhadap bentuk-bentuk peperangan baru membuat kecil kemungkinannya Ukraina akan bergabung dengan aliansi tersebut, ujar Duta Besar Kyiv untuk Inggris sekaligus mantan Panglima Tertinggi, Valerii Zaluzhnyi.

"Selama 12 tahun, saya secara pribadi berupaya memastikan kita menguasai standar NATO, dan setiap tahun saya mendengar kabar bahwa kita akan segera bergabung dengan NATO. Sayangnya, kita tidak akan pernah bergabung," kata Zaluzhnyi dalam pertemuan tertutup dengan para duta besar Ukraina di Kyiv pada hari Senin, 3 Agustus 2026, menurut laporan media Ukraina.

Meskipun "Ukraina membutuhkan teknologi yang saat ini tersedia di negara-negara NATO," seperti sistem pertahanan terhadap rudal balistik, ia mengatakan, "mustahil untuk bergabung dengan organisasi yang masih memegang doktrin Perang Dunia II, mengingat tingkat perkembangan yang telah dicapai oleh angkatan bersenjata Ukraina."

Rusia telah melakukan perubahan besar pada militernya akibat tekanan perang, dan banyak politisi serta pejabat intelijen khawatir Rusia bisa saja siap menyerang negara anggota NATO pada akhir dekade ini.

Kritik tajam yang tidak biasa dari Zaluzhnyi ini menyoroti perubahan yang terus berkembang dalam hubungan aliansi tersebut dengan Ukraina.

Negara itu telah beralih dari ketergantungan pada dukungan militer Eropa di tahun-tahun awal perang menjadi salah satu kekuatan militer paling tangguh dan berteknologi maju di benua tersebut—bahkan jauh mengungguli kekuatan Barat dalam hal produksi massal drone, rudal, dan sistem-sistem penting lainnya.

"Ukraina berkontribusi terhadap keamanan transatlantik," demikian pernyataan bersama 32 pemimpin NATO dalam KTT aliansi di Ankara bulan lalu.

Dalam latihan militer terkini yang melibatkan pasukan Ukraina atas undangan NATO, pasukan aliansi berulang kali dibuat kagum oleh taktik dan penggunaan drone yang diterapkan oleh pasukan Ukraina.

Komentar ini juga menjadi sorotan mengingat adanya rumor luas mengenai ambisi politik Zaluzhnyi. Ia digantikan sebagai panglima tertinggi Ukraina oleh Presiden Volodymyr Zelensky pada tahun 2024.

"Kemungkinan besar, NATO akan tetap dalam bentuknya yang sekarang dan akan menghabiskan waktu 12 tahun—sama seperti Ukraina—untuk beralih ke standar yang harus dicapai agar setidaknya bisa menyamai separuh kemampuan Federasi Rusia," ujar jenderal purnawirawan tersebut.

Pernyataan Zaluzhnyi juga mencerminkan kekecewaan mendalam Ukraina terhadap aliansi tersebut karena menunda permohonan keanggotaannya, meskipun secara resmi telah melontarkan prospek keanggotaan di masa depan pada tahun 2023. AS dan sekutu lainnya tetap menentang langkah tersebut.

Akibatnya, kata Zaluzhnyi, Ukraina akan memilih untuk "bergabung dengan blok dan aliansi yang kemungkinan akan dibentuk," seraya merujuk pada Joint Expeditionary Force—sebuah kelompok beranggotakan 10 negara yang dipimpin Inggris, yang sebagian besar terdiri dari negara-negara Nordik dan Baltik, serta dibentuk pada tahun 2014 untuk melengkapi NATO.

"Kemungkinan besar, kita akan berbicara mengenai blok keamanan militer Eropa," tambah Zaluzhnyi.

NATO menolak berkomentar dan mengarahkan POLITICO pada pernyataan Sekretaris Jenderal aliansi, Mark Rutte, pada bulan Juni lalu, yang menegaskan kembali "jalan yang tidak dapat diubah bagi Ukraina untuk bergabung dengan NATO."

Zaluzhnyi maupun perwakilan Ukraina untuk NATO tidak segera menanggapi permintaan komentar. ***