Saham Microsoft Terpuruk, AI Capex dan Disrupsi Software Menekan

Business Insider

Business Insider

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Saham Microsoft menjadi yang terburuk di kelompok Magnificent 7, saat narasi “AI stock” justru berbalik menekan raksasa software ini. Dalam sebulan, pasar melihat biaya AI (AI capex) dan ketidakpastian disrupsi software sebagai kombinasi yang membuat investor ragu.

Di antara Magnificent 7, pemenang terlihat jelas, seperti Alphabet yang kian meyakinkan dan Nvidia yang tetap menjadi raja chip AI. Namun pertanyaan yang kini mengganggu investor adalah siapa yang paling tertinggal, dan jawabannya mengejutkan karena bukan Apple atau Meta.

Apple lama dipersepsikan tertinggal dalam AI, lalu mengejar relevansi lewat kemitraan. Meta juga ditekan karena dianggap paling tidak terdiversifikasi, seolah “AI atau tamat”.

Justru Microsoft yang kini menjadi “laggard” terbesar, meski memiliki bisnis yang terdiversifikasi dan platform cloud yang mapan. Microsoft juga punya agen AI sendiri, Copilot, yang seharusnya menjadi amunisi utama di era AI.

Data performa terbaru menggambarkan tekanan yang keras pada saham Microsoft. Sahamnya diperkirakan turun 18% pada Juni, yang akan menjadi bulan terburuk sejak era dot-com tahun 2000.

Secara year to date, saham Microsoft turun 24%, terburuk di Magnificent 7. Sekitar US$857 miliar nilai pasar menguap pada periode yang sama, dan harga kini mendekati level terendah sejak 2023.

Masalah Microsoft bukan sekadar sentimen, melainkan “double whammy” yang unik. Perusahaan menghadapi penolakan investor atas belanja modal AI yang besar, sekaligus kegelisahan bahwa AI akan mengganggu bisnis software yang selama ini menjadi mesin uangnya.

Di sinilah diversifikasi berubah dari keunggulan menjadi sumber kecemasan. Kemajuan di cloud atau AI bisa tertutup oleh kekhawatiran bahwa model bisnis software akan tergerus otomatisasi dan agen AI.

Tekanan itu tercermin pada valuasi yang turun ke titik rendah multi-tahun. Forward P/E Microsoft sempat jatuh ke sekitar 21x, terendah dalam kira-kira tiga tahun, memicu debat apakah ini re-rating yang wajar atau peluang beli.

Di tengah keraguan pasar, investor terkenal Michael Burry justru masuk. Dalam tulisan Substack, ia mengaku membeli call options yang akan untung jika saham naik ke kisaran low US$700 pada 2028, dan komentarnya ikut memicu reli 6% pada Jumat berikutnya.

Microsoft juga tidak sendirian dalam “tanah tak bertuan” ini. Oracle, sesama raksasa software dan hyperscaler, mengalami pola tekanan yang mirip, dan grafik saham 2026 keduanya disebut terlihat serupa.

Oracle menghadapi dua isu yang sama: ketakutan disrupsi industri software dan penolakan investor terhadap capex. Bedanya, Oracle lebih banyak membiayai ekspansi dengan utang, sehingga perhatian pasar tertuju pada pergerakan obligasinya.

Utang Oracle bahkan disebut menjadi bellwether bagi fixed-income AI trade. Artinya, cara pasar menilai obligasi Oracle menjadi semacam termometer apakah “taruhan AI” lewat instrumen pendapatan tetap masih dipercaya.

Kesimpulannya, Microsoft dan Oracle telah berkomitmen penuh pada proyek AI yang sangat mahal. Namun investor belum memberi “benefit of the doubt”, setidaknya untuk saat ini.

Kasus Microsoft menunjukkan paradoks era AI: yang paling siap secara infrastruktur belum tentu paling disukai pasar. Ketika belanja AI membengkak, investor menuntut bukti monetisasi cepat, bukan sekadar janji “strategis”.

Ketakutan terbesar bukan hanya biaya, melainkan perubahan struktur industri software. Jika agen AI membuat pekerjaan software lebih otomatis, nilai lisensi, seat-based pricing, dan paket enterprise bisa dipaksa berevolusi lebih cepat daripada kemampuan perusahaan menyesuaikan margin.

Copilot menjadi simbol pertaruhan itu. Ia bisa menjadi mesin pertumbuhan baru, tetapi juga dapat mengkanibal produk lama, memindahkan nilai dari “software sebagai alat” menjadi “hasil kerja sebagai layanan”.

Di sisi lain, penurunan valuasi ke P/E forward sekitar 21x memperlihatkan pasar sedang menulis ulang ekspektasi. Ini bukan vonis final, tetapi sinyal bahwa Microsoft harus membuktikan AI bukan sekadar biaya, melainkan pengganda pendapatan.

Langkah Burry mengingatkan bahwa pasar sering berayun dari euforia ke skeptisisme. Namun call options hingga 2028 juga menyiratkan pesan penting: bahkan pemburu peluang pun menganggap pemulihan ini butuh waktu, bukan hitungan kuartal.

Microsoft sedang berada di titik uji: apakah ia akan menjadi pemenang AI yang menjustifikasi capex besar, atau justru contoh bahwa transisi teknologi bisa menghukum pemain mapan. Oracle menambah bukti bahwa “software titan” kini menghadapi pertanyaan yang sama, hanya dengan struktur pendanaan yang berbeda.

Bagi investor dan publik, pelajarannya sederhana namun pahit: AI bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal biaya, model bisnis, dan kesabaran pasar. Pertanyaannya kini, siapa yang lebih cepat memberi bukti—teknologi yang menjanjikan, atau perusahaan yang harus membayar mahal untuk mewujudkannya. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Juli 2026)