Kematian Flu Burung H5N1 AS, Wabah Sapi Perah dan Cerpelai Mengkhawatirkan

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kematian akibat flu burung H5N1 di Washington State menjadi sinyal keras bahwa ancaman belum surut, justru melebar ke sapi perah dan cerpelai. Di tengah temuan H5N1 pada puluhan peternakan sapi perah dan wabah yang dibiarkan berbulan-bulan di peternakan cerpelai Utah, publik bertanya mengapa respons pemerintah tampak lambat dan sunyi.

Seorang warga Yakima County, Washington, meninggal pekan ini setelah mengalami kasus flu burung yang parah. Ini disebut sebagai kematian pertama terkait flu burung di AS pada tahun ini, dan yang ketiga sejak 2024.

Yang mengganggu bukan hanya kematiannya, melainkan cara informasi itu muncul ke ruang publik. CDC baru memperbarui situsnya pada Kamis, sehari setelah pertanyaan dari The New York Times, tanpa pernyataan resmi kepada publik.

Dalam sebulan terakhir, virus flu burung terdeteksi pada sapi perah di puluhan peternakan di banyak negara bagian. Pada saat yang sama, wabah di peternakan cerpelai Utah dilaporkan menyebar tanpa kendali selama berbulan-bulan.

Dokumen yang diperoleh Animal Welfare Institute menunjukkan pejabat federal dan negara bagian minim langkah untuk membendung wabah di peternakan cerpelai. H5N1 disebut sudah beredar berminggu-minggu sebelum akhirnya terdeteksi.

Para ahli mengingatkan bahwa membiarkan virus menyebar di peternakan cerpelai yang padat memberi peluang evolusi yang hampir tak terbatas. “Anda bisa memiliki virus dengan potensi pandemi yang meningkat sedang ‘dimasak’ di sana,” kata Thomas Peacock dari Pirbright Institute.

Flu burung memang belum menjadi ancaman besar bagi kebanyakan manusia. Namun risikonya signifikan bagi jutaan pekerja pertanian dan dokter hewan, kata Kristen Coleman dari University of Maryland.

H5N1 cenderung meningkat pada musim gugur saat burung liar bermigrasi dan saling menulari. Sejak beredar di AS pada 2022, virus ini telah berdampak pada hampir 212 juta unggas dan lebih dari 1.200 kawanan sapi.

Daftar inang juga meluas dari kucing domestik dan beruang kutub hingga singa laut dan kelelawar pemakan buah. Ekspansi lintas spesies ini memperbesar peluang virus menemukan “jalur” baru untuk menular dan beradaptasi.

Masuknya H5N1 ke cerpelai budidaya, yang pertama didokumentasikan di AS, dianggap sangat mengkhawatirkan. Cerpelai memiliki saluran pernapasan yang mirip manusia, sehingga dapat menjadi “wadah pencampur” pembentuk virus influenza baru, kata Dr. Coleman.

Risiko lain muncul bila pekerja peternakan tertular H5N1 dan flu musiman bersamaan. Dua virus dapat bertukar gen dan berpotensi melahirkan varian baru yang ganas seperti flu burung tetapi menular mudah seperti flu musiman.

“Saya tidak mengerti mengapa kita tidak memprioritaskan orang-orang ini untuk mendapatkan vaksin flu, setidaknya untuk flu musiman,” kata Gigi Gronvall dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. Kalimat itu menohok karena pencegahan dasar justru tampak tidak digenjot.

Di sektor sapi perah, H5N1 terdeteksi di 21 negara bagian sejak Maret 2024, termasuk wilayah yang mengalami infeksi berulang. Pengujian rutin susu curah sebelum masuk rantai komersial menemukan kasus baru di Colorado dan Indiana, mengindikasikan penyebaran belum terkunci.

Washington State menjadi contoh cepatnya penularan pada sapi perah, dengan virus melaju melalui 40 kawanan. Virus juga dilaporkan melompat dari sapi sakit ke setidaknya tiga orang.

Korban meninggal disebut memiliki penyakit penyerta, tetapi detail identitas dan kondisi tidak diungkap. Dua orang lain yang terinfeksi dilaporkan mengalami gejala ringan.

Di Utah, ketidakjelasan justru lebih besar karena nasib pekerja peternakan cerpelai nyaris tak terdokumentasi. ProPublica melaporkan pekerja dengan paparan potensial tidak diuji, bahkan saat bergejala konsisten dengan flu burung.

Hewan di peternakan itu juga disebut tetap terpapar, bukannya dimusnahkan sebelum menularkan lebih jauh. Ini kontras dengan wabah 2022 di Spanyol, saat otoritas memerintahkan pemusnahan seluruh cerpelai dan ilmuwan menemukan mutasi yang membantu virus “betah” pada mamalia.

Di AS, peternak unggas dan sapi perah wajib melaporkan wabah, dan peternakan unggas wajib memusnahkan ternak dengan kompensasi kerugian. Namun untuk cerpelai, tidak ada kewajiban federal maupun skema kompensasi, sehingga insentif pelaporan dan penanganan menjadi lemah.

USDA menyatakan tidak memiliki program pengendalian penyakit untuk cerpelai, dan respons wabah Utah ditangani negara bagian. USDA hanya merujuk rekomendasi 2023 tentang pencegahan infeksi pernapasan di peternakan cerpelai.

Virus di peternakan cerpelai Utah disebut beredar setidaknya lima minggu sebelum terdeteksi pada awal Agustus. Analisis 10 sekuens genetik menyiratkan virus belum berubah signifikan dari versi yang terlihat pada peternakan sapi perah di Texas.

“Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan virus ini memburuk,” kata Troy Sutton dari University of Saskatchewan, namun ia menekankan keterbatasan waktu sampel yang berasal dari awal Agustus. Artinya, jika evolusi terjadi setelah itu, publik belum melihat datanya.

USDA menyebut laboratorium nasionalnya menawarkan pengujian tambahan, tetapi belum menerima sampel dari negara bagian. Celah logistik seperti ini tampak kecil di atas kertas, tetapi besar dampaknya ketika jam biologis virus terus berjalan.

Rute masuk virus ke peternakan cerpelai juga belum dijelaskan, begitu pula alasan penyebaran cepat di kawanan Washington. Dr. Coleman bahkan mengkhawatirkan penularan melalui udara antarpabrik peternakan, sementara pemotongan anggaran riset dua tahun terakhir mengurangi kesempatan ilmuwan mempelajari pola penyebaran.

Masalah terbesar dalam kisah ini bukan sekadar H5N1 yang “kembali”, melainkan tata kelola risiko yang tertinggal. Ketika CDC memperbarui informasi setelah ditanya media dan tetap tanpa pengarahan publik, yang muncul adalah kesan bahwa komunikasi krisis berjalan reaktif.

Di sisi lain, struktur regulasi yang timpang menciptakan titik buta yang berbahaya. Unggas dan sapi perah punya kewajiban pelaporan dan kompensasi, sementara cerpelai tidak, sehingga wabah di peternakan cerpelai mudah menjadi ruang “eksperimen alam” yang tak disengaja.

Thomas Peacock menyebut kelalaian ini “konyol”, dan kritik itu terasa relevan karena cerpelai adalah mamalia dengan kemiripan biologis tertentu dengan manusia. Membiarkan virus beredar di populasi padat berarti memberi mesin evolusi bahan bakar tanpa rem.

Pekerja peternakan berada di garis depan, tetapi perlindungan mereka tampak sebagai catatan kaki. Ketika vaksin flu musiman saja dipertanyakan prioritasnya, maka strategi pencegahan tampak tidak sebanding dengan potensi kerugian.

Kasus ini juga menunjukkan paradoks modern: data ada, tetapi tindakan tertahan. Kita mendeteksi lewat uji susu curah, menelusuri sekuens genetik, dan memahami teori pertukaran gen, namun respons lapangan dan komunikasi publik tidak bergerak secepat pengetahuan.

Jika ada pelajaran, itu adalah bahwa pandemi sering lahir dari akumulasi keputusan kecil yang menunda. Tidak ada satu momen tunggal yang “menciptakan” krisis, melainkan serangkaian pembiaran yang membuat risiko menjadi normal.

Kematian di Washington, wabah sapi perah di 21 negara bagian, dan penyebaran di peternakan cerpelai Utah adalah rangkaian peringatan yang saling menguatkan. H5N1 mungkin belum menjadi ancaman luas bagi publik, tetapi ia jelas menguji kesiapan sistem untuk bertindak sebelum terlambat.

Pertanyaannya kini bukan apakah virus akan berubah, melainkan apakah kebijakan akan bergerak lebih cepat daripada evolusi. Ketika sains sudah memberi sinyal, yang dibutuhkan adalah keberanian administratif untuk menutup celah, melindungi pekerja, dan berbicara jujur kepada publik.

Karena pada akhirnya, yang paling mahal dalam wabah bukan hanya biaya pemusnahan ternak atau pengujian laboratorium. Yang paling mahal adalah waktu yang terbuang saat kita tahu ada api, tetapi memilih menunggu sampai asap memenuhi ruangan.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 November 2026)