Viky Sianipar Garap Musik Film Pulang Kampung, Lagu Batak Naik Kelas

Medcom.id

Medcom.id

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Viky Sianipar garap musik film Pulang Kampung untuk pertama kalinya, dan trailer resminya langsung memamerkan empat lagu Batak populer dengan aransemen baru. Di tangan Viky, “Jamila” hingga “Pulo Samosir” tidak sekadar jadi tempelan nostalgia, tetapi diposisikan sebagai mesin emosi yang mendorong romansa Daniel dan Uli.

Dalam beberapa tahun terakhir, film musikal Indonesia tumbuh, tetapi sering tersandung pada persoalan paling dasar: lagu tidak menyatu dengan cerita. Banyak musikal terasa seperti konser yang diselipkan ke film, sehingga ritme narasi patah dan karakter kehilangan alasan untuk bernyanyi.

Pulang Kampung datang dengan taruhan berbeda karena sejak awal mengandalkan lagu-lagu Batak yang sudah hidup di ruang publik. Tantangannya jelas, yaitu menjaga hormat pada akar budaya sambil membuatnya relevan bagi penonton nasional yang mungkin tak akrab dengan konteksnya.

Rumah produksi Imajinari merilis trailer dan daftar lagu tema pada 7 Oktober 2026 di Djakarta XXI, Jakarta Pusat. Filmnya dijadwalkan tayang serentak pada 26 November 2026, sehingga kampanye promosi kini bertumpu pada daya pikat musik dan lanskap Danau Toba.

Trailer menampilkan empat lagu Batak legendaris: “Jamila”, “Pulo Samosir”, “Tortohon Ma”, dan “Tirismo Lae Bangkuang.” Pilihan ini strategis karena lagu-lagu tersebut punya daya ingat kolektif, sehingga film tinggal menggeser fungsi lagu dari hiburan menjadi pencerita.

Sutradara Bene Dion Rajagukguk menegaskan fondasi filmnya justru berangkat dari lagu, bukan sebaliknya. “Cerita Pulang Kampung ini berangkat dari lagu-lagunya, baru setelah itu saya tulis perjalanan Daniel dan Uli,” ujar Bene dalam konferensi pers.

Pernyataan itu penting karena menjelaskan struktur musikal yang ideal, yakni musik sebagai tulang punggung dramaturgi. Jika konsisten, penonton akan merasakan lagu sebagai dialog batin karakter, bukan jeda untuk pamer vokal.

Viky Sianipar mengaku proses ini berbeda dari panggung konser. “Ini pengalaman pertama saya di tata musik film,” kata Viky, seraya menyebut arahan Bene sebatas isyarat seperti La La Land atau “musik di dalam angkot.”

Kalimat “musik di dalam angkot” terdengar sederhana, tetapi menyimpan kunci estetik yang membumi. Musikal yang berhasil biasanya tidak mengawang, melainkan berangkat dari pengalaman publik yang akrab, lalu dinaikkan menjadi peristiwa sinematik.

Di sisi cerita, Daniel (Axelo Nababan) pulang kampung untuk mendongkrak popularitas sebagai caleg, dan dipandu Uli (Vanessa Simorangkir) yang lincah dan berani. Premis ini memberi ruang satire politik yang ringan, sekaligus membuka pintu romansa yang berpotensi problematis karena kedekatan keluarga.

Justru di titik itulah musik bisa menjadi alat negosiasi moral. Lagu dapat menghaluskan dilema, tetapi juga bisa mempertajamnya bila aransemen dan lirik ditempatkan sebagai komentar terhadap pilihan karakter.

Produser Ernest Prakasa menekankan persiapan yang berbeda untuk musikal. “Lagu, akting, dan koreografi harus bisa membawa penonton merasakan energi hangat yang sama,” tegas Ernest, yang mengisyaratkan bahwa sinkronisasi lintas departemen menjadi pekerjaan utama.

Secara industri, keputusan Imajinari mengusung musikal berbasis lagu daerah menunjukkan pergeseran selera pasar. Penonton tampak makin menerima identitas lokal, asalkan dikemas modern dan tidak menggurui, terutama ketika visual Danau Toba turut menjadi nilai jual.

Langkah paling berani Pulang Kampung bukan pada pemandangannya, melainkan pada upaya “menaikkan kelas” lagu Batak ke panggung film nasional tanpa menghilangkan logat emosinya. Namun, ada risiko besar ketika nostalgia menjadi komoditas, yaitu budaya direduksi menjadi dekorasi yang manis, tetapi hampa konteks.

Viky Sianipar tampaknya memahami jebakan itu karena ia menyebut karakter Uli membantu membentuk musik yang “fun, ceria, berwarna, dan magical.” Jika “magical” ini hanya berarti bunyi yang meriah, film bisa dangkal, tetapi jika berarti transformasi batin karakter, musikalnya berpeluang kuat.

Saya melihat kunci keberhasilan ada pada keberanian film menempatkan lagu sebagai konflik, bukan sekadar perayaan. Lagu Batak yang sudah populer seharusnya dipakai untuk mengungkap kelas sosial, arah politik Daniel, dan batas-batas relasi Daniel-Uli yang tak bisa diselesaikan dengan senyum saja.

Perbandingan dengan La La Land juga perlu dibaca kritis. Meniru gaya tanpa memahami fungsi musikal hanya akan melahirkan tiruan, sedangkan Indonesia punya ritme keseharian sendiri yang lebih cocok diterjemahkan lewat idiom “angkot,” pasar, pesta adat, dan ruang keluarga.

Pulang Kampung menjanjikan sesuatu yang jarang: musikal yang lahir dari lagu-lagu daerah, tetapi menargetkan penonton arus utama. Jika musik Viky Sianipar benar-benar menyatu dengan narasi Bene Dion, film ini bisa menjadi contoh bahwa identitas lokal tidak harus dipinggirkan demi “rasa nasional.”

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah lagu Batak bisa terdengar modern, melainkan apakah modernitas itu tetap jujur pada sumbernya. Saat lampu bioskop padam pada 26 November 2026, penonton akan menilai apakah “pulang kampung” di film ini sekadar perjalanan wisata, atau sebuah pulang yang mengubah cara kita mendengar budaya sendiri.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 November 2026)