Kehilangan Kursi di DK PBB, “Tanggung Jawab Khusus” Jerman Telah Menjadi Titik Buta Khusus Terhadap Genosida di Gaza

ORBITINDONESIA.COM - Jerman membangun identitas pascaperangnya berdasarkan prinsip "Jangan Pernah Lagi". Mereka menebus kesalahan pada era Nazi dan Perang Dunia II. Mereka membayar ganti rugi. Mereka mengajarkan kebenaran kepada anak-anak mereka. Untuk itu, mereka pantas mendapat pujian.

Tetapi penebusan bukanlah cek kosong. Holocaust oleh Nazi terhadap warga Yahudi terjadi lebih dari 80 tahun yang lalu. Dosa para ayah tidak dapat ditimpakan kepada anak-anak mereka selamanya—dan mengakui kesalahan masa lalu tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan kesalahan saat ini.

Itu bukanlah keberanian moral. Itu adalah pengecut moral yang berkedok mulia.

Gaza terbakar dan rakyat Palestina lumat di bawah aksi genosida Israel. Lebanon hancur oleh pesawat-pesawat pembom Israel. Mahkamah Internasional telah berbicara mengecam. Tetapi di saat seperti itu, Jerman berpaling.

Selama beberapa dekade, Jerman mengamankan kursi bergilirnya di Dewan Keamanan PBB sebagai hal yang rutin. Kamis lalu, 4 Juni 2026, untuk pertama kalinya, mereka kalah—dipermalukan di Majelis Umum oleh negara-negara yang melihat kepura-puraan itu.

Moralitas universal telah menyelimuti dunia ini, dan itu adalah moralitas yang tidak akan mentolerir kejahatan Israel. Jerman membayar harga mahal karena berpihak pada Israel, pada kejahatan, pada genosida, saat Gaza terbakar.

Prancis, Inggris Raya, Spanyol, Norwegia, Kanada, dan Australia telah menemukan keteguhan hati mereka dan mengakui hak kedaulatan negara Palestina. Namun Jerman tidak mampu melakukannya.

"Jangan pernah lagi" seharusnya berarti tidak pernah lagi—untuk siapa pun,

Kegagalan menjadi anggota Dewan Keamanan PBB adalah kekalahan diplomatik yang sangat signifikan dan bersejarah bagi Jerman di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Posisi politik luar negeri Jerman terkait konflik Israel-Palestina telah berbalik menjadi bumerang yang mengisolasi mereka di mata internasional.

Dalam diplomasi modern, dukungan tanpa syarat terhadap sekutu militer (dalam hal ini Jerman kepada Israel) dapat menghancurkan reputasi internasional suatu negara.

Kekalahan Jerman di PBB adalah bukti nyata bahwa peta politik dunia kini lebih berpihak pada isu kemanusiaan di Gaza daripada diplomasi transaksional Barat. ***