Setelah Akuisisi Kapal Induk Garibaldi, Indonesia Disebut Incar 18 Korvet Italia

Kapal korvet FCx30.

Kapal korvet FCx30.

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM - Langkah Indonesia memperkuat kekuatan laut kembali menjadi perhatian setelah eks kapal induk Italia Giuseppe Garibaldi tiba di Jakarta dan kemudian menjadi KRI Sriwijaya. Kehadiran kapal tersebut menjadi salah satu simbol paling mencolok dari percepatan modernisasi TNI Angkatan Laut.

Namun, di tengah perkembangan tersebut, muncul pula kabar lain yang tak kalah menarik: Indonesia disebut mengincar hingga 18 unit korvet FCx30 buatan Italia. Pertanyaannya, seberapa jauh kebenaran kabar tersebut?

FCx30 merupakan desain korvet yang dikembangkan Fincantieri dan berasal dari keluarga desain Doha Class yang telah digunakan Qatar.

Kapal ini memiliki panjang sekitar 107 meter, bobot penuh sekitar 3.200 ton, serta kecepatan maksimum lebih dari 26 knot. Konsepnya dirancang sebagai kapal perang multiperan dengan kemampuan yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan pengguna.

Bagi Indonesia, kapal dengan karakter seperti FCx30 memang memiliki daya tarik tersendiri. Indonesia tidak hanya membutuhkan kapal perang berkemampuan tinggi, tetapi juga armada yang dapat disebar ke berbagai kawasan secara bersamaan.

Dengan wilayah laut yang sangat luas, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting. Kapal kelas korvet atau light frigate dapat menjalankan misi patroli, pengamanan wilayah, peperangan permukaan hingga, tergantung konfigurasi, operasi antikapal selam dan pertahanan udara.

Hubungan Indonesia dengan industri pertahanan Italia juga bukan sekadar rumor. Pada Maret 2024, Kementerian Pertahanan Indonesia dan Fincantieri menandatangani kontrak senilai sekitar 1,18 miliar euro untuk dua kapal PPA atau Multipurpose Combat Ships.

Kapal tersebut memang berbeda dari FCx30, tetapi pengadaan ini menunjukkan bahwa Fincantieri sudah memiliki pijakan nyata dalam modernisasi armada Indonesia.

Perkembangan terbaru bahkan semakin memperkuat hubungan maritim kedua negara. Eks Giuseppe Garibaldi telah tiba di Indonesia pada September 2026 dan kemudian digunakan sebagai KRI Sriwijaya. Kapal sepanjang sekitar 180 meter tersebut memiliki kemampuan membawa helikopter dalam jumlah besar dan pemerintah Indonesia menyebut perannya akan berkaitan dengan operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana.

Namun, di sinilah isu 18 FCx30 perlu ditempatkan secara hati-hati. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi yang menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia telah menandatangani kontrak untuk membeli 18 unit FCx30.

Informasi mengenai angka tersebut lebih banyak beredar sebagai pembahasan atau spekulasi di lingkungan pemerhati pertahanan, sehingga belum tepat jika langsung disebut sebagai keputusan final pemerintah.

Artinya, ada perbedaan penting antara Indonesia memiliki hubungan pengadaan dengan Fincantieri dan Indonesia telah memesan 18 FCx30. Fakta pertama memiliki dasar kontrak yang jelas, sementara fakta kedua masih membutuhkan konfirmasi resmi.

Bahkan FCx30 sendiri sebelumnya secara terbuka ditawarkan Fincantieri untuk program korvet negara lain, termasuk Yunani, sehingga keberadaan desain tersebut tidak otomatis berarti Indonesia telah memilihnya.

Meski demikian, bukan berarti isu tersebut tidak menarik. Jika benar-benar diwujudkan, 18 kapal perang dalam satu kelas akan menjadi tambahan yang signifikan bagi jumlah kombatan permukaan TNI AL.

Armada dengan jumlah besar dapat memungkinkan Indonesia menjaga lebih banyak sektor laut secara bersamaan, terutama di wilayah yang membutuhkan kehadiran kapal perang secara terus-menerus.

Tetapi kekuatan armada tidak ditentukan oleh jumlah kapal semata. Persenjataan, radar, sonar, sistem peperangan elektronik, kemampuan pertahanan udara, rudal antikapal, kemampuan antikapal selam, jaringan data, logistik dan kesiapan awak justru menjadi faktor yang menentukan nilai tempur sebenarnya.

Bahkan kapal yang sama dapat memiliki kemampuan yang sangat berbeda apabila konfigurasi persenjataan dan sistem tempurnya berbeda.

Karena itu, kabar mengenai 18 FCx30 sebaiknya dibaca sebagai bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai arah modernisasi TNI AL, bukan sebagai kontrak yang sudah pasti. Setelah Indonesia mendapatkan KRI Sriwijaya dan sebelumnya memesan dua PPA dari Italia, perhatian terhadap kemungkinan kerja sama lanjutan dengan industri pertahanan Italia memang menjadi semakin besar.

Namun, keputusan mengenai 18 FCx30 baru dapat dianggap fakta apabila pemerintah Indonesia atau Fincantieri secara resmi mengumumkannya.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah Indonesia akan mendapatkan 18 korvet Italia. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh tambahan kekuatan tersebut akan disusun menjadi satu armada yang saling terhubung, memiliki kesiapan tinggi, dan mampu menjalankan misi di seluruh wilayah Nusantara.

Jika modernisasi itu benar-benar berlanjut, maka arah pembangunan kekuatan laut Indonesia akan menjadi salah satu perkembangan pertahanan yang patut terus diperhatikan. ***