Apprenticeship First Nations: Belinda Day Buka Jalur Kerja Perempuan

National Indigenous Times

National Indigenous Times

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Apprenticeship First Nations kembali disorot ketika Belinda Day, seniman sekaligus pemilik BindiLee Painting Services di Queensland, membangun jalur kerja bagi perempuan Indigenous. Ia menargetkan peningkatan completion rates magang lewat mentoring, ruang belajar aman, dan kerja yang tetap menjaga budaya.

Di banyak sektor keterampilan, magang sering berhenti di tengah jalan karena hambatan biaya, dukungan tempat kerja yang minim, dan kultur kerja yang tidak ramah. Bagi perempuan First Nations, tantangannya berlapis karena bias gender, keterbatasan jaringan, dan jarak akses ke proyek yang stabil.

Belinda Day menyebut ia tidak mendapat kesempatan serupa saat muda, sehingga memilih menciptakan ekosistem sendiri. BindiLee ia dirikan sebagai bisnis 100 persen perempuan dan Indigenous-owned, dengan satu tujuan praktis: memastikan peserta magang tidak berjalan sendirian.

Kisah Day memperlihatkan bahwa “completion” bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan hasil dari desain dukungan yang konsisten. Modelnya sederhana namun jarang: mentoring harian, contoh kepemimpinan di lapangan, dan rasa aman untuk bertanya tanpa dipermalukan.

Jejak Day juga memperlihatkan pentingnya role model yang terlihat, bukan sekadar slogan. Ia pernah menjadi perempuan Indigenous pertama di Central Australia yang dipekerjakan sebagai apprentice painter and decorator, lalu naik menjadi supervisor tim Aboriginal dan Torres Strait Islander di konstruksi.

Di sisi lain, kolaborasi dengan korporasi menunjukkan jalur pendanaan dan legitimasi yang sering menentukan hidup-matinya bisnis kecil Indigenous. Day merancang karya untuk Reconciliation Action Plan (RAP) Boom Logistics setelah diperkenalkan kepada CEO-nya, Lester Fernandez.

Day menegaskan prosesnya bukan tempelan simbolik karena “suara saya didengar sepanjang jalan” dan gaya seninya dihormati. Fernandez menyebut representasi suara Indigenous harus autentik, dan kemitraan seperti ini bisa membangun koneksi komunitas serta membuka peluang bagi bisnis Indigenous untuk tumbuh.

Karya “Grounded Together” diposisikan sebagai visual koneksi, kekuatan, dan tujuan bersama, sekaligus penanda komitmen perusahaan pada komunitas lokal. Namun pesan yang lebih tajam ada pada implikasinya: karya budaya menjadi pintu masuk kontrak, reputasi, dan peluang kerja yang lebih luas.

Di Australia, RAP sering dipuji karena mendorong organisasi menata kebijakan dan hubungan dengan First Nations, tetapi juga dikritik ketika berhenti sebagai dokumen. Kolaborasi seni seperti ini menguji keseriusan RAP, karena publik bisa menilai apakah “rekonsiliasi” berujung pada pekerjaan, pelatihan, dan kontrak yang berkelanjutan.

Yang paling politis dari langkah Day justru yang paling praktis: ia menggeser pusat gravitasi dari belas kasihan menuju kapasitas. Ketika sebuah bisnis Indigenous-owned mempekerjakan dan melatih perempuan Indigenous, ia memotong rantai ketergantungan pada program yang kadang berubah sesuai siklus anggaran.

Namun ada risiko yang perlu dibaca jernih, yakni beban perubahan sering ditaruh pada individu teladan, bukan sistem. Jika keberhasilan bergantung pada “satu Belinda Day” di tiap wilayah, maka negara dan industri belum melakukan pekerjaan rumahnya.

Karena itu, kemitraan korporasi harus diukur dengan indikator keras, bukan narasi lembut. Berapa jumlah apprentice yang direkrut, berapa yang selesai, berapa jam kerja yang aman, dan berapa kontrak yang benar-benar jatuh ke bisnis Indigenous perlu menjadi standar akuntabilitas.

Day mengatakan para peserta magang “cepat belajar” dan ia bangga memberi mereka start, yang menunjukkan efek psikologis dari ekspektasi yang tinggi namun suportif. Di sini budaya bukan ornamen, melainkan sumber daya yang menguatkan identitas kerja dan daya tahan menghadapi tekanan industri.

Kisah apprenticeship First Nations melalui Belinda Day mengajarkan bahwa penyelesaian magang lahir dari kombinasi keterampilan, dukungan, dan martabat. Ketika seni, bisnis, dan pelatihan bertemu, budaya bisa menjadi jembatan menuju upah, kepemimpinan, dan kemandirian.

Pertanyaannya kini bergeser: apakah industri siap memperbanyak jalur seperti ini, atau hanya merayakan kisah inspiratif tanpa memperbaiki struktur. Jika “Grounded Together” berarti benar-benar berpijak bersama, maka ukurannya adalah semakin banyak perempuan First Nations yang lulus magang dan memimpin proyek berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Agustus 2026)