Satrio Arismunandar: Di Final Piala Dunia, Saya Mendukung Palestina Melalui Jersi Spanyol
Ilustrasi warga Palestina di Gaza mendukung tim Spanyol, di tengah reruntuhan akibat pemboman dan aksi genosida oleh Zionis Israel.
OpiniOleh Satrio Arismunandar
ORBITINDONESIA.COM - Pertandingan final Piala Dunia selalu menjadi panggung di mana jutaan pasang mata tertuju pada selembar kulit bundar yang diperebutkan di atas lapangan hijau.
Orang-orang akan berdebat tentang taktik tiki-taka, kejeniusan strategi, atau siapa yang layak mengangkat trofi emas. Namun, bagi saya, final kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola.
Ketika peluit babak pertama dibunyikan, mata saya akan tertuju pada tim nasional Spanyol. Saya akan bersorak untuk setiap gol yang mereka cetak, dan berharap mereka keluar sebagai juara dunia.
Namun, jangan tanya saya tentang formasi mereka, siapa penyerang andalannya, atau bagaimana rekam jejak performa mereka di babak penyisihan. Saya tidak peduli.
Dukungan saya kepada La Furia Roja lahir dari tempat yang jauh dari stadion: dari puing-puing reruntuhan yang berserakan, dari tangis anak-anak yang kelaparan, dan dari rasa duka yang mendalam atas apa yang terjadi di Jalur Gaza.
Di seberang Spanyol, berdiri Argentina. Secara sepak bola, mereka adalah magnet. Mereka memiliki sejarah panjang dan deretan pemain bintang yang dipuja di seluruh dunia. Namun, ketika saya melihat jersi Albiceleste, saya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari realitas politik yang diadopsi oleh negara tersebut.
Di bawah kepemimpinan politiknya saat ini, Argentina telah memilih jalur yang melukai hati siapa saja yang peduli pada kemanusiaan. Mereka berdiri tegak, memamerkan kedekatan karib, dan memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel—bahkan di saat dunia menyaksikan salah satu genosida paling brutal di abad ini terjadi di Gaza.
Argentina memilih untuk menutup mata, berpaling dari jeritan jutaan warga Palestina yang tanahnya dirampas dan nyawanya dihilangkan secara sistematis.
Sebaliknya, Spanyol hadir sebagai kejutan moral yang melegakan. Di saat banyak negara Barat memilih bermain aman atau justru mendanai kehancuran Gaza, Madrid berani mengambil posisi yang berbeda.
Pemerintah Spanyol dengan lantang melayangkan kritik keras terhadap kekejaman militer Israel. Mereka tidak takut mengambil langkah diplomatik yang berani, termasuk secara resmi mengakui kedaulatan negara Palestina.
Spanyol memilih untuk mendengarkan hati nurani publiknya yang turun ke jalan-jalan kota mendesak dihentikannya pembantaian di Gaza.
Bagi saya, dan mungkin bagi jutaan orang yang hari-hari ini diselimuti rasa sedih, marah, dan tak berdaya melihat genosida di Gaza, sepak bola telah bergeser menjadi ruang artikulasi politik.
Ketika institusi global mandul dan hukum internasional diinjak-injak, kita mencari cara sekecil apa pun untuk menunjukkan keberpihakan pada kemanusiaan.
Oleh karena itu, jika Spanyol menang dan mengangkat trofi Piala Dunia, saya tidak akan merayakan kemenangan sebuah tim sepak bola. Saya akan merayakannya sebagai ucapan terima kasih yang tulus.
Terima kasih kepada sebuah bangsa yang, di tengah kegelapan geopolitik global, masih menyisakan ruang bagi pembelaan terhadap rakyat Palestina.
Di final nanti, doa saya melampaui garis gawang. Saya tidak sedang mendukung Spanyol untuk mengalahkan Argentina di atas rumput hijau.
Saya sedang mendukung Spanyol sebagai simbol bahwa nurani dan pembelaan terhadap Gaza tidak boleh kalah oleh mereka yang memilih bersekutu dengan penindasan.
Depok, 16 Juli 2026
*Satrio Arismunandar, pelanggan warteg di Depok II Tengah. Pendukung kemerdekaan Palestina.
WA: 081286299061.**