Dua Super-Puff Raksasa: Eksoplanet Lebih Ringan dari Permen Kapas

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Astronom menemukan dua eksoplanet “super-puff” seukuran Jupiter tetapi massanya begitu rendah hingga kerapatannya lebih kecil dari permen kapas. Keduanya mengorbit bintang berjarak 1.110 tahun cahaya, dan disebut sebagai planet paling “ringan” untuk ukuran raksasa gas yang pernah diukur.

Dalam artikel sumber, peneliti Oxford George Dransfield menyebut kerapatan kedua planet itu sebanding dengan “gumpalan busa cukur yang baru keluar dari kaleng.” Temuan ini dilaporkan pada Rabu di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, setelah sinyal awalnya ditangkap satelit TESS milik NASA.

“Super-puff” adalah kategori langka di katalog eksoplanet, karena ukurannya besar tetapi massanya kecil. Dari hampir 6.300 dunia di luar Tata Surya yang sudah dikonfirmasi NASA, kurang dari 40 yang termasuk super-puff menurut Dransfield.

Dua planet ini bukan sekadar “mengembang,” tetapi menantang logika pembentukan planet raksasa yang selama ini dipakai. Jupiter, sebagai pembanding, bisa hingga 35 kali lebih rapat daripada dua planet super-puff tersebut, sehingga perbedaan struktur internalnya harus ekstrem.

Data orbitnya juga tidak lazim untuk super-puff yang diketahui publik. NASA menyebut satu planet membutuhkan 139 hari dan yang lain 232 hari untuk mengelilingi bintang induk, periode yang relatif panjang dibanding banyak planet “mengembang” yang biasanya ditemukan dekat bintang karena lebih mudah dideteksi.

Tim peneliti menggabungkan deteksi transit TESS dengan pengamatan teleskop berbasis Bumi untuk memetakan orbit dan menghitung kerapatan dari jarak 1.110 tahun cahaya. Satu tahun cahaya setara hampir 6 triliun mil, sehingga ketelitian pengukuran menjadi kunci agar klaim “lebih ringan dari permen kapas” tidak sekadar sensasi.

Secara kimia, Dransfield menduga planet-planet ini didominasi hidrogen dan helium, dan warnanya kemungkinan putih atau biru tergantung tingkat keawanan atmosfer. Konfirmasi komposisi membutuhkan observasi lanjutan dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb, yang mampu membaca jejak molekul lewat spektroskopi.

Konteksnya penting karena pada 2024 peneliti juga menemukan super-puff lain berjarak 1.200 tahun cahaya dan menyebutnya “misteri kosmik.” Kini, dua penemuan serupa dalam rentang waktu singkat mengisyaratkan bahwa “misteri” itu mungkin bukan anomali tunggal, melainkan kelas objek yang selama ini luput karena bias deteksi.

Yang paling menarik bukan metafora permen kapasnya, melainkan fakta bahwa alam semesta tetap memproduksi planet raksasa yang nyaris “berongga.” Jon Jenkins dari NASA Ames mengatakan, “Alasan utama planet-planet ini menarik dipelajari adalah karena kami tidak menyangka akan melihatnya sama sekali,” dan itu mengubah temuan menjadi teka-teki ilmiah, bukan sekadar rekor.

Teori yang disebut dalam artikel sumber menyatakan super-puff terbentuk di piringan gas dan debu sekitar bintang muda, ketika gas lebih dominan daripada debu. Namun penjelasan ini belum menuntaskan pertanyaan inti: bagaimana planet yang sangat ringan bisa bertahan lama tanpa atmosfernya tersapu radiasi bintang atau terkelupas oleh dinamika sistem.

Di titik ini, “super-puff” menjadi semacam uji stres bagi teori pembentukan planet raksasa seperti Jupiter. Jika model tidak bisa menjelaskan planet yang ukurannya Jupiter tetapi kerapatannya seperti busa, maka yang perlu direvisi bukan datanya, melainkan asumsi kita tentang akresi, kehilangan massa, dan stabilitas atmosfer.

Penemuan dua super-puff ini menegaskan bahwa katalog eksoplanet bukan sekadar daftar, tetapi peta pertanyaan yang terus bertambah. Dransfield menutup dengan gagasan bahwa mempelajari sistem eksotik menambah kepingan puzzle pembentukan planet dan memperkaya pemahaman tentang posisi kita di kosmos.

Barangkali pelajaran terbesarnya sederhana: alam semesta tidak berkewajiban mengikuti intuisi manusia tentang “besar berarti berat.” Ketika Webb mulai menguliti atmosfer planet-planet ini, kita akan tahu apakah “permen kapas” itu hanya metafora, atau petunjuk bahwa kita masih salah membaca resep dasar pembentukan dunia. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Juni 2026)