Dimas Supriyanto: Kemesraan Artis - Wartawan Telah Berlalu
Oleh Dimas Supriyanto, jurnalis senior
ORBITINDONESIA.COM - Saya mengamati sisi lain dari peliputan pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby kemarin. Dari sisi peliputan saya kesulitan mendapati foto-foto yang eksklusif. Hampir semua foto dan liputan berasal dari media sosial, khususnya akun Instagram Andre Taulany.
Ini tragedi buat jurnalistik hiburan, tragedi buat wartawan peliput artis. Tak ada daya wartawan untuk masuk ke lokasi resepsi. Semua liputan dari jauh. Kemesraan wartawan dan artis tampaknya telah berlalu.
Di era media sosial ini, artis sudah tak memerlukan wartawan. Mereka membangun media sendiri dengan "tiras" yang jutaan - merujuk pencapaian media cetak di masa lalu. Tiras itu kini bernama "follower".
Tidak tampak lagi kebutuhan akan liputan wartawan di lokasi. Informasi, foto, dan perkembangan peristiwa dapat diperoleh dari media sosial. Akun pribadi sang selebritas menjadi sumber utama. Media tinggal mengikuti, mengambil, mengutip, lalu memberitakannya kembali.
Ini bukan sekadar perubahan cara kerja media. Ini perubahan posisi wartawan. Kredibilitas wartawan merosot ke titik terendah dalam hal ini. Hilang martabat.
Dulu, selebritas membutuhkan wartawan agar dirinya dikenal publik. Dulu artis bermesra-mesra dengan wartawan. Wartawan bisa masuk kamar artis. Dugem bareng, mabuk bareng, dan khilaf bareng. Kini hubungan mereka sudah jauh berjarak.
Sekarang, selebritas memiliki medianya sendiri. Instagram, TikTok, YouTube, X, atau platform lain memungkinkan seseorang menyampaikan berita tentang dirinya langsung kepada jutaan pengikut tanpa melalui satu pun meja redaksi.
Lalu apa yang tersisa untuk wartawan?
Pertanyaan ini mungkin terasa pahit. Tetapi justru karena pahit, ia perlu diajukan.
Apakah wartawan masih mampu menghasilkan sesuatu yang tidak bisa dihasilkan media sosial?
Kalau wartawan hanya mengambil foto dari Instagram, mengutip unggahan artis, menyalin pernyataan, lalu menyusunnya menjadi berita, apa bedanya pekerjaan itu dengan kerja sebuah akun agregator?
Kalau semua informasi tersedia di media sosial dan wartawan hanya menjadi orang yang datang terlambat untuk mengemasnya kembali, barangkali memang tidak mengherankan bila wartawan semakin dianggap tidak diperlukan. Gak dianggap. Tanpa wartawan mereka baik-baik saja.
Padahal - jurnalisme bukan sekadar memindahkan dan menyebarkan informasi.
Wartawan hadir untuk bertanya ketika orang lain hanya menerima.
Memeriksa ketika orang lain percaya. Mencari konteks ketika media sosial hanya menyajikan potongan peristiwa.
Wartawan menghubungkan fakta-fakta yang terpisah. Dan - yang paling penting - mencari sesuatu yang tidak ingin atau tidak sempat disampaikan oleh pemilik akun.
Jika media sosial berkata: ini yang ingin saya tunjukkan kepada Anda.
Jurnalisme seharusnya bertanya: apa yang perlu Anda ketahui, apa yang perlu dikonfirmasi dari fakta yang kami dapat dari sumber lain?
Di situlah masa depan profesi ini mungkin ditentukan.
Bukan oleh kamera yang semakin canggih. Bukan oleh kecepatan mengunggah berita. Bukan pula oleh kemampuan mengejar jumlah klik. Melainkan oleh kemampuan menghasilkan sesuatu yang tidak dapat dihasilkan oleh media sosial.
Karena kalau wartawan tidak lagi memiliki sesuatu yang berbeda untuk ditawarkan kepada publik, persoalannya bukan media sosial telah membunuh jurnalisme.
Jangan-jangan jurnalisme sendiri yang perlahan kehilangan alasan mengapa publik masih membutuhkannya. ***