Literasi Keuangan Remaja dan NextGen Ambassadors di Sekolah
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan remaja kembali disorot ketika banyak lulusan SMA masih bingung membuka rekening bank dan menulis cek. Di Plattsburgh, program NextGen Ambassadors dari Dannemora Federal Credit Union mencoba menutup celah itu lewat pelatihan langsung di sekolah.
Anna Hewitt-Channell mengingat rasa kikuknya satu dekade lalu saat lulus dari Plattsburgh High School. Ia merasa tidak siap menghadapi tugas finansial dasar seperti membuka rekening, menulis cek, dan membiayai mobil.
Kisah itu bukan anomali, melainkan potret transisi dewasa yang sering dibiarkan berjalan otomatis. Sekolah mengajarkan banyak hal, tetapi uang justru sering dipelajari lewat coba-coba yang mahal.
Kini Hewitt-Channell kembali ke ruang publik sebagai pembimbing bagi generasi berikutnya. Ia terlibat dalam NextGen Ambassadors Council, program literasi keuangan yang baru menutup tahun pertamanya.
Program tersebut melatih 11 anak muda dari lima SMA di Clinton County. Fokusnya adalah keterampilan dunia nyata, bukan sekadar teori ekonomi yang jauh dari konteks harian.
Inti masalah literasi keuangan adalah jarak antara pengetahuan dan praktik. Siswa bisa memahami konsep “bunga” di kelas, tetapi tetap kebingungan saat harus membaca biaya administrasi rekening atau cicilan kendaraan.
NextGen Ambassadors memotong jarak itu dengan pendekatan berbasis tugas. Membuka rekening, menulis cek, dan memahami pembiayaan mobil dijadikan latihan konkret yang bisa langsung dipakai.
Skalanya memang kecil, hanya 11 peserta, tetapi dampaknya bisa besar jika dijadikan model. Program kecil sering menjadi laboratorium kebijakan, lalu direplikasi ketika terbukti efektif.
Di sisi lain, pelatihan yang dibawa lembaga keuangan memiliki konsekuensi yang perlu dibaca kritis. Literasi keuangan dapat berubah menjadi pemasaran halus bila kurikulum tidak diawasi secara independen.
Karena itu, transparansi materi dan tujuan harus menjadi standar. Sekolah perlu memastikan yang diajarkan adalah kemampuan membandingkan produk, bukan sekadar mengenal satu merek.
Dalam konteks Amerika, perhatian pada literasi keuangan sudah lama menguat karena beban utang rumah tangga dan biaya pendidikan. Data Federal Reserve dalam “Report on the Economic Well-Being of U.S. Households” (edisi terbaru yang rutin terbit tahunan) berulang kali menunjukkan banyak orang dewasa kesulitan menutup pengeluaran darurat.
Jika orang dewasa saja rapuh, remaja yang baru memasuki dunia kerja jelas lebih rentan. Tanpa bekal, mereka mudah terjebak biaya tersembunyi, kredit berbunga tinggi, atau keputusan konsumtif yang salah arah.
Program seperti NextGen Ambassadors menawarkan pencegahan dini dengan cara yang masuk akal. Ia mengajarkan bahasa uang sebelum remaja menandatangani kontrak pertama mereka.
Literasi keuangan remaja seharusnya dipandang sebagai hak dasar, bukan kegiatan ekstrakurikuler. Mengetahui cara membuka rekening dan membaca skema cicilan sama pentingnya dengan kemampuan menulis esai.
Namun, kita juga perlu jujur bahwa literasi saja tidak menyelesaikan ketimpangan. Orang bisa paham anggaran, tetapi tetap gagal menabung jika upah rendah dan biaya hidup melonjak.
Karena itu, program ini idealnya tidak berhenti pada “cara mengelola uang,” tetapi juga “cara membaca sistem.” Remaja perlu diajak memahami risiko utang, praktik biaya, dan bagaimana bernegosiasi sebagai konsumen.
Di titik ini, peran Hewitt-Channell menjadi simbol penting. Ia membawa pengalaman “tidak siap” menjadi energi sosial, lalu mengubahnya menjadi pembelajaran yang lebih adil bagi adik kelas.
Yang patut dijaga adalah keseimbangan antara bantuan komunitas dan tanggung jawab institusional sekolah. Jika sekolah terus menyerahkan pendidikan finansial pada pihak luar, kurikulum akan tergantung pada niat baik sponsor.
NextGen Ambassadors Council di Clinton County menunjukkan satu hal sederhana: keterampilan finansial bisa diajarkan dengan cara yang dekat, praktis, dan relevan. Dari 11 peserta di lima sekolah, program ini memberi contoh bagaimana pendidikan bisa menyentuh kebutuhan paling nyata.
Meski begitu, literasi keuangan remaja tidak boleh menjadi kosmetik yang menutupi masalah struktural. Ia harus menjadi pintu masuk untuk membangun generasi yang kritis, mampu memilih, dan berani bertanya sebelum menandatangani apa pun.
Pertanyaannya kini bergeser: apakah sekolah akan menjadikan literasi keuangan sebagai standar, atau membiarkannya menjadi keberuntungan bagi yang kebetulan ikut program. Jika uang adalah bahasa kehidupan modern, siapa yang berhak membuat anak-anak kita fasih sejak awal?
(Orbit dari berbagai sumber, 20 Juni 2026)