Transkrip Pemerkosaan Cornell: Jaksa Klaim Tak Pernah Menerima
ORBITINDONESIA.COM – Transkrip pemerkosaan Cornell kembali mengguncang publik setelah Jaksa Wilayah Tompkins County, Matthew Van Houten, mengaku tidak pernah melihat catatan wawancara korban. Dalam transkrip yang diperoleh eksklusif CBS News New York, korban menyatakan, “Saya bisa mengatakan dengan keyakinan 100% saya diperkosa.”
Kasus dugaan pemerkosaan berkelompok di sebuah fraternity Cornell University disebut terjadi pada 19–20 Oktober 2024. Cornell melakukan investigasi internal yang berujung pada pemecatan, skorsing, dan sanksi lain, namun jalur pidana tidak berjalan.
Kini, penyelidikan pidana dibuka kembali setelah respons aparat penegak hukum dipertanyakan. Pemicunya adalah munculnya transkrip wawancara korban dengan polisi kampus yang, menurut jaksa, tidak pernah sampai ke mejanya.
Van Houten menyebut keputusan tidak menuntut didasarkan pada pernyataan tertulis tahun 2024 yang ditandatangani Jane Doe, nama samaran korban. Saat diberi tahu bahwa korban pernah berkata yakin 100% diperkosa, ia menjawab, “Itu bukan informasi yang saya miliki,” dan menyebutnya sebagai “kesimpulan hukum.”
Transkrip menunjukkan wawancara dimulai 14 November, lebih dari tiga minggu setelah peristiwa yang diduga terjadi. Dalam sesi itu, seorang penyidik polisi kampus memimpin pertanyaan, dengan kehadiran penyidik Title IX, pendamping korban, dan penasihat Jane Doe.
Jane Doe mengaku minum alkohol dan memakai narkoba pada malam kejadian, serta mengalami bagian memori yang hilang. Ini penting karena dalam banyak perkara kekerasan seksual, kondisi mabuk dan incapacitated kerap menjadi penentu apakah persetujuan dapat dianggap sah.
Dalam transkrip, ia membedakan aktivitas seksual awal dari kejadian setelahnya. Ketika ditanya apakah ia “oke” pada pertemuan awal, ia menjawab, “Ya, sebisa saya, karena saya sangat mabuk saat tiba,” namun menambahkan bahwa ia dipukul “sangat, sangat keras.”
Ia juga mengatakan tidak mengingat akhir malam “di mana saya diperkosa” dan tidak tahu berapa orang yang berhubungan seks dengannya. Lalu muncul kalimat yang kini menjadi pusat sorotan, “Saya bisa mengatakan dengan keyakinan 100% saya diperkosa.”
Transkrip memperlihatkan penyidik menekan detail tentang apa yang korban katakan kepada para pria. Penyidik bahkan memperingatkan pertanyaannya bisa terdengar menuduh, tetapi ia butuh jawaban spesifik untuk menentukan pasal yang tepat.
Jane Doe menyebut ia menepis tangan seorang pria dan mengatakan tidak nyaman, serta mengatakan “tidak” beberapa kali kepada pria lain atau bahwa ia terlalu lelah. Namun saat ditanya, “Apakah itu ‘tidak’ atau ‘eh, saya capek’?”, ia menjawab, “Saya pikir ‘saya capek.’”
Bagian ini menunjukkan betapa bahasa sehari-hari korban sering tidak rapi secara hukum, terutama saat berada dalam tekanan dan trauma. Tetapi transkrip juga memuat pengakuan eksplisit, ketika ditanya apakah ia lelah ditanya terus dan akhirnya menyerah, ia menjawab, “Ya, itu paksaan,” serta menyebut dirinya “sepenuhnya dan total tidak berdaya.”
Pada hari kedua wawancara, Jane Doe meninjau pernyataan enam halaman yang direvisi. Sebelum menandatangani, ia berkata, “Saya sangat yakin tentang ini.”
Kontradiksi inti ada pada klaim alur informasi antara Cornell, polisi kampus, dan kantor jaksa. Cornell menyatakan kepolisian kampus telah memberikan hasil investigasi sekolah kepada jaksa, sementara Van Houten menyebut transkrip ini “berita bagi saya” dan “mengubah lanskap.”
Jika benar transkrip tidak pernah diteruskan, itu bukan sekadar masalah administratif. Itu menyentuh jantung akuntabilitas penanganan kekerasan seksual di kampus, yaitu apakah bukti kunci diperlakukan sebagai prioritas atau terselip dalam birokrasi.
Pengacara Jane Doe, Thomas Giuffra, menajamkan kritik dengan mengatakan, “Kegagalan untuk melakukan apa pun itu mengejutkan.” Ia menambahkan jaksa sudah memiliki korban yang mengatakan diperkosa dan “group chat yang mengundang serangan seksual,” tetapi tidak menuntut.
Giuffra juga menyatakan tidak percaya pada kemampuan Van Houten menangani penyelidikan dan penuntutan. Menurutnya, jaksa tampak lebih tertarik “melindungi reputasi” daripada mencari keadilan.
Di sisi lain, dua terdakwa yang disebut dalam gugatan perdata melalui kuasa hukum mereka membantah tuduhan. Ini mengingatkan bahwa proses pidana menuntut pembuktian ketat, dan setiap kekeliruan prosedural dapat menghancurkan peluang vonis.
Transkrip pemerkosaan Cornell memperlihatkan jurang antara kebenaran pengalaman korban dan kebutuhan bahasa hukum yang presisi. Ketika jaksa menyebut pernyataan “100% diperkosa” sebagai “kesimpulan hukum,” publik mendengar sesuatu yang lain, yaitu pengakuan paling tegas yang bisa diucapkan korban.
Namun, masalahnya bukan sekadar semantik, melainkan rantai informasi yang putus. Jika jaksa benar tidak menerima transkrip, maka ada kegagalan sistemik pada koordinasi polisi kampus, mekanisme Title IX, dan penegakan hukum daerah.
Dalam kasus kekerasan seksual, keterlambatan laporan, ingatan yang bolong, dan bahasa korban yang tidak “rapi” sering dijadikan celah untuk meragukan. Padahal, transkrip justru menunjukkan pola khas trauma, tekanan, dan kondisi incapacitated yang seharusnya mendorong investigasi lebih agresif, bukan lebih pasif.
Reaksi Van Houten yang mengatakan akan “menggali” karena “ini mengubah lanskap” juga mengandung pertanyaan tajam. Mengapa lanskap baru berubah setelah media menemukan dokumen, bukan sejak awal ketika investigasi kampus sudah menjatuhkan sanksi?
Kasus ini menguji apakah kampus dan aparat memandang sanksi internal sebagai substitusi jalur pidana. Publik berhak curiga bahwa mekanisme internal kadang menjadi pagar yang menahan kasus agar tidak berkembang menjadi proses hukum terbuka.
Pembukaan kembali penyelidikan pidana memberi peluang untuk menjernihkan satu hal paling mendasar, yaitu apakah bukti kunci benar-benar diserahkan dan ditelaah. Jika transkrip pemerkosaan Cornell memang tidak pernah sampai ke jaksa, maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu perkara, tetapi kredibilitas sistem.
Di titik ini, pertanyaan publik sederhana tetapi menentukan, siapa yang bertanggung jawab ketika sebuah kalimat “100% saya diperkosa” tidak menggerakkan proses hukum. Dan jika keadilan bergantung pada dokumen yang “tidak pernah terlihat,” berapa banyak kasus lain yang tenggelam dalam senyap?
(Orbit dari berbagai sumber, 1 Oktober 2026)