Trump Ambil Alih Perayaan Amerika 250, Freedom 250 Dipersoalkan

ORBITINDONESIA.COM – Perayaan Amerika 250 atau ulang tahun ke-250 AS yang semula dibayangkan sebagai momen pemersatu, kini pecah menjadi dua panggung: Freedom 250 versi Donald Trump dan tandingan dari kelompok Next250. Di National Mall, Trump menjanjikan pesta “paling tak terlupakan,” sementara kritik menilai perayaan berubah menjadi etalase politik yang menempatkan presiden sebagai pusat cerita.

Ketika para penggerak Next250 mulai merancang peringatan 250 tahun Amerika, mereka ingin mempertemukan komunitas yang terpolarisasi untuk merayakan demokrasi. Namun rencana itu berubah drastis setelah Donald Trump kembali berkuasa sebagai presiden ke-47 dan mulai memberi cap pribadi pada perayaan nasional.

Next250 lalu menggeser fokusnya menjadi semacam “kontra-perayaan” di Washington, DC. Acara mereka menampilkan seremoni pembuka adat, pawai dari lokasi yang dulu disebut Black Lives Matter Plaza, serta stan pendaftaran pemilih.

Di sisi lain, National Mall dipakai untuk “Great American State Fair” yang didorong Trump. Sejumlah perencana negara bagian dan lokal memilih menjauh dari panggung Washington karena menganggap atmosfernya makin partisan.

Sinyal pengambilalihan muncul pada Desember, ketika Trump mengumumkan daftar program 2026 lewat Truth Social dan memperkenalkan kemitraan publik-swasta bernama Freedom 250. Langkah ini datang setelah pilihan Trump untuk memimpin America250—organisasi nirlaba yang mengurusi perayaan federal dan diawasi komisi kongres—diberhentikan.

Freedom 250 diposisikan sebagai anak organisasi National Park Foundation dan mengklaim nonpartisan, tetapi kegiatannya disebut banyak dikendalikan para pembantu senior Trump. Menteri Dalam Negeri Doug Burgum bahkan menyatakan Freedom 250 “dijalankan dari Gedung Putih,” dan hanya organisasi itu yang bisa memutuskan apakah donor dibuka ke publik.

Richard Painter, mantan pengacara etika Gedung Putih era George W. Bush, menilai relasi Gedung Putih dengan nirlaba tanpa otorisasi kongres sebagai hal “problematis.” Kekhawatiran itu memicu investigasi dari kelompok pengawas dan Demokrat di Kongres terkait sumber pendanaan Freedom 250.

Sponsor yang ditampilkan Freedom 250 mencakup sekitar dua lusin entitas, termasuk perusahaan kontraktor federal seperti Palantir, Lockheed Martin, dan Oracle. Ada pula jaringan sekutu Trump seperti UFC yang dipimpin Dana White dan Penske Corp. milik Roger Penske, yang masing-masing mendapatkan panggung acara terkait perayaan.

CEO Freedom 250 Keith Krach mengatakan pihaknya “tentang akuntabilitas dan transparansi,” tetapi tidak memberi komitmen tegas untuk membuka donor secara publik. Dalam praktiknya, baik Freedom 250 maupun America250 sama-sama dapat menjaga anonimitas donor, namun Freedom 250 tidak diawasi panel bipartisan seperti America250.

Secara narasi, Freedom 250 mengemas perayaan sesuai selera budaya Trump dan memberi ruang bagi kelompok konservatif membingkai sejarah demi “memperbarui kebanggaan nasional.” Enam museum keliling “Freedom Trucks” menampilkan kisah Revolusi Amerika lewat seni AI dan video yang menekankan akar “tradisi Barat dan Yudeo-Kristen,” diproduksi Hillsdale College dan PragerU.

Freedom 250 juga menggelar acara doa berfokus Kekristenan di National Mall dan merencanakan Patriot Games dengan hadiah total US$250.000 untuk dua remaja pemenang. Ketika sejumlah seniman mundur dari pembukaan Great American State Fair karena khawatir partisanship, Trump menggantinya dengan rapat umum yang menjadikannya bintang utama.

Puncak 4 Juli di National Mall bertajuk “Salute to America” dirancang menampilkan parade dan demonstrasi militer. Trump meminta Freedom 250 mengurus kembang api, dan Krach berjanji pertunjukan itu “lima kali lebih besar” dari biasanya demi memecahkan rekor Guinness.

Di tingkat anggaran, pergeseran makin terlihat pada branding dan aliran dana federal. Setelah Freedom 250 berdiri, sejumlah lembaga federal menghapus logo America250 dari situs, tanda tangan email, dan media sosial, sementara dekorasi Freedom 250 di gedung federal didanai pemerintah menurut catatan resmi.

Kongres mengalokasikan US$150 juta untuk perayaan 250 tahun dalam “One Big Beautiful Bill Act,” tetapi America250 baru menerima US$25 juta. Catatan federal menunjukkan US$65 juta justru dikirim ke National Park Foundation, yang dapat menyalurkan dana ke Freedom 250.

Senator Republik Lisa Murkowski menekan Burgum dalam sidang April terkait minimnya dana ke America250. Burgum menjawab pihaknya “bekerja dengan Gedung Putih” dan akan memberi tindak lanjut, yang mengindikasikan keputusan anggaran tak lagi murni teknokratis.

Anggota Komisi America250 dari Demokrat, Bonnie Watson Coleman, menyebut Freedom 250 “melayani presiden, politiknya, donornya, dan proyek kesombongannya.” Ia menegaskan America250 ingin memastikan perayaan tentang negara dan pesan untuk generasi berikutnya, bukan tentang satu tokoh.

Di lapangan, retakan terlihat di Great American State Fair melalui stan negara bagian yang kosong atau minim dekorasi. Oregon menyebut kekhawatiran acara menjadi “lebih partisan daripada yang disajikan,” sedangkan Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro mengatakan negaranya mundur karena politisasi membuat bisnis enggan terlibat.

America250 tetap menjalankan rencana kampanye layanan nasional dan rangkaian acara 4 Juli di berbagai kota. Mereka juga menyiapkan konser di Los Angeles dengan penampil seperti Chris Stapleton dan Smashing Pumpkins, dengan dukungan yang “mayoritas” diharapkan berasal dari sumber privat.

Perayaan Amerika 250 seharusnya menjadi panggung memori kolektif, tetapi kini berubah menjadi perebutan hak bercerita tentang Amerika. Ketika satu pihak memusatkan simbol, dana, dan panggung di Washington, pihak lain memecahnya ke komunitas dengan pesan bahwa “administrasi tidak memiliki kisah negara ini.”

Masalahnya bukan sekadar Trump tampil di perayaan nasional, karena presiden sebelumnya juga pernah berperan dalam peringatan besar. Yang membuatnya tajam adalah desain institusional baru yang terlihat mem-bypass mekanisme bipartisan, sambil menggiring sponsor berkontrak federal ke orbit perayaan.

Di sini, patriotisme menjadi komoditas politik dan sekaligus pasar pengaruh, karena siapa yang membiayai pesta bisa ikut menentukan narasi. Ketika “kebanggaan nasional” dibingkai lewat tradisi tertentu dan dipoles AI, ruang bagi pluralitas pengalaman Amerika berisiko menyempit.

Next250 membaca situasi ini sebagai sinyal darurat demokrasi budaya, sehingga mereka menekankan pendaftaran pemilih, seremoni adat, dan musik komunitas. Di titik itu, pertarungan 250 tahun bukan tentang kembang api terbesar, melainkan tentang siapa yang dianggap sah sebagai “kita.”

John Dichtl dari American Association for State and Local History menyimpulkan, berharap Washington melahirkan sesuatu yang “memersatukan” kini seperti “perkara sia-sia.” Perbandingan dengan 1976 yang terasa “menyembuhkan” menegaskan bahwa retak sosial hari ini membuat simbol nasional mudah ditarik menjadi bendera kubu.

Di Washington, publik dipaksa memilih antara bianglala setinggi 110 kaki dan replika lengkung kemenangan Trump, atau panggung kecil yang menawarkan paduan suara, mariachi, dan gelang buatan tangan. Pilihan itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan dua gagasan tentang Amerika: negara sebagai pertunjukan kekuasaan atau sebagai ruang bersama yang rapuh namun bisa dirawat.

Trump menyebut 250 tahun sebagai pesta ulang tahun “paling tak terlupakan,” dan ia meminta massa datang karena “presiden favorit kalian” akan berbicara. Pertanyaannya, apakah yang tak terlupakan itu akan menjadi kenangan persatuan, atau justru catatan bahwa bahkan ulang tahun negara pun bisa diperebutkan sebagai alat politik.

(Orbit dari berbagai sumber, 2 Juli 2026)