Budaya Kerja Alibaba di Era AI: DingTalk, Resign 70 Ribu Karakter
ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja Alibaba di era AI mendadak jadi sorotan setelah esai resign 70.000 karakter berjudul “Inside DingTalk” memantik kontroversi soal gaya manajemen. Pada 10 Juni 2026, Alibaba Partnership Committee turun tangan dan menyebut praktik yang digambarkan di esai itu “tidak pernah” sejalan dengan nilai budaya Alibaba.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)Esai “Inside DingTalk” ditulis mantan product manager DingTalk dan menyebar luas, memotret tekanan kerja dan pendekatan manajerial yang dianggap mengikis martabat karyawan. Respons publik bukan hanya soal satu tim, tetapi tentang apakah perusahaan raksasa masih memelihara “wolf culture” di tengah perlombaan AI.
Alibaba Partnership Committee merespons melalui pesan internal berjudul “Compassion, Loyalty, and Growth: The Essence of Alibaba Culture.” Mereka menegaskan, “dalam keadaan apa pun—seberapa mendesak pun—pendekatan manajemen seperti itu tidak boleh terjadi” di DingTalk.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)Yang membuat langkah ini tidak biasa adalah konteksnya: Alibaba belakangan menekankan efisiensi organisasi, daya saing bisnis, dan semangat kewirausahaan. Namun kali ini, perusahaan memilih “koreksi terbuka” yang terdengar seperti rem darurat terhadap budaya kerja yang dianggap melenceng.
Komite juga mengaitkan langsung isu budaya dengan era AI, dengan kalimat kunci: inovasi “tidak pernah” bergantung pada tekanan tinggi atau eksekusi mekanis, terutama di era AI. Pesannya jelas, Alibaba ingin mekanisme yang menginspirasi talenta, bukan kontrol yang makin keras.
Argumen itu masuk akal jika melihat perubahan sifat kompetisi teknologi. Di era internet cepat tumbuh, praktik seperti “996” sering dipakai sebagai mesin output, tetapi di era AI, terobosan lebih banyak lahir dari kreativitas, kolaborasi lintas tim, dan keberanian bereksperimen.
Di saat bersamaan, Alibaba sedang menjalankan transformasi organisasi yang berpusat pada AI. Pada 8 Juni 2026, Alibaba mengumumkan penggabungan Tongyi Large Model Business Unit dan Future Living Lab menjadi Token Foundry Business Unit di bawah CEO Eddie Wu.
Alibaba juga menunjuk Jingren Zhou sebagai Group Chief Scientist pertama dan membentuk AI Future Research Institute. Bo Zheng memimpin proyek seperti Happy Horse dan Happy Oyster yang diintegrasikan ke Token Foundry.
Rangkaian ini disebut sebagai penyesuaian besar ketiga di domain AI, setelah pembentukan ATH Business Group pada Maret 2026 dan Group Technology Committee pada April. Artinya, perusahaan sedang memusatkan koordinasi sumber daya teknologi inti, dari model hingga riset masa depan.
Namun sumber daya paling sulit direplikasi bukan sekadar komputasi atau model, melainkan manusia yang bisa konsisten menghasilkan inovasi. Karena itu, ketika komite menulis “people are the most valuable asset” dan “nurturing and empowering people is every leader’s duty,” itu bukan slogan, melainkan definisi ulang daya saing organisasi.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)DingTalk tampak seperti titik api, tetapi masalah sesungguhnya adalah kontradiksi lama: mengejar kecepatan sambil menjaga kemanusiaan. Jika budaya kerja mengandalkan ketakutan, perusahaan mungkin mendapat output jangka pendek, tetapi kehilangan kapasitas belajar yang dibutuhkan AI.
Koreksi dari Partnership Committee juga bisa dibaca sebagai sinyal politik internal: pusat ingin menertibkan “cara-cara lokal” yang kebablasan. Dalam organisasi besar, subkultur sering tumbuh lebih cepat daripada kebijakan, lalu meledak ketika ada narasi yang viral.
Di sisi lain, publik berhak skeptis karena pernyataan nilai tidak otomatis mengubah perilaku manajer. Ukuran keberhasilan bukan pada surat edaran, melainkan pada insentif, evaluasi kinerja, dan perlindungan nyata bagi karyawan yang bersuara.
Era AI membuat taruhan makin tinggi karena talenta terbaik punya mobilitas dan pilihan. Jika Alibaba sungguh percaya inovasi lahir dari “passion and creativity,” maka manajemen harus menghukum toksisitas sekeras mereka mengejar target.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)Kasus “Inside DingTalk” mengajarkan satu hal: di era AI, budaya kerja bukan urusan HR, melainkan infrastruktur inovasi. Alibaba sedang memilih narasi bahwa belas kasih, integritas, dan rasa hormat adalah mesin pertumbuhan, bukan penghambat.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah nilai itu akan turun menjadi KPI yang mengikat, atau berhenti sebagai retorika krisis. Jika manusia disebut aset paling berharga, maka cara memperlakukan manusia adalah strategi, bukan sekadar etika.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)