UE Bertemu Taliban Bahas Deportasi Warga Afghanistan dan Return Bermartabat

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Uni Eropa (UE) bertemu Taliban di Brussels untuk membahas layanan diplomatik dan “pemulangan bermartabat” warga Afghanistan, di tengah dorongan keras mempercepat deportasi migran Afghanistan dari Eropa. Pertemuan tertutup ini memunculkan pertanyaan tajam: apakah kebijakan migrasi dan keamanan UE kini mengalahkan komitmen hak asasi manusia, terutama ketika Afghanistan makin tidak aman bagi perempuan dan kelompok rentan? (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Delegasi Taliban bertemu staf Uni Eropa pada Selasa di Brussels dalam pertemuan tertutup yang berfokus pada layanan diplomatik dan “pemulangan bermartabat” warga Afghanistan ke negara yang terisolasi dan dilanda perang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Taliban, Abdul Qahar Balkhi, menyebut kunjungan itu “bersejarah” karena untuk pertama kalinya “Emirat Islam” melakukan pembicaraan dengan UE dan negara-negara UE di Brussels. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Afghanistan merupakan salah satu kelompok terbesar pencari suaka di UE. Sejumlah pemerintah di blok 27 negara ingin mempercepat dan menambah deportasi bagi pemohon yang ditolak atau yang melakukan kejahatan di negara tuan rumah. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Komisi Eropa menyatakan pertemuan itu dipimpin bersama Swedia dan dihadiri perwakilan dari 15 negara anggota UE. Diskusi disebut berfokus pada pelonggaran deportasi terhadap pelaku kriminal dan ancaman keamanan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Pertemuan berlangsung di lokasi yang tidak diungkap di ibu kota Belgia, tempat kantor pusat UE dan NATO berada. Belgia menegaskan pertemuan itu bukan bentuk pengakuan atau legitimasi terhadap Taliban karena tidak diselenggarakan di situs resmi pemerintah Belgia maupun institusi UE. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Menurut Balkhi, pembicaraan menyoroti “langkah membangun kepercayaan,” kehadiran diplomatik Taliban di UE, dan proses pemulangan bermartabat. Dari sisi UE, istilah “teknis” dan “return” terdengar administratif, tetapi dampaknya sangat politis karena menyentuh nyawa orang yang bisa dipulangkan ke situasi berbahaya. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Komisi Eropa menyebut pertemuan ini merespons tekanan mayoritas negara anggota. Sebanyak 20 dari 27 negara menandatangani surat pada Oktober yang meminta kebijakan migrasi lebih keras, termasuk peningkatan deportasi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Menteri Migrasi Belgia Anneleen Van Bossuyt, salah satu penyusun surat itu, menilai Eropa “tak bisa lagi menanggung kebuntuan” dan harus “merebut kembali kendali” atas migrasi dan keamanan. Ia juga mengungkap angka kepatuhan rendah: hanya 2% dari 22.870 warga Afghanistan yang diperintahkan kembali benar-benar pulang. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Di sisi lain, Afghanistan sedang menanggung gelombang pemulangan besar dari Pakistan dan Iran. Sekitar 3 juta warga Afghanistan kembali dalam setahun terakhir, dan banyak yang pada dasarnya dipulangkan secara paksa. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Arus balik itu memperparah bencana kemanusiaan yang sudah dipicu krisis pangan, krisis ekonomi, dan sanksi yang menghimpit. Dalam konteks ini, “pemulangan” bukan sekadar tiket pulang, melainkan pemindahan risiko dari Eropa ke Afghanistan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Kebijakan Taliban sejak merebut kekuasaan pada 2021 juga memperketat pembatasan hak, terutama bagi perempuan dan anak perempuan. Ada larangan pendidikan di atas sekolah dasar, pembatasan kerja di hampir semua sektor, dan aturan ketat mengenai pakaian di ruang publik. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

UE mengklaim tidak ada pengakuan formal terhadap Taliban. Namun, simbolisme pertemuan di Brussels tetap signifikan karena menjadi celah kecil dalam isolasi diplomatik Taliban, yang selama lima tahun terakhir diam-diam memperluas akses ke misi diplomatik di Eropa. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Delegasi Taliban mendapat visa dengan validitas wilayah terbatas setelah skrining keamanan. Mereka hanya memiliki 24 jam di Belgia dan tidak bisa masuk negara lain di zona Schengen. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Komisi Eropa menegaskan pertemuan ini hanya “pembicaraan teknis” soal pemulangan. Tetapi logika deportasi membutuhkan mitra di negara tujuan, dan di Afghanistan mitra itu adalah otoritas Taliban yang tidak diakui UE. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Komisi juga pernah mengirim misi ke Kabul pada Januari, dan masih memiliki staf di sana. Artinya, kontak sudah berjalan, tetapi pertemuan di Brussels menaikkan level visibilitas dan risiko reputasi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Kelompok hak asasi menilai pertemuan ini menggerus kewajiban HAM UE dan bisa membahayakan warga Afghanistan di Eropa maupun di Afghanistan. Peneliti Human Rights Watch, Fereshta Abbasi, menegaskan, “Keterlibatan apa pun dengan Taliban harus memprioritaskan perlindungan HAM dan akuntabilitas, bukan mendeportasi orang ke bahaya.” (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Abbasi juga menilai ada kontradiksi kebijakan. Ia menyebut negara-negara UE merusak kredibilitas ketika mengecam pelanggaran Taliban sambil bekerja sama untuk pemulangan paksa. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Malala Yousafzai, peraih Nobel Perdamaian, menyatakan “sangat terguncang” karena UE berbicara dengan Taliban. Ia menulis bahwa Eropa tidak boleh melegitimasi rezim yang bertanggung jawab atas salah satu krisis HAM terburuk di dunia, dan keterlibatan harus “dimulai dan diakhiri” dengan hak perempuan dan anak perempuan Afghanistan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Amnesty International juga melihat bahaya moral dan praktis. Eve Geddie mengingatkan adegan putus asa orang-orang, termasuk staf UE, yang melarikan diri dari Afghanistan masih segar, dan ia menyebut “tidak masuk akal” jika UE kini mendeportasi orang ke Afghanistan yang kian berbahaya. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Dari sudut pandang kebijakan publik, UE sedang berada di bawah tekanan politik untuk memperketat aturan migrasi. Reformasi terbaru mencakup peningkatan deportasi, kemungkinan “return hubs,” peningkatan kemampuan pengawasan domestik, kontrol perbatasan lebih ketat, dan keterlibatan dengan pemerintah Taliban. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Namun, “return bermartabat” sulit dibuktikan bila negara tujuan membatasi pendidikan, kerja, dan mobilitas perempuan secara sistemik. Jika martabat dimaknai sebagai keselamatan dan akses hak dasar, maka standar itu tampak bertabrakan dengan realitas Afghanistan saat ini. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Taliban sendiri membutuhkan bantuan kemanusiaan dan ingin mengurangi isolasi ekonomi-politik internasional. Karena itu, pertemuan teknis tentang deportasi dapat berubah menjadi mata uang legitimasi, meski UE menolak menyebutnya pengakuan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Pertemuan UE dan Taliban di Brussels memperlihatkan bagaimana isu migrasi Afghanistan, deportasi, dan keamanan Eropa kini bertemu dalam satu ruang negosiasi yang serba tertutup. Di atas kertas, UE bisa berkata ini bukan pengakuan, tetapi di lapangan, setiap mekanisme pemulangan membutuhkan kerja sama dengan otoritas yang dituding menindas warganya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)

Jika Eropa ingin tetap dipercaya sebagai penjaga norma HAM, ia harus menjawab pertanyaan yang tidak bisa disapu dengan istilah “teknis.” Apakah “kontrol migrasi” layak dibayar dengan risiko mengirim manusia kembali ke negara yang sedang runtuh dan menutup masa depan perempuan serta anak perempuan? (Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)