G1R1J Cegah DBD: Unhas Awasi Jentik di Desa Wanio
ORBITINDONESIA.COM – Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) kembali mengemuka sebagai strategi pencegahan DBD saat mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas mengedukasi warga Desa Wanio, Sidrap. Di Dusun Botto, pesan utamanya sederhana dan tajam: jentik diawasi tiap pekan, rantai penularan diputus dari rumah sendiri.
Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan sekadar urusan musim hujan, melainkan cermin rapuhnya tata kelola lingkungan rumah tangga. Nyamuk Aedes aegypti berkembang di wadah air yang sering dianggap remeh, dari bak mandi hingga barang bekas.
Di titik inilah G1R1J mengambil posisi penting karena memindahkan pusat kendali dari petugas kesehatan ke keluarga. KKN Unhas di Desa Wanio menegaskan pendekatan promotif-preventif, sekaligus mengaitkannya dengan SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera.
Kegiatan 25 Juli 2026 itu diikuti 30 warga dengan pola edukasi yang terukur melalui pre-test dan post-test. Metode ini penting karena perubahan perilaku tidak cukup diukur dari antusiasme, melainkan dari pemahaman yang benar dan kebiasaan yang terbentuk.
Materi yang dibawa mencakup penyebab, penularan, gejala, dan pencegahan DBD lewat 3M Plus. Video demonstrasi memperlihatkan cara mengenali jentik, memeriksa penampungan air, memakai abate secara tepat, dan menutup celah praktik yang selama ini keliru.
Penanggung jawab kegiatan, Sitti Zahwa Tsabitha, menekankan target perilaku yang spesifik dan realistis. “Dengan melakukan pemeriksaan jentik secara rutin setiap minggu dan menerapkan 3M Plus, masyarakat dapat berperan aktif dalam memutus rantai penularan,” ujarnya.
Di level kebijakan kesehatan, DBD memang lebih efektif ditekan lewat pengendalian vektor dibanding sekadar respons saat kasus melonjak. WHO dalam pedoman pengendalian vektor menekankan manajemen sumber perkembangbiakan dan keterlibatan komunitas sebagai kunci, bukan hanya fogging yang efeknya sementara.
Fogging sering memunculkan ilusi aman karena nyamuk dewasa mati, tetapi telur dan jentik tetap bertahan di wadah air. Jika warga tidak menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas, populasi nyamuk akan pulih cepat dan risiko DBD kembali naik.
Detail tentang abate juga krusial karena salah dosis bisa membuat warga merasa sudah “berbuat sesuatu” padahal tidak efektif. Apresiasi peserta yang mengaku baru paham cara penggunaan abate yang benar menunjukkan ada celah literasi kesehatan yang selama ini dibiarkan.
Namun, ukuran keberhasilan G1R1J bukan pada satu kali sosialisasi, melainkan pada disiplin mingguan yang konsisten. Tantangannya ada pada rutinitas rumah tangga, pembagian peran di keluarga, dan kemampuan desa menjaga pengawasan tanpa mengandalkan mahasiswa KKN.
G1R1J menarik karena memaksa kita jujur: DBD sering bertahan bukan karena kurangnya pengetahuan umum, tetapi karena kalah oleh kebiasaan. Banyak orang tahu 3M Plus, tetapi tidak menjadikannya jadwal tetap seperti membayar listrik atau belanja dapur.
Program KKN Unhas di Desa Wanio memperlihatkan arah yang benar, yakni mengubah warga dari “objek penyuluhan” menjadi pelaku pengawasan. Saat setiap rumah menjadi pos jumantik, desa sebenarnya sedang membangun sistem peringatan dini berbasis keluarga.
Meski begitu, gerakan ini berisiko menjadi slogan jika tidak ditopang mekanisme sosial yang mengikat. Desa perlu memikirkan insentif, pelaporan sederhana, atau kader penggerak yang memastikan pemeriksaan jentik menjadi norma kolektif, bukan kerja sukarela yang cepat lelah.
Di sisi lain, pendekatan video demonstrasi patut diapresiasi karena meminimalkan salah tafsir. Literasi visual sering lebih efektif daripada ceramah, terutama untuk membedakan jentik Aedes dan memahami titik-titik air yang luput dari perhatian.
G1R1J dan pencegahan DBD pada dasarnya adalah politik keseharian, yakni keputusan kecil yang diulang: menguras, menutup, mengubur, dan menambah perlindungan. Mahasiswa KKN Unhas sudah menyalakan percikan kesadaran di Dusun Botto, tetapi api perubahan hanya akan menyala jika warga menjaga ritmenya.
Pertanyaannya kini sederhana, tetapi menentukan: setelah KKN selesai, siapa yang memastikan satu rumah benar-benar punya satu jumantik yang bekerja setiap minggu. Jika jawabannya ada pada kita semua, maka pengendalian DBD bukan lagi proyek, melainkan budaya hidup sehat yang diwariskan.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)