Dimas Supriyanto: Saya Bersama Maudy Ayunda
Oleh Dimas Supriyanto, jurnalis senior
ORBITINDONESIA.COM - “Mindfulness” yang ditawarkan oleh si cantik Maudy Ayunda sebenarnya sudah lama dilakukan diam-diam oleh banyak orang, di sini dan di negeri sana - di negeri yang maju : memilih untuk tidak menenggak seluruh isi linimasa.
Sebagian warga negara maju memilih kembali ke Hp jadul tanpa Youtube, TikTok, Instagram dll. Hp untuk kontak dan kirim pesan saja.
Maudy jadi perbincangan karena menawarkan “diet berita”. “Mindfulness” - sebuah pengakuan personal yang berubah menjadi arena penghukuman. Perundungan yang bengis. Oleh banyak pihak Maudy dituding “tone deaf”. Dianggap tidak peduli. Membuta tuli.
Perlu dibedakan dua hal yang kerap tercampur dalam kegaduhan macam ini.
Pertama, kritik terhadap gagasan “menjauh dari berita” - demi menenangkan jiwa.
Kedua, serangan terhadap pribadi penggagasnya. Karena dia artis, public figure, sosok muda yang cemerlang. Alumni Standford University (S1) di Inggris dan S2 (Magister) di Oxford University di Amerika dan ditunjuk jadi Wakil Indonesia di forum G20. Dari keluarga klas menengah dan kecukupan.
Yang pertama sehat, bahkan perlu, dalam ruang publik yang berfungsi baik. Yang kedua, sungguh mencemaskan.
Cambridge Dictionary mendefinisikan “mindfullnes” sebagai praktik menyadari tubuh, pikiran, dan perasaan pada saat kini, yang diyakini membantu menciptakan rasa tenang. Intinya: mengajak kita semua hadir di momen sekarang, mengamati apa yang terjadi - tanpa buru-buru menghakimi atau bereaksi berlebihan terhadapnya.
Tidak membaca berita bencana, konflik, berita viral, bukan berarti tidak peduli pada sesama.
Seorang dokter di rumah sakit dengan barisan pasien yang mengantre tidak salah jika dia tidak tahu Menteri Keuangan sudah diganti, Presiden Prabowo ditempatkan di belakang saat foto bersama dan anak gunung Krakatau meletus.
Seseorang berhak berkata bahwa pesan tertentu kurang mempertimbangkan posisi sosial . “Diet Berita” dan “menjauh dari berita buruk" adalah keleluasaan (‘privilege’) yang tidak dimiliki mereka yang sedang berada di tengah bencana, kelangkaan BBM, atau kehilangan pekerjaan.
Itu koreksi yang pantas didengar, dan Maudy sendiri mendengarnya, lalu meralat pesannya tanpa berkelit.
Tetapi begitu perdebatan bergeser menjadi mengungkit posisinya di lingkaran pemerintah untuk merendahkannya, atau menjadikan pencapaiannya sebagai bahan olok-olok oleh sesama figur publik yang seolah lebih peduli, itu bukan lagi koreksi gagasan. Itu perburuan.
Dan perburuan digital punya logikanya sendiri: ia tidak mencari kebenaran, ia mencari korban. Semangat merendahkan - melecehkan - menjatuhkan dan nafsu menghabisi!
DULU, di ruang rapat redaksi tempat saya bekerja - tersedia puluhan koran, nasional daerah - bahkan luar negeri - juga tabloid dan majalah.
Sebagai wartawan piket, saya pernah bertanya kepada Wakil Pemimpin Redaksi: “Apakah Bapak baca semua?” Beliau menjawab. ”Ya, nggak. Memangnya saya vacuum cleaner? Harus menyedot semua?” elaknya.
Padahal - kita sama sama tahu - semua berita yang tersaji di media cetak sudah terseleksi, melewati gerbang editorial: diverifikasi, cek-ricek, self cencored - dipertimbangkan dampaknya sebelum sampai ke pembaca.
Tokh kelelahan akan kita rasakan juga jika harus membaca semua yang tersedia di meja.
Bandingkan dengan “berita” di hari ini, yang membanjir di berbagai kanal dan platform. Pada hari ini, linimasa tidak mengenal gerbang editorial. Yang sampai ke layar kita adalah arus informasi tanpa seleksi: video mentah tanpa konteks - opini yang menyamar sebagai fakta - kemarahan yang diproduksi ulang tanpa henti - agitasi, provokasi, sumpah serapah dan caci maki - mendorong keterlibatan, dan keterlibatan itu pada akhirnya menghasilkan uang bagi platform.
Tidak ada kewajiban moral untuk kita menyerap seluruh arus informasi itu!
Kita berhak menolak menjadi mesin penyedot (‘vacuum cleaner’) informasi dengan menggulir, “scrolling hape” dan tab sepanjang hari.
Memilah bukan berarti menutup mata. Membuta-tuli. Memilah adalah syarat agar kepedulian tetap punya energi untuk bertahan lama, bukan padam dalam sekali bakar.
ADA perumpamaan yang jarang dipakai tapi mengena. Masyarakat kita adalah masyarakat yang suka menonton. Apa saja ditonton, termasuk bencana, pertikaian dan kecelakaan lalu lintas. Hampir pasti dalam setiap kejadian seperti itu masyarakat segera berkerumun.
Pertanyaannya, berapa yang turun tangan, berapa yang menolong korbannya dan berapa yang hanya berdiri menonton?
Kini, bahkan dengan hape di tangan, para penonton bebas merekam, lalu membagikannya ke sosial media - mendadak jadi wartawan.
Itulah yang sering keliru ditafsirkan sebagai kepedulian di era digital: kehadiran pasif yang membesarkan algoritma, bukan tindakan yang meringankan penderitaan.
Hanya karena membaca beritanya - mengaupdate informasinya - lalu merasa peduli. Solider.
Tidak mengikuti berita bencana bukan berarti tidak peduli pada bencana. Sebaliknya, yang mengikuti perkembangan bencana, apakah mereka otomatis turun tangan menangani bencana?
Ironinya, mekanisme yang sama yang membuat orang berbondong menonton kecelakaan itu, jugalah yang membuat orang berbondong menyerang Maudy di media sosial kini.
Kerumunan yang menghukum - atas nama empati - sesungguhnya menjalankan pertunjukan moral yang sama performatifnya dengan yang mereka tuduhkan kepada korbannya.
Ini bukan pembelaan buta terhadap Maudy Ayunda. Ini keberatan terhadap sebuah mekanisme: linimasa yang mengubah setiap kekhilafan kata menjadi pengadilan tanpa hakim, tanpa masa banding, dan tanpa batas hukuman.
Maudy Ayunda adalah mangsa yang empuk. Dia artis multitalent yang cemerlang: penyanyi, aktris film, fotomodel.
Album rekamannya masuk dalam nominasi Album Pop Terbaik dan Album Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2015 dan mememangkan Indonesian Choice Awards 2015 sebagai “Female Singer of The Year”.
Film yang diperaninya “Perahu Kertas” juga menjadi film laris, dan dia ikut menyanyi di dalamnya. Dia tampil sebagai Ainun Remaja dalam film “Habibie Ainun 3” yang disutradarai Hanung Bramantyo.
Di media sosial, Maudy Ayunda memiliki 18,7 juta follower di instagram, 16,9 juta pengikut di TikTok: dan 3,1 juta follower di Facebook. BUBU Awards memberikan gelar padanya sebagai "Influencer Digital Terbaik" dan "Milenial Paling Berpengaruh" dari Style Awards.
Dalam penyelengaraan Forum KTT G20 Jakarta, Maret 2022 lalu - Maudy Ayunda ditunjuk menjadi juru bicara pemerintah Indonesia untuk presidensi KTT G20. Kedekatannya dengan pemerintah itu memicu berbagai pihak sebagai “antek rezim”.
Hari ini - sebagai public figur - Maudy menjadi target. Alumni Oxford University yang kurang berhati-hati memilih kata. Esok, sasaran itu bisa siapa saja yang berbicara jujur tentang kelelahannya sendiri.
Semoga kita yang waras menyadari bahwa yang dibutuhkan bukan lebih banyak kemarahan kolektif. Melainkan kesediaan membedakan kritik dari kerumunan, koreksi dari penghukuman.
Sebab kepedulian sejati, seperti yang ditunjukkan Maudy Ayunda sendiri saat meralat pesannya, selalu lebih tenang daripada suara kerumunan yang meributkannya. ***
NB : Foto foto di instagramnya menunjukkan dia ke lokasi bencana, mengajar di sekolah. Hadir di kawasan bencana banjir di Aceh dan Serang. Bagaimana dengan pihak penyerangnya yang merasa peduli?