Rooftopping Empire State Building: Lamaran Ekstrem Berujung Penangkapan

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Dua pemanjat nekat melakukan rooftopping di puncak Empire State Building, membentangkan spanduk, lalu diduga melangsungkan lamaran pada Rabu siang di New York City. Aksi tanpa tali pengaman itu berakhir dengan penangkapan dan sederet dakwaan serius, dari pembobolan hingga membahayakan keselamatan publik.

Aksi dimulai sekitar tengah hari ketika seorang pria dan seorang perempuan mencapai puncak menara Empire State Building sambil mengenakan masker. Mereka membentangkan spanduk hitam bertulisan putih, lalu berpegangan pada puncak menara hanya dengan ujung jari tanpa perlengkapan keselamatan yang terlihat.

Tulisan spanduk berbunyi, “When the power of love beats the love of power the world knows peace,” kutipan yang kerap dikaitkan dengan Jimi Hendrix. Polisi menyebut keduanya adalah Ivan Kuznetsov (32) dan Angelina Nikolau (33) dari East Orange, New Jersey, yang dikenal lewat konten rooftopping dan tampil dalam dokumenter Netflix.

Sumber penegak hukum mengatakan mereka diduga masuk melalui palka di lantai 103 yang biasanya dipakai untuk perawatan menara air. Lantai 103 tidak dibuka untuk publik, sementara lantai 102 adalah dek observasi, sehingga titik kritisnya adalah bagaimana mereka berpindah dari 102 ke 103.

Saksi Julie Morris mengaku melihat mereka “membuka gerbang dan naik,” lalu ia sempat mengira mereka diizinkan berada di sana. Turis Martin Mulgrew mempertanyakan motifnya, “Mengapa ada orang ingin melamar di puncak gedung?”

Peristiwa ini bukan sekadar kisah cinta, melainkan uji nyata celah keamanan pada ikon kota yang dikunjungi jutaan orang. Jika akses ke palka dan level teknis bisa ditembus, maka risiko tidak hanya jatuhnya pelaku, tetapi juga gangguan operasional dan kepanikan massal di area wisata.

NYPD mengerahkan helikopter dan unit elite Emergency Services Unit, lalu menutup area jalan di bawah gedung. Polisi juga merilis rekaman bodycam saat petugas dengan helm dan perlengkapan keselamatan mencapai mereka di puncak dan membawa keduanya ke tahanan menjelang pukul 13.00, tanpa laporan korban luka.

Momen paling mengundang perhatian terjadi ketika keduanya turun ke salah satu platform lebih rendah, lalu sang pria berlutut dan tampak melamar. Mereka berpelukan, sang perempuan membuka masker, dan keduanya berciuman, sementara unggahan media sosial diduga merekam adegan itu dari sudut pandang Nikolau.

Dari sisi teknis, sumber yang mengetahui situasi mengatakan antena sempat dimatikan karena potensi paparan gelombang radio. Mantan kepala insinyur siaran CBS New York, John Cleary, menegaskan menara itu adalah “live transmission tower” dengan energi listrik dan paparan RF, sehingga “banyak bahaya di atas sana” dan pekerjaan tersebut biasanya memerlukan pelatihan khusus.

Cleary juga menyebut palka akses umumnya terkunci, lalu ada level “JJ” sebelum palka berikutnya yang memerlukan kartu akses. Pernyataan ini menguatkan dugaan adanya kelalaian prosedural, akses tidak sah yang canggih, atau kombinasi keduanya yang perlu diaudit secara transparan.

Di sisi hukum, keduanya menghadapi daftar dakwaan panjang, termasuk burglary, reckless endangerment, criminal mischief, pelanggaran hukum lokal, possession of burglar’s tools, criminal tampering, criminal trespass, dan disorderly conduct. Dakwaan seperti reckless endangerment menandai bahwa negara memandang aksi ini sebagai ancaman keselamatan, bukan sekadar pelanggaran kecil.

Kasus ini juga mengikuti pola “aksi ekstrem untuk perhatian,” yang kerap dipicu ekonomi atensi di media sosial. Ketika konten berisiko tinggi menghasilkan klik, sponsor, dan reputasi, maka insentif sosial dapat mengalahkan nalar keselamatan, bahkan di ruang publik yang seharusnya steril dari aksi semacam ini.

Empire State Building menyatakan insiden “tidak sah” itu telah diselesaikan melalui koordinasi dengan NYPD dan “tidak ada bahaya” bagi penyewa maupun pengunjung dek observasi. Namun pernyataan aman itu tidak otomatis menghapus pertanyaan publik tentang standar pengamanan akses internal, khususnya pada lantai yang tidak dibuka untuk umum.

Lamaran di puncak Empire State Building menunjukkan bagaimana romantisme kini kerap dipaketkan sebagai tontonan, bukan pengalaman privat. Ketika cinta dijadikan konten, batas antara momen personal dan aksi berbahaya menjadi kabur, dan publik dipaksa ikut menanggung risikonya.

Spanduk bertuliskan “power of love” terdengar idealis, tetapi cara menyampaikannya justru memamerkan “love of power” versi baru, yakni kuasa atas perhatian massa. Dalam logika platform, yang menang bukan yang paling aman, melainkan yang paling ekstrem dan paling viral.

Di sisi lain, gedung ikonik adalah simbol kota sekaligus infrastruktur teknis yang hidup, bukan panggung bebas. Jika selebritas seperti Jared Leto bisa memanjat dengan izin pada 2023, maka pesan pentingnya jelas: akses legal dan prosedur keselamatan adalah pembeda antara perayaan dan pelanggaran.

Publik juga perlu menahan diri dari meromantisasi pelanggaran sebagai keberanian, karena normalisasi akan memicu peniru. Ketika satu aksi berakhir tanpa korban, itu bukan pembenaran, melainkan peringatan bahwa “keberuntungan” tidak bisa dijadikan standar kebijakan.

Empire State Building setinggi 1.454 kaki termasuk menara transmisi, dengan suhu sekitar 89 derajat saat kejadian, bukan tempat untuk menguji nyali tanpa perlindungan. Di puncak yang berangin dan penuh risiko RF, satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi tragedi besar.

Kisah ini mengingatkan bahwa keamanan publik dan integritas infrastruktur tidak boleh kalah oleh drama viral, seindah apa pun narasinya. Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya “bagaimana mereka bisa naik,” tetapi “mengapa kita terus memberi panggung pada bahaya yang dikemas sebagai cinta.” (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juli 2026)