Kampus dan Perjuangan Perempuan untuk Sukses Belajar
Penulis: Ira D. Aini
Apa pun profesinya, perempuan tetap harus berpendidikan. Sebab pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan bekal untuk berpikir jernih, mengambil keputusan dengan bijaksana, memahami hak dan tanggung jawab, serta mendidik generasi berikutnya. Profesi mungkin berubah sepanjang hidup, tetapi ilmu akan selalu menjadi cahaya yang menemani setiap langkah perempuan.
Saat masuk kuliah S2, seorang teman bertanya tentang latar belakang saya. Saya menjawab, saat ini saya fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh 2 anak yang masih usia balita. Kemudian dia bertanya lagi, "Terus, buat apa ambil S2?" Saya menjawab singkat, "Saya ingin belajar dan meng-upgrade ilmu." Saya pikir jawaban itu sudah cukup. Ternyata dia masih melanjutkan dengan nada heran, "Oh, saya kira karena mau jadi dosen atau guru." Saya hanya tersenyum dan membiarkan dia memiliki persepsinya sendiri.
Percakapan singkat itu membuat saya menyadari bahwa banyak orang masih memandang pendidikan hanya sebagai jalan menuju profesi tertentu. Seolah-olah kuliah harus memiliki tujuan ekonomi yang jelas: menjadi dosen, guru, manajer, atau mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Padahal, bagi saya sebagai perempuan, belajar adalah kebutuhan manusia.
Apa pun profesinya, perempuan tetap perlu berpendidikan. Bukan karena semua perempuan harus bekerja di ruang publik, tetapi karena setiap perempuan berhak bertumbuh sebagai manusia. Pendidikan tidak hanya melahirkan tenaga kerja. Pendidikan—menyitir Amartya Sen (1999)—meningkatkan agency, kemampuan seseorang membuat keputusan hidupnya sendiri. Dengan pendidikan yang baik, manusia diharapkan lebih sadar, lebih bijaksana, dan lebih mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Saya selalu menaruh hormat kepada perempuan yang terus memperjuangkan pendidikannya.
Saya tahu, bagi sebagian orang, kuliah hanyalah aktivitas akademik. Namun, bagi sebagian perempuan, terutama mereka yang telah menjadi ibu, setiap langkah menuju kampus adalah perjuangan yang tidak sederhana. Mereka harus membagi waktu, tenaga, pikiran, bahkan rasa bersalah yang sering kali datang dari berbagai arah.
Seorang teman pernah bercerita kepada saya. Setelah sempat menunda penyelesaian tesis karena melahirkan, dia kembali ke kampus untuk mengurus tahapan akademiknya. Karena bayinya masih menyusu dan belum bisa ditinggalkan, dia membawanya ke kampus. Alih-alih mendapatkan pengertian, seorang dosen justru berkata, "Bisa enggak anaknya dititip dulu sama neneknya?" Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi saya, kalimat tersebut menunjukkan betapa sering kita mengabaikan kenyataan hidup seorang ibu. Tidak semua ibu memiliki orang tua yang bisa membantu. Tidak semua bayi siap berpisah dari ibunya. Dan, tidak semua persoalan pengasuhan bisa diselesaikan hanya dengan berkata, "Titip saja."
Yang lebih menyedihkan, beban untuk menyesuaikan diri hampir selalu dibebankan kepada ibu. Seolah-olah menjadi ibu adalah urusan pribadi yang tidak layak dipertimbangkan dalam lingkungan akademik. Padahal, saat seorang perempuan tetap berusaha menyelesaikan studinya di tengah tanggung jawab mengasuh anak, dia sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia tidak sedang mencari belas kasihan tetapi sedang berjuang mempertahankan haknya untuk terus belajar.
Perempuan-perempuan seperti ini tidak membutuhkan penghakiman. Mereka membutuhkan empati. Mereka membutuhkan lingkungan yang memahami bahwa kehidupan tidak berhenti ketika seorang perempuan menjadi ibu.
Di balik komentar-komentar di atas, sejatinya mengendap apa yang dikenalkan Joan C. Williams (2014) sebagai konsep maternal wall bias, prasangka bahwa perempuan setelah jadi ibu dianggap kurang berkomitmen, kurang kompeten, atau seharusnya memprioritaskan keluarga sepenuhnya. Akibatnya, beban untuk menyesuaikan diri hampir selalu ditekankan kepada ibu, bukan kepada lingkungan yang seharusnya lebih inklusif.
Kampus seharusnya menjadi ruang yang memuliakan ilmu sekaligus memanusiakan manusia. Bukan hanya menuntut prestasi akademik, tetapi juga membangun budaya yang mendukung mahasiswanya dalam berbagai fase kehidupan. Dukungan itu tidak selalu harus besar. Fleksibilitas dalam pengurusan administrasi, ruang yang ramah bagi ibu dan anak, atau sekadar respons yang penuh pengertian sering kali sudah menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.
Mendukung pendidikan perempuan bukan hanya tentang membuka pintu masuk ke perguruan tinggi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan mereka dapat menyelesaikan pendidikannya dengan martabat, tanpa dipaksa memilih antara menjadi ibu atau menjadi pembelajar. Karena perempuan tidak berhenti menjadi manusia yang berhak bertumbuh ketika ia menjadi seorang ibu. Wallahu a’lam bissawab.