Kru Artemis III NASA Tanpa Astronaut Perempuan, Janji Dipertanyakan
ORBITINDONESIA.COM – Kru Artemis III NASA menjadi sorotan karena seluruhnya laki-laki, memicu debat tentang representasi dan janji “perempuan pertama di Bulan”. NASA menyebut pemilihan tidak politis, namun kritik datang dari mantan pejabat, pelaku industri, dan publik yang menunggu momen sejarah itu.
NASA bulan ini mengumumkan kru Artemis III beranggotakan empat orang, dan publik cepat menangkap satu kesamaan: semuanya pria. NASA menegaskan seleksi “bukan politik”, tetapi kekecewaan mengalir dari pihak yang menganggap Artemis sejak awal membawa janji simbolik.
Ironinya tajam karena nama “Artemis” diambil dari dewi Yunani, kembaran Apollo, dan program ini dulu dipromosikan sebagai jalan mengirim perempuan pertama berjalan di Bulan. Kini, janji itu terasa memudar setelah NASA menghapus frasa tersebut dari situsnya pada masa pemerintahan Trump periode kedua.
Emily Calandrelli, penulis sains yang pernah terbang ke luar angkasa bersama Blue Origin, menulis bahwa ia tidak melihat niat jahat, tetapi melihat bias yang dibiarkan lewat. Ia menilai tak ada yang menganggap komposisi empat pria sebagai isu besar yang perlu dikoreksi.
Jared Isaacman, Administrator NASA, membela keputusan lewat media sosial dan menekankan rekam jejaknya terbang dengan kru “50% perempuan”. Ia juga menyebut penasihat terdekatnya dan banyak insinyur terbaik yang ia kenal adalah perempuan.
Isaacman menambahkan bahwa NASA “secara teknis” pernah menugaskan kru perempuan untuk misi SpaceX Crew-10 pada 2025, walau ada dua pria dari negara mitra. Perwakilan NASA merujuk pada pernyataan Isaacman tersebut.
Data internal yang dikutip para pengkritik menunjukkan ada 37 astronaut aktif NASA yang siap ditugaskan, dan 15 di antaranya perempuan atau sekitar 41%. Dengan proporsi itu, kritik statistik muncul: peluang memilih nol perempuan untuk empat kursi dianggap tidak wajar.
Camille Bergin dari Star Catcher Industries menulis bahwa mengabaikan satu pun perempuan terasa “sangat disengaja” dalam iklim politik saat ini. Pernyataannya menautkan keputusan kru dengan arus kebijakan yang mengerem program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi.
Secara historis, perempuan masih minoritas di luar angkasa, yakni sekitar 120 dari hampir 800 orang yang pernah ke sana. NASA juga belum pernah menerbangkan misi dengan kru sepenuhnya perempuan, termasuk gabungan astronaut NASA dan mitra.
Upaya simbolik pernah dilakukan pihak komersial, seperti penerbangan kru perempuan Blue Origin pada 2025 yang melibatkan Katy Perry, Gayle King, dan Lauren Sánchez Bezos. Namun penerbangan itu justru memicu reaksi balik karena dianggap pamer kosong yang mengutamakan selebritas dan kekayaan.
Isaacman memberi alasan operasional bahwa banyak astronaut perempuan sedang berlatih untuk penugasan lain, seperti ISS atau misi Artemis berikutnya yang benar-benar menuju Bulan. Ia juga menekankan Artemis III hanya akan ke orbit Bumi untuk menguji pendarat Bulan, bukan mendarat.
Masalahnya, misi Artemis memiliki daya magnet publik jauh lebih besar dibanding penerbangan komersial atau misi ISS terbaru. Artemis II pada April mencetak rekor dan menjadikan Christina Koch perempuan pertama yang terbang mengitari Bulan, sehingga efek inspirasinya terasa luas.
Calandrelli menilai nilai simbolik Artemis mudah diukur dari perhatian publik terhadap Koch dibanding komandan perempuan di ISS. Ia berkata jumlah pengikut Koch menunjukkan betapa misi ini memengaruhi imajinasi anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia.
Di sisi lain, proses seleksi kru NASA tetap buram dan tidak menyediakan rincian penilaian yang transparan. Dalam sejarahnya, keputusan sering berada pada diskresi satu figur kunci, meski berkonsultasi dengan pihak lain.
George Abbey, “Astronaut Maker” era awal Space Shuttle, memilih Sally Ride dan Guion Bluford sebagai perempuan Amerika pertama dan astronaut kulit hitam pertama yang terbang. Ia memahami bobot keputusan itu, karena seleksi kru bukan sekadar teknis, tetapi juga pesan sosial.
Kini, kepala kantor astronaut biasanya memutuskan bersama sejumlah pejabat di Johnson Space Center. Seorang mantan astronaut mengatakan pemilihan juga dipengaruhi prinsip “giliran terbang”, serta faktor medis yang kadang tak diumumkan dan bisa menyingkirkan kandidat sementara.
Catatan masa lalu menunjukkan NASA pernah sengaja menjaga representasi. Lori Garver menulis dalam “Escaping Gravity” bahwa Administrator Dan Goldin membantu memastikan dari 65 misi Shuttle yang ia awasi, hanya lima yang semuanya kru pria kulit putih.
Garver bahkan mengaku pernah memohon agar penerbangan Shuttle terakhir tidak seluruhnya pria kulit putih. Bagi Garver, keputusan Artemis III mengecewakan meski ia tidak menuduh kru yang dipilih tidak layak atau keputusan itu partisan secara terang-terangan.
Kontroversi ini bukan soal “mengganti kualitas dengan kuota”, melainkan tentang janji publik yang dulu dijadikan bahan bakar politik dan dukungan anggaran. Ketika Artemis dipasarkan sebagai misi yang mengoreksi sejarah Apollo, simbol itu menjadi bagian dari kontrak moral NASA dengan masyarakat.
Jika NASA kini berkata seleksi murni teknis, maka NASA juga perlu menjelaskan mengapa simbol yang dulu dijual kini dianggap tak relevan. Transparansi proses, setidaknya pada level kriteria dan pertimbangan umum, akan meredakan kecurigaan bahwa keputusan “non-politik” justru lahir dari iklim politik.
Argumen bahwa Artemis III hanya uji orbit Bumi memang masuk akal secara operasional, tetapi tidak menghapus efek komunikasi publiknya. Justru karena perhatian global pada Artemis sangat besar, keputusan kru menjadi penentu siapa yang tampil sebagai wajah masa depan eksplorasi.
Di tengah pembatasan bahasa dan program DEI, absennya perempuan dalam kru Artemis III terbaca sebagai sinyal, bukan kebetulan. Sinyal itu bisa mematahkan narasi bahwa ruang angkasa adalah proyek bersama, bukan panggung yang kembali menyempit.
Namun, kritik juga perlu adil: kru yang dipilih adalah profesional dengan rekam jejak kuat, termasuk dua veteran NASA, astronaut Italia berpengalaman, dan astronaut kulit hitam yang menjalani penerbangan pertamanya. Persoalannya bukan merendahkan mereka, melainkan menuntut NASA konsisten pada makna “Artemis” yang dulu dikumandangkan.
Artemis III menunjukkan bagaimana satu daftar nama dapat mengubah rasa percaya publik terhadap sebuah program raksasa. Ketika proses seleksi tak transparan dan janji lama dihapus diam-diam, ruang tafsir publik otomatis dipenuhi kecurigaan.
NASA boleh mengatakan ini bukan politik, tetapi masyarakat berhak menilai dampaknya sebagai politik simbol. Pertanyaan yang tersisa sederhana: jika Artemis tidak lagi membawa janji perempuan pertama di Bulan, lalu nilai moral apa yang kini menjadi kompasnya?
Di era ketika sains butuh dukungan luas, representasi bukan hiasan, melainkan jembatan ke generasi berikutnya. Jika NASA ingin Artemis tetap menjadi cerita milik semua orang, ia harus berani menjelaskan, bukan sekadar meminta dipercaya. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)