Dimas Supriyanto: Jangan Islamkan Peci
Oleh Dimas Supriyanto, jurnalis senior
ORBITINDONESIA.COM - Selalu saja ada yang mempertanyakan, mengapa orang nonmuslim memakai peci? Mengapa dalam pelantikan pejabat negara, di istana - orang dari berbagai agama mengenakan peci hitam yang selama ini telanjur diasosiasikan dengan Islam?
Para penanya itu nampaknya tak membaca sejarah perjalanan bangsa. Masih saja ada yang mengurung sebuah simbol kebangsaan ke dalam batas-batas identitas agama.
Jangan Islamkan peci. Itulah risalah saya kali ini.
Peci hitam memang lekat dengan kehidupan Muslim di Indonesia. Ia kerap dikenakan ketika salat, menghadiri pengajian, atau mengikuti acara keagamaan. Dalam banyak kesempatan, peci menjadi penanda kesalehan dan identitas sosial.
Tetapi, kedekatan sebuah benda dengan praktik keagamaan tidak otomatis menjadikannya milik eksklusif agama tersebut. Bahkan di kawasan non muslim pun seperti para petani di Tapanuli juga pakai peci saat ke kebun dan menghadiri acara.
Sejarah peci di Nusantara sebagai penutup kepala ini adalah sejarah panjang dalam pergaulan antarmasyarakat, perdagangan, dan pertukaran kebudayaan. Berbagai bentuknya dikenal dengan nama dan karakter berbeda, seperti kopiah, tarbus, fez, dan kufi.
Istilah peci sendiri kerap dikaitkan dengan bahasa Belanda "petje" - bentuk kecil dari "pet", yang berarti topi.
Meski asal-usul istilah dan perjalanan bentuknya masih memerlukan kehati-hatian historis, satu hal jelas: penutup kepala tidak mengenal batas agama secara mutlak.
Di tangan Bung Karno, peci memperoleh dimensi politik dan kebangsaan. Pada masa pergerakan nasional, ketika kaum terpelajar pribumi berhadapan dengan ukuran-ukuran kepantasan yang dibentuk oleh kolonialisme, peci hitam tampil sebagai pilihan simbolis.
Peci bukan sekadar pelengkap busana, melainkan pernyataan tentang harga diri: menjadi Indonesia tidak mengharuskan seseorang meniru penampilan orang Eropa.
Ir. Sukarno mengenakan peci sebagai bagian dari upayanya membangun identitas nasional yang tidak tunduk kepada ukuran penjajah. Menyandang nama Jawa dia tak pernah sekalipun memaki baju tradisi Jawa seperti presiden penerusnya.
Dia dikenal dengan jas dan empat kantong tempel atau kemeja putih baju safari pendek maupun panjang. Bukan busana tradisi milik suku tertentu. Tekad besarnya mempersatukan Nusantara dalam satu republik membuat Bung Karno enggan menempatkan baju tradisi tertentu. Kemudian peci hitam itu.
Peci hitam Bung Karno memperoleh kedudukan baru sebagai simbol perjuangan, kesetaraan, dan martabat bangsa: sebuah benda yang hidup dalam lingkungan budaya tertentu dapat memperoleh makna yang lebih luas ketika sejarah membawanya memasuki ruang kebangsaan.
Peci tidak kehilangan kedekatannya dengan umat Islam, tetapi maknanya berkembang melampaui batas komunitas tersebut.
Presiden-presiden Indonesia setelah Sukarno meneruskan tradisi penggunaan peci hitam dalam berbagai acara kenegaraan, termasuk pelantikan pejabat.
Ketika seorang pejabat nonmuslim mengenakannya, ia tidak sedang menyatakan perpindahan agama. Ia sedang mengikuti tata busana kenegaraan yang telah menjadi bagian dari tradisi politik Indonesia.
Menyebut pemakaian peci oleh orang nonmuslim sebagai sesuatu yang janggal sesungguhnya mempersempit makna kebangsaan. Ada banyak nama tokoh non muslim yang menjadi bapak pendiri bangsa ini. Founding Father's kita.
Bangsa Indonesia dibangun melalui perjumpaan banyak kebudayaan dan keyakinan.
Tentu, kita tidak perlu menafikan kenyataan bahwa peci hitam mempunyai asosiasi kuat dengan Islam. Tapi mengakui akar budaya sebuah simbol berbeda dengan memonopoli maknanya.
Pancasila memberikan ruang bagi kehidupan beragama, sekaligus menegaskan bahwa kewarganegaraan tidak ditentukan oleh keseragaman identitas.
Dalam kerangka itu, peci hitam dapat menjadi pengingat bahwa simbol yang akrab bagi satu kelompok juga bisa menjadi milik bersama tanpa harus menghapus asal-usulnya.
Umat Islam boleh mengenakannya sebagai bagian dari ekspresi religius.
Orang nonmuslim pun boleh mengenakannya sebagai bagian dari tradisi kebangsaan. Makna personal dan makna publik dapat berjalan berdampingan.
Bung Karno pernah menggunakan peci untuk menegaskan bahwa bangsa yang merdeka berhak menentukan simbol dan martabatnya sendiri.
Maka - jangan sampai, setelah kemerdekaan diperjuangkan dengan susah payah, kita justru mempersempit simbol itu melalui pertengkaran identitas.
Seharusnya kita sudah cukup dewasa untuk membedakan identitas agama dari identitas bangsa.
Peci hitam bukan monopoli agama. Ia telah menjadi bagian dari sejarah kebangsaan Indonesia.
Jangan Islamkan peci, dan jangan pula cabut akar sejarahnya dari kebudayaan yang membesarkannya. Biarkan ia menjadi penutup kepala yang sederhana, tetapi menyimpan pesan besar: kita boleh berbeda keyakinan tanpa harus berbeda bangsa. ***