Survei RBC: Anggaran AI Perusahaan Melejit, OpenAI Unggul Jauh
ORBITINDONESIA.COM – Survei RBC Capital Markets soal anggaran AI perusahaan menemukan sinyal yang berlawanan dari ketakutan pasar: biaya token dinilai “terkendali” dan belanja AI justru akan naik. Di saat yang sama, OpenAI lewat ChatGPT disebut menjadi layanan berbasis model AI yang paling banyak dipakai, meninggalkan pesaing seperti Anthropic.
Setiap sekitar enam bulan, analis teknologi RBC seperti Rishi Jaluria mensurvei lebih dari 100 CIO dan pemimpin teknologi untuk membaca arah belanja TI korporasi. Anggaran tahunan ini bernilai miliaran dolar, sehingga perubahan kecil pun berdampak besar pada pasar perangkat lunak dan komputasi.
Jaluria bukan pemandu sorak AI, karena ia berulang kali mengingatkan agar perusahaan berhati-hati mengadopsi AI. Karena itu, ketika ia menulis bahwa belanja AI “menguat luas” dan mulai beralih dari uji coba ke produksi, pesannya terasa lebih kredibel.
Terjemahan inti temuan RBC berbunyi tegas: perusahaan sudah mengeluarkan banyak uang untuk AI dan bersedia mengeluarkan lebih banyak lagi. Jaluria menulis, “Kami pulang dengan rasa terdorong oleh momentum belanja enterprise yang luas menuju paruh kedua 2026, dengan adopsi AI mulai bertransisi dari pilot ke produksi.”
Kejutan pertama menyasar narasi populer tentang “tagihan token” yang membengkak sebagai sakit kepala terbesar AI. RBC justru menemukan hampir 9 dari 10 responden menilai anggaran token masih bisa dikelola, meski hampir separuh sudah melampaui rencana belanja awal.
Alih-alih panik memangkas biaya, mayoritas perusahaan berencana menambah belanja token di masa depan. Ini masuk akal jika harga token memang cenderung turun, karena penurunan harga membuat imbal hasil investasi AI tampak lebih menarik.
Kejutan kedua adalah dominasi OpenAI yang bukan sekadar unggul, melainkan “melibas” pesaing. Sebanyak 57% responden menyebut ChatGPT sebagai layanan AI berbasis model yang paling sering digunakan, sedangkan Anthropic Claude hanya 12%.
OpenAI juga memimpin persepsi kinerja, dengan 44% responden menilai OpenAI sebagai penyedia model berkinerja tertinggi, dibanding 24% untuk Anthropic. Temuan ini penting karena IPO OpenAI maupun Anthropic bergantung pada adopsi bisnis yang berkelanjutan dan sangat besar.
Narasi ketiga yang diuji adalah “SaaSpocalypse”, ramalan bahwa AI akan menghancurkan belanja SaaS karena perusahaan mengganti banyak aplikasi dengan chatbot. Survei ini belum melihatnya, karena mayoritas responden justru memperkirakan belanja software meningkat dan tidak satu pun memperkirakan turun.
Yang lebih tajam, perusahaan yang menaikkan belanja AI tampaknya tidak membiayainya dengan “mengosongkan” tumpukan software lama. Artinya, untuk sementara, AI lebih berperan sebagai lapisan tambahan daripada pengganti total, sehingga total belanja TI berpotensi membesar.
Temuan berikutnya menyiratkan kedewasaan adopsi: AI enterprise mulai lulus dari fase eksperimen. Lebih dari setengah responden menyebut AI sudah berjalan di produksi, sementara 35% menargetkan produksi dalam enam bulan.
Perubahan cepat juga terlihat pada cara membeli AI, yakni model harga hibrida yang menggabungkan lisensi kursi (seat) dengan harga berbasis penggunaan. Untuk pasar enterprise yang biasanya lamban mengadopsi skema baru, pergeseran preferensi ini tergolong sangat cepat.
Grafik paling mencolok dalam laporan RBC justru yang paling sederhana: lingkaran biru penuh dengan angka 100%. Itu berarti 100% responden mengalokasikan anggaran untuk AI dan proyek large language model.
Dari kelompok itu, 91% menyatakan mereka membuat anggaran AI yang benar-benar baru, bukan sekadar memindahkan pos belanja lama. Ini menandakan siklus investasi AI sedang dipercepat oleh keputusan anggaran, bukan sekadar tren wacana.
Jika token dianggap “terkendali” meski banyak yang sudah over budget, maka masalah utamanya bukan sekadar biaya, melainkan tata kelola. Perusahaan tampaknya menerima pembengkakan awal sebagai “biaya belajar” demi mengejar keunggulan operasional dan kecepatan inovasi.
Dominasi OpenAI dalam penggunaan dan persepsi performa juga mengandung risiko penguncian vendor (vendor lock-in). Ketika 57% mengandalkan ChatGPT sebagai layanan utama, daya tawar pelanggan bisa melemah jika alternatif belum cukup matang atau belum teruji di produksi.
Gagalnya “SaaSpocalypse” memberi pesan ganda: AI belum menggantikan SaaS, tetapi bisa membuat organisasi menumpuk alat tanpa disiplin arsitektur. Tanpa strategi konsolidasi, perusahaan dapat berakhir dengan biaya ganda—membayar SaaS lama sekaligus token dan integrasi AI.
Namun, pergeseran dari pilot ke produksi menunjukkan tekanan nyata dari sisi bisnis, bukan sekadar eksperimen teknis. Begitu AI masuk produksi, pertaruhannya berubah menjadi reliabilitas, keamanan data, kepatuhan, dan metrik ROI yang bisa diaudit.
Preferensi harga hibrida mengisyaratkan perusahaan ingin kepastian anggaran sekaligus fleksibilitas penggunaan. Ini juga sinyal bahwa pembelian AI akan semakin mirip pembelian utilitas, sehingga transparansi metering dan kontrol konsumsi menjadi medan kompetisi baru.
Survei RBC membaca satu hal yang tegas: anggaran AI perusahaan menguat, adopsi bergerak ke produksi, dan OpenAI memimpin jauh dalam penggunaan serta persepsi kinerja. Di atas kertas, ini kabar baik bagi ekosistem AI, vendor model, dan pasar perangkat lunak yang belum runtuh oleh “SaaSpocalypse”.
Namun, euforia belanja bisa menjadi jebakan jika organisasi tidak menata tata kelola, mengendalikan konsumsi, dan mencegah penumpukan alat. Pertanyaan kuncinya kini bukan “apakah AI akan dipakai”, melainkan “siapa yang paling disiplin mengubah anggaran baru itu menjadi nilai bisnis nyata”. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Juli 2026)