Get Fit Get Lit Prudential: Literasi Finansial dan Iklim Anak
ORBITINDONESIA.COM – Get Fit Get Lit (GFGL) Prudential Singapore menggandeng South East CDC untuk mengajar literasi finansial anak, sekaligus ketahanan iklim dan kesehatan. Program ini lahir saat suhu naik dan risiko dengue kembali jadi kata kunci yang makin sering terdengar di Singapura.
Di kota tropis yang kian panas, isu kesehatan publik seperti penyakit tular vektor menjadi lebih mudah terasa dalam rutinitas keluarga. Artikel ini menyinggung dengue sebagai contoh nyata bagaimana faktor lingkungan bisa langsung memukul aktivitas harian.
Di saat yang sama, anak usia 7–12 mulai berhadapan dengan uang saku, iklan, dan dorongan konsumsi digital. Tanpa bekal “Earn, Save, Spend, Donate”, keputusan kecil bisa membentuk kebiasaan besar yang sulit dikoreksi saat remaja.
GFGL muncul sebagai respons yang menggabungkan dua kecemasan publik: literasi finansial anak dan adaptasi iklim-kesehatan. Peluncuran di Siglap Community Club juga menegaskan model “sekolah–komunitas–korporasi” sebagai jalur distribusi edukasi.
Prudential dan South East CDC menargetkan 3.000 anak hingga akhir 2027, dengan dukungan jaringan hingga 15 sekolah dan mitra komunitas. Nama sekolah yang disebut, seperti CHIJ (Katong) Primary dan St. Gabriel’s Primary School, menunjukkan fokus wilayah yang terukur, bukan sekadar kampanye umum.
Program ini mengandalkan relawan dari karyawan dan 5.400 financial representatives Prudential, sebuah kekuatan logistik yang jarang dimiliki organisasi non-profit. Namun, ketergantungan pada relawan juga berarti kualitas pengajaran sangat ditentukan oleh pelatihan fasilitator dan konsistensi modul.
GFGL dibangun dari fondasi Cha-Ching milik Prudence Foundation, yang disebut telah menjangkau lebih dari 20.000 anak sejak 2018. Angka ini memberi bukti rekam jejak, meski artikel tidak memaparkan evaluasi dampak seperti perubahan perilaku menabung atau pemahaman risiko kesehatan.
Secara desain, penggabungan kelas dan aktivitas interaktif membuat literasi uang lebih mudah melekat karena terkait pengalaman sehari-hari. Menautkannya dengan iklim dan kesehatan juga logis, sebab risiko seperti dengue sering memerlukan tindakan sederhana yang konsisten, mirip disiplin menabung.
Di sisi lain, istilah “ketahanan iklim” mudah menjadi jargon jika tidak diterjemahkan ke indikator yang bisa diukur pada anak. Program akan lebih kuat bila publik bisa melihat metrik, misalnya peningkatan pengetahuan dasar, kebiasaan pencegahan, atau praktik finansial sederhana di rumah.
Kemitraan ini menunjukkan CSR yang bergerak dari slogan ke desain program, karena menyasar usia pembentukan kebiasaan. Kutipan CEO Prudential Singapore, Chan San San, menekankan “kebiasaan awal” sebagai penentu keputusan masa depan.
Namun, ada pertanyaan etis yang perlu dijaga: ketika perusahaan asuransi mengajar anak soal uang, batas antara edukasi dan pencitraan harus jelas. Transparansi materi, larangan promosi produk, dan pengawasan sekolah menjadi pagar agar literasi finansial tidak berubah menjadi pemasaran dini.
Peran South East CDC penting sebagai penyeimbang, karena mereka mengoordinasikan sekolah dan mitra seperti TRANS Family Service Centre dan Thye Hua Kwan Family Service Centre. Kutipan Mayor Dinesh Vasu Dash menempatkan program sebagai “hands-on learning” yang menautkan kesehatan, finansial, dan tanggung jawab lingkungan.
Dari kacamata kebijakan, GFGL menggambarkan arah baru pendidikan publik: keterampilan hidup lintas isu, bukan mata pelajaran yang terkotak. Ini relevan untuk wilayah perkotaan yang menghadapi biaya hidup, cuaca ekstrem, dan risiko penyakit yang saling berkaitan.
Jika program ingin benar-benar tajam, ia perlu mengakui ketimpangan: tidak semua anak punya uang saku, ruang belajar nyaman, atau dukungan keluarga yang sama. Literasi yang efektif bukan hanya mengajar “cara mengelola”, tetapi juga memberi empati dan strategi bagi kondisi yang serba terbatas.
GFGL memperlihatkan bahwa literasi finansial anak dan adaptasi iklim-kesehatan bisa diajarkan bersama, karena keduanya bertumpu pada kebiasaan kecil yang diulang. Target 3.000 anak terdengar realistis, tetapi dampak jangka panjang baru terlihat jika ada evaluasi terbuka dan standar perlindungan dari bias promosi.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah program seperti ini membentuk anak yang “tahu” konsep, atau anak yang “mampu” mengambil keputusan saat panas ekstrem, wabah dengue, dan tekanan konsumsi datang bersamaan. Di situlah pendidikan komunitas diuji, bukan pada seremoni peluncuran, melainkan pada perubahan perilaku yang bertahan. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)