GM dan Ford Incar Kontrak Militer dan Bisnis Energy Storage
ORBITINDONESIA.COM – GM dan Ford kini mencari pertumbuhan baru lewat kontrak militer dan bisnis energy storage system (ESS), ketika penjualan kendaraan baru melambat dan proyek mobil listrik membakar miliaran dolar. Pertarungan dua raksasa Detroit itu bergeser dari showroom ke medan tempur dan jaringan listrik, dengan target pasar yang kecil namun strategis untuk diversifikasi.
Terjemahan ringkas artikel sumber: General Motors dan Ford mencari area pertumbuhan baru, termasuk mengejar kontrak militer dan masuk ke bisnis penyimpanan energi. Dua pasar ini diperkirakan hanya menjadi porsi kecil dari fokus dan pendapatan dalam waktu dekat, tetapi dapat membantu diversifikasi saat penjualan kendaraan baru melambat dan kapasitas pabrik baterai menganggur.
Artikel menekankan bahwa Ford mengikuti jejak GM dalam kontrak pertahanan setelah pemerintah AS mendorong perusahaan domestik membantu militer lewat keunggulan manufaktur massal. Di saat yang sama, keduanya masuk ESS karena teknologi dasarnya mirip baterai EV, sementara kebutuhan listrik naik akibat biaya energi konsumen dan ledakan data center.
Di balik manuver ini ada luka finansial yang belum sembuh dari strategi elektrifikasi yang terlalu optimistis. Ford dan GM disebut telah kehilangan miliaran dolar pada inisiatif EV, sehingga kini mencari “verticals” baru untuk mengisi kapasitas yang sebelumnya disiapkan bagi baterai kendaraan listrik.
Analis Morningstar David Whiston menyebut mereka “mencari vertikal baru,” dan energi masuk akal karena ada kapasitas EV yang kini tidak terpakai. Alih-alih menjual pabrik, kapasitas itu bisa dialihkan untuk menangkap peluang dari boom data center dan kebutuhan stabilitas grid.
Secara pasar, riset Global Market Insights memperkirakan pasar ESS global tumbuh dari US$668,7 miliar pada 2024 menjadi US$5,12 triliun pada 2034. Ekspansi di AS diproyeksikan signifikan, seiring “kebutuhan listrik fundamental” meningkat, kata Devon Wilson dari LG Energy Solution.
Bagi GM, bisnis energi belum menawarkan ESS “milik GM” secara penuh, tetapi unit militernya sudah punya produk terkait, dan JV Ultium Cells di Tennessee memproduksi sel untuk LG Energy Solution untuk penyimpanan. GM juga menggandeng Redwood Materials untuk memakai ulang baterai EV besar sebagai ESS, serta menjual solusi pengisian EV dan ESS residensial lewat unit energinya.
GM juga menyiapkan lompatan teknologi lewat pengembangan baterai sodium-ion bersama startup Peak Energy di Denver. Kurt Kelty, VP baterai dan keberlanjutan GM, menilai performa sel yang dikembangkan “tremendous” dan bisa membentuk ulang penyimpanan energi skala jaringan.
Ford bergerak lebih eksplisit dengan rencana belanja US$2 miliar untuk meluncurkan bisnis energi. Ford akan mengonversi pabrik baterai Kentucky yang dibangun bersama SK On menjadi produksi unit ESS pada akhir 2027, dan menyiapkan ruang produksi sel untuk penyimpanan residensial di Marshall, Michigan.
Morgan Stanley melalui analis Andrew Percoco menilai investor melihat nilai pada bisnis ESS Ford, bahkan menyebutnya pendorong profitabilitas yang “kurang diapresiasi” bagi segmen Model e. Ford sendiri memandu rugi US$4 miliar pada 2026 untuk Model e, sebelum impas pada 2029, dengan titik balik saat ESS mulai beroperasi pada 2027.
Di sisi pertahanan, GM lebih dulu mapan karena menghidupkan kembali unit GM Defense pada 2017 setelah vakum 14 tahun. GM baru-baru ini mendapat kontrak Angkatan Darat AS untuk membangun Infantry Squad Vehicles (ISV) yang berpotensi melampaui US$1 miliar tergantung alokasi Kongres, meski tetap kecil dibanding pendapatan kuartalannya yang mencapai US$48 miliar.
GM menargetkan pendapatan pertahanan 2026 mendekati US$700 juta dan membidik hasil positif pada basis EBIT tahun ini. CEO Mary Barra juga menyebut kerja sama dengan Lockheed Martin untuk memperkuat kecepatan, skala, dan ketahanan basis industri pertahanan.
Ford lebih tertutup soal proyek pertahanannya di AS, namun mengumumkan kolaborasi dengan General Dynamics Land Systems dan Ricardo untuk bersaing dalam program Light Mobility Vehicle Kementerian Pertahanan Inggris. CEO Jim Farley menegaskan ambisi menawarkan keunggulan komersial Ford kepada pemerintah AS, sambil mengaku masih membahas proyek pertahanan tambahan.
Langkah GM dan Ford ke kontrak militer dan ESS bukan sekadar ekspansi, melainkan koreksi strategi setelah euforia EV tidak sesuai jadwal. Ketika permintaan EV melambat dan margin tertekan, diversifikasi menjadi cara “membeli waktu” tanpa mematikan investasi pabrik yang telanjur dibangun.
Namun, narasi “pasar baru” ini punya batas keras: skala otomotif terlalu besar untuk digeser oleh bisnis tambahan dalam waktu singkat. Whiston mengingatkan sulit “menggerakkan jarum” secara masif, sehingga ESS dan pertahanan lebih realistis dibaca sebagai penyangga risiko, bukan mesin utama pertumbuhan.
Di sektor ESS, peluangnya nyata karena data center dan elektrifikasi ekonomi menuntut pasokan stabil, tetapi kompetisinya juga brutal dan berbasis biaya. Jika GM dan Ford hanya memindahkan kapasitas tanpa keunggulan teknologi dan rantai pasok, mereka bisa mengulang pola EV: belanja besar, balik modal lambat.
Di sektor pertahanan, peluang kontrak bisa bertambah karena pemerintah ingin manufaktur domestik dan mempercepat masuknya pemain baru. Tetapi ketergantungan pada anggaran politik, siklus pengadaan, dan sensitivitas geopolitik membuat pendapatan pertahanan sulit diprediksi, serta berisiko mengubah citra merek menjadi lebih politis.
Yang menarik, dua arah ini—grid dan battlefield—memperlihatkan satu hal: manufaktur massal adalah “senjata” utama Detroit. Pertanyaannya bukan apakah mereka bisa memproduksi, melainkan apakah mereka bisa membangun model bisnis yang tahan fluktuasi permintaan, regulasi, dan teknologi.
GM dan Ford sedang menulis bab baru: dari penjual mobil menjadi pemasok solusi energi dan mitra industri pertahanan. Ini bukan perubahan identitas seketika, tetapi strategi bertahan di era ketika penjualan kendaraan tidak lagi menjanjikan pertumbuhan mudah.
Jika ESS dan kontrak militer berhasil, mereka mendapat diversifikasi dan pemanfaatan kapasitas yang sebelumnya menganggur. Jika gagal, publik akan melihatnya sebagai bukti bahwa transisi industri tidak bisa diselesaikan hanya dengan memindahkan pabrik dari satu produk ke produk lain.
Pada akhirnya, pertaruhan ini menguji satu hal yang lebih besar dari persaingan GM versus Ford: apakah industri otomotif Amerika mampu menemukan relevansi baru tanpa kehilangan fokus pada bisnis intinya. Dan kita patut bertanya, saat perusahaan mobil masuk ke listrik dan perang, siapa yang paling diuntungkan—konsumen, negara, atau korporasi.
(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)