Mengungkap Jejak Manusia Prasejarah di Bangka Selatan

Kulul Sari, Ketua Lembaga Adat Melayu Negeri Junjung Behaoh.

Kulul Sari, Ketua Lembaga Adat Melayu Negeri Junjung Behaoh.

Culture

Oleh Kulul Sari, Ketua Lembaga Adat Melayu Negeri Junjung Behaoh

ORBITINDONESIA.COM — Para ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali melakukan penelitian lanjutan di Desa Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada 25–27 Agustus 2026.

Penelitian ini kembali mengungkap indikasi menarik mengenai jejak kehidupan manusia pada masa lalu di kawasan tersebut. Jejak kehidupan manusia masa lalu di Bangka Belitung ternyata tidak hanya ditemukan di kawasan Bukit Batu Kepale, tetapi juga berpotensi tersebar di sejumlah lokasi lain di sekitarnya.

Dalam penelitian kali ini, tim menemukan indikasi jejak aktivitas manusia masa lalu di kawasan Aik Sibut, yang berada di kaki Bukit Nenek dan tidak jauh dari kawasan Bukit Batu Kepale.

Penelitian tersebut melibatkan tujuh ilmuwan dan peneliti dari BRIN serta sejumlah perguruan tinggi. Mereka adalah Adhi Agus Oktaviana, S.Hum., Ph.D. (BRIN), Sigit Eko Prasetyo, S.Hum., M.Hum. (BRIN), Dr. Budi Agung Sudarmanto, S.S., M.Pd. (BRIN), Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Evi Maryanti, M.Si. (Universitas Bengkulu), Ari Mukti Wardoyo Adi, M.A. (Universitas Jambi), serta Dr. Moh. Mualliful Ilmi, S.Si., M.Si. (BRIN) yang bertindak sebagai ketua tim penelitian.

Tim melakukan penelusuran terhadap sejumlah lokasi yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan aktivitas manusia pada masa lalu. Beberapa lokasi telah menjadi sasaran yang direncanakan untuk diteliti. Namun, karena keterbatasan waktu, tim baru dapat menyusuri salah satu titik, yakni kawasan Aik Sibut.

Penelusuran di kawasan tersebut menghasilkan sejumlah temuan yang menarik perhatian para peneliti. Di Aik Sibut ditemukan fragmen gerabah serta sejumlah tinggalan lainnya yang mengindikasikan adanya aktivitas manusia pada masa lampau.

“Jejak manusia masa lalu di Desa Gudang ini ternyata tidak hanya terfokus pada Bukit Batu Kepale, tetapi jejak itu juga ada di Aik Sibut, kaki bukit yang berjarak tidak jauh dari Bukit Batu Kepale,” jelas Dr. Moh. Mualliful Ilmi.

Menurutnya, keberadaan temuan di Aik Sibut memberikan gambaran bahwa Desa Gudang memiliki potensi arkeologis yang lebih luas. Bukit Batu Kepale tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya titik keberadaan jejak manusia masa lalu. Kawasan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari bentang arkeologis yang memiliki keterkaitan antara satu lokasi dan lokasi lainnya.

“Dugaan kami, Bangka ini sebagai penghubung Sumatra Selatan dengan daerah lainnya,” lanjutnya.

Salah satu bukti yang ditemukan dalam penelusuran di Aik Sibut adalah fragmen gerabah. Dalam penelitian arkeologi, gerabah merupakan salah satu tinggalan penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai aktivitas manusia pada masa lalu.

Fragmen gerabah, misalnya, dapat berkaitan dengan aktivitas bermukim, mengolah makanan, menyimpan bahan makanan, maupun berbagai kegiatan sehari-hari lainnya. Namun, untuk mengetahui secara lebih pasti usia dan fungsi temuan tersebut, diperlukan kajian lebih lanjut.

Selain gerabah, tim juga menemukan sejumlah tinggalan lain di sekitar kawasan Aik Sibut. Berbagai temuan tersebut masih membutuhkan penelitian dan analisis lebih mendalam untuk memastikan usia, fungsi, serta keterkaitannya dengan kehidupan manusia pada masa lalu.

Temuan tersebut sekaligus memperkuat dugaan bahwa kawasan sekitar Bukit Batu Kepale dan Aik Sibut pernah menjadi ruang aktivitas manusia pada masa lampau. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa jejak serupa masih dapat ditemukan di kawasan yang lebih luas, termasuk di sekitar Bukit Permisan.

Sebelumnya, Bukit Batu Kepale telah menjadi perhatian karena di kawasan tersebut ditemukan goresan atau gambar cadas yang menjadi bagian penting dari jejak aktivitas manusia masa lalu.

Dengan ditemukannya indikasi baru di Aik Sibut, kawasan Desa Gudang semakin menunjukkan potensinya sebagai hamparan situs atau kawasan arkeologis yang menyimpan cerita panjang mengenai kehidupan manusia dan hubungan mereka dengan lingkungan alam pada masa lalu.

Penelitian lanjutan tentu masih diperlukan untuk mengungkap lebih jauh usia, karakter, persebaran, dan hubungan antara berbagai temuan tersebut. Jika penelitian berikutnya menemukan bukti yang lebih kuat di sejumlah titik lainnya, Desa Gudang dan kawasan sekitarnya bukan tidak mungkin menjadi salah satu kawasan penting untuk memahami jejak perjalanan manusia masa lalu di Bangka Belitung.

Temuan-temuan tersebut pada akhirnya bukan sekadar benda-benda lama yang tersimpan di dalam tanah. Di balik fragmen gerabah, gambar cadas, dan tinggalan lainnya, tersimpan kemungkinan cerita mengenai manusia yang pernah hidup, tinggal, bergerak, dan berinteraksi dengan lingkungan di kawasan Bangka Selatan ribuan atau ratusan tahun lalu.

Karena itu, setiap temuan di kawasan ini menjadi bagian dari upaya untuk membuka kembali lembaran sejarah manusia yang selama ini masih banyak tersembunyi di bawah permukaan tanah dan bentang alam Bangka Selatan. ***