JD Vance, Israel, dan GOP: Ujian 2028 di Depan RJC

ORBITINDONESIA.COM – Wakil Presiden JD Vance menghadapi sorotan soal Israel dan antisemitisme saat bertemu Republican Jewish Coalition (RJC) di Las Vegas. Di tengah skeptisisme generasi muda terhadap relasi AS-Israel, ia memilih membela strategi “hadir di semua platform” alih-alih memutus jarak tegas dari Tucker Carlson.

Dalam beberapa bulan terakhir, JD Vance dianggap memberi ruang pada skeptisisme Amerika terhadap Israel. Sebagian Republikan Yahudi merasa tidak nyaman, karena Vance dipandang sebagai kandidat terdepan Partai Republik untuk pemilu presiden berikutnya.

Sejumlah aktivis GOP Yahudi menyebut mereka lebih condong ke Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Sementara itu, Senator Ted Cruz menegaskan partai belum mengerucut ke Vance untuk 2028, dan akan ada “diskusi penuh” tentang arah ideologis partai.

Vance berbicara di forum tertutup RJC di Venetian, Las Vegas, dalam format “fireside chat” sekitar 45 menit dengan Norm Coleman. CNN memperoleh audio dari peserta, dan Vance tidak membuka sesi tanya jawab.

Vance mengangkat “gajah di ruangan” yang jarang diucapkan terang-terangan di forum donor pro-Israel, yakni meningkatnya skeptisisme anak muda terhadap hubungan AS-Israel. Ia menekankan Republikan harus menjelaskan mengapa relasi itu “demi kepentingan terbaik Amerika Serikat.”

Namun momen paling sensitif muncul saat Coleman menyinggung Tucker Carlson, Megyn Kelly, Joe Rogan, dan Nick Fuentes yang disebut “memberi panggung bagi antisemitis.” Vance mengakui banyak orang di ruangan itu tidak sepakat dengan mereka, lalu membedakan Rogan dari Fuentes yang ia sebut “sangat, sangat berbeda,” mengingat Fuentes dikenal sebagai nasionalis kulit putih dan penyangkal Holocaust.

Vance mempertahankan pendekatan tampil di berbagai kanal media dengan alasan pesan Republik harus dibawa “ke mana-mana.” Bagi RJC, ini bukan sekadar soal komunikasi, karena Carlson secara terbuka pernah mendorong AS menjauh dari Israel sebagai sekutu.

Ketegangan ini terjadi di saat dukungan publik terhadap Israel dilaporkan menurun lintas partai, setelah perang Gaza pasca serangan Hamas 7 Oktober 2023. Artikel ini juga mencatat perang terbaru AS-Israel dengan Iran ikut membentuk iklim politik baru di basis pemilih.

Di saat yang sama, Vance disorot karena perannya mendorong kesepakatan damai Iran pada Juni yang kemudian runtuh. Ia bahkan memperingatkan pejabat Israel agar tidak “menyerang satu-satunya sekutu kuat” yang ia miliki, dan di podcast Joe Rogan ia menuduh sebagian pejabat Israel mencoba memanipulasi opini publik AS untuk menggagalkan kesepakatan.

RJC adalah jaringan donor dan aktivis yang dapat memberi pengaruh besar pada penentuan kandidat presiden GOP. Kelompok ini disebut dekat dengan Miriam Adelson, donor utama Trump 2024, yang dilaporkan memberi lebih dari 100 juta dolar AS.

Respons internal forum pun terbelah. Ari Fleischer menyebut Vance “membantu dirinya sendiri” karena menjawab kegelisahan tentang “di mana hatinya,” tetapi sebagian peserta menilai Vance menghindar dari isu Carlson.

Shabbos Kestenbaum, aktivis Yahudi Gen Z, menyebut Vance “sepenuhnya mengelak,” dan memprediksi Carlson akan terus menekan Vance. Eric Levine bahkan berharap Vance mengutuk Carlson secara eksplisit, menyebutnya bisa menjadi “momen Sister Souljah,” yakni saat politisi menegur figur kontroversial dari kubunya sendiri.

Masalah Vance bukan sekadar apakah ia pro-Israel atau tidak, melainkan bagaimana ia mengelola koalisi yang retak di kanan. Ketika ia menolak memutus hubungan simbolik dengan Carlson, ia memberi sinyal bahwa kalkulasi elektoral lebih penting daripada kejelasan moral bagi sebagian donor dan pemilih Yahudi.

Pembelaan “harus hadir di semua platform” terdengar modern, tetapi risikonya klasik. Jika panggung yang dipilih mengandung normalisasi kebencian, maka pesan politik ikut tercemar, dan beban pembuktian berpindah ke sang politisi.

Di sisi lain, Vance juga menawarkan pola pikir yang lebih transaksional dan “analitis” tentang Israel, seperti diakui Ruby Chen, ayah sandera Israel-Amerika yang tewas, Itay Chen. Perbandingan Chen dengan Biden yang “merasa Israel di kishke” dan Trump yang punya “gen” pro-Israel menunjukkan standar emosional yang masih dicari sebagian pemilih.

Kontur 2028 mulai terlihat karena isu Israel kini menjadi ujian identitas GOP, bukan hanya isu luar negeri. Cruz menyerang Carlson sebagai “demagog paling berbahaya,” dan sekutu Cruz membangun Front Line Action untuk melawan antisemitisme di kanan, yang disebut membantu mengalahkan dua kandidat di Florida.

Di Michigan, Vance juga mengaitkan isu antisemitisme dengan pertarungan Senat melawan Abdul El-Sayed yang mengkritik belanja pro-Israel dan menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, tuduhan yang dibantah pemerintah Israel. Vance menekan El-Sayed atas respons awalnya terhadap serangan sinagoga pada Maret, memperlihatkan bagaimana isu keamanan komunitas Yahudi dipakai sebagai garis serang kampanye.

Pertemuan JD Vance dengan RJC memperlihatkan dilema besar: menjaga dukungan donor pro-Israel sambil tetap merangkul ekosistem media kanan yang makin liar. Selama ia menunda jarak tegas dari figur seperti Tucker Carlson, keraguan itu akan terus hidup sebagai “isu karakter,” bukan sekadar perbedaan kebijakan.

Jika 2028 benar-benar menjadi panggungnya, Vance harus memilih bahasa yang lebih tegas tentang batas-batas koalisi, bukan hanya tentang kepentingan nasional. Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: apakah GOP ingin menang dengan memperluas audiens, atau menang dengan memperjelas nilai yang tidak bisa ditawar?

(Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)