Talking Heads #3 Univet Bantara: Kampus, Musik Hardcore, Ekonomi Kreatif

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Talking Heads #3 di Univet Bantara menguji ulang batas kampus sebagai ruang akademik sekaligus ruang publik alternatif. Kolaborasi BEM dan Darsa Kolektif pada Kamis (14/5) membuat diskusi, tenant UMKM, dan musik hardcore bertemu dalam satu panggung.

Selama ini kampus sering dibayangkan steril dari ekspresi subkultural, seolah hanya cocok untuk seminar dan seremonial. Namun ketika komunitas kreatif masuk ke ruang institusi, definisi “kegiatan kampus” ikut bergeser.

Talking Heads #3 memperlihatkan pergeseran itu secara kasat mata di Auditorium Univet Bantara. Ia bukan hanya agenda mahasiswa, tetapi juga peristiwa sosial yang mengundang publik luar kampus.

Diskusi “Merunduk di Persimpangan: Kala Gemuruh Berganti Bisik” menempatkan seni-budaya sebagai isu ruang, bukan sekadar selera. Tema tersebut terasa relevan ketika banyak ruang ekspresi bergantung pada izin, sponsor, dan standar kepantasan institusi.

Dalam teori ruang publik, kampus dapat menjadi arena deliberasi ketika aksesnya terbuka dan wacananya beragam. Talking Heads #3 bekerja seperti “ruang ketiga” yang menjembatani kelas akademik dan jalanan kreatif, tanpa harus menghapus identitas keduanya.

Kehadiran tenant UMKM dan pelaku kreatif independen menegaskan bahwa kebudayaan selalu punya dimensi ekonomi. Praktik jual-beli produk lokal di acara ini menunjukkan rantai produksi, distribusi, dan konsumsi yang bisa berjalan di luar industri besar.

Gambaran ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong ekonomi kreatif sebagai penggerak lapangan kerja, meski implementasinya sering tersendat di level ekosistem. Ketika kampus memberi ruang transaksi dan jejaring, ia ikut menjadi infrastruktur sosial bagi ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Puncak acara menampilkan band hardcore seperti Sprayer, H.O.R, Glu, Breez, Sisa Bara, hingga Jurrasic Rock. Genre yang biasanya hidup di ruang alternatif kini tampil di panggung kampus, menandai negosiasi baru antara “arus utama” dan “pinggiran”.

Hardcore tidak hanya musik keras, tetapi juga budaya kolektif yang menekankan solidaritas, etika DIY, dan keberanian bersuara. Ketika kampus mengizinkannya, kampus sedang menguji kapasitasnya sebagai institusi yang tahan terhadap perbedaan ekspresi.

Komposisi audiens yang beragam, dari mahasiswa lintas kampus hingga masyarakat umum, memperkuat fungsi acara sebagai simpul jejaring. Interaksi semacam ini jarang lahir dari forum akademik yang tertutup, karena biasanya hanya berputar pada peserta yang itu-itu saja.

Yang paling penting dari Talking Heads #3 bukan romantisasi “kampus jadi panggung”, melainkan siapa yang memegang kendali ruang. Jika kampus hanya meminjamkan tempat tanpa mengubah cara pandang, subkultur berisiko diperlakukan sebagai dekorasi sementara.

Pernyataan Ketua BEM Univet Bantara, Banu Aji Wicaksono, tentang keberlanjutan gerakan ini, memberi sinyal perubahan peran organisasi mahasiswa. BEM tidak lagi sekadar pelaksana program tahunan, tetapi fasilitator ekosistem yang mempertemukan komunitas, publik, dan institusi.

Namun keberlanjutan selalu menuntut konsekuensi kebijakan, bukan hanya niat baik. Kampus perlu memikirkan SOP keamanan acara, tata kelola kebisingan, akses bagi publik, dan perlindungan kebebasan berekspresi agar tidak berakhir pada pembatasan sepihak.

Di titik ini, tantangan terbesarnya adalah menjaga agar inklusivitas tidak berubah menjadi domestikasi. Hardcore dan ruang alternatif hidup dari otonomi, sehingga kolaborasi idealnya memperkuat kemandirian komunitas, bukan mengubahnya menjadi “konten kampus”.

Talking Heads #3 di Univet Bantara memberi pelajaran sederhana: kampus bisa menjadi rumah bagi diskusi, ekonomi kreatif, dan subkultur dalam satu tarikan napas. Ia membuktikan bahwa ruang akademik tidak harus steril, asalkan dikelola dengan adil dan terbuka.

Pertanyaannya kini bukan apakah kampus mampu menggelar acara seperti ini, tetapi apakah kampus berani merawatnya sebagai kebijakan, bukan pengecualian. Jika keberanian itu hadir, kampus berpotensi menjadi ruang publik yang lebih hidup, kritis, dan inklusif. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)