Jejak Akek Antak di Bukit Pelawan dan Ranggung dalam Legenda

Ilustrasi Akek Antak atau Cek Antak.

Ilustrasi Akek Antak atau Cek Antak.

Culture

Oleh Kulul Sari

ORBITINDONESIA.COM - Di tengah rimba Bangka yang masih lebat, nama Akek Antak atau Cek Antak hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Sosok yang dikenal memiliki kesaktian itu bukan sekadar dikenang karena kekuatannya, tetapi juga karena kisah perjalanan hidupnya yang melekat dalam memori kolektif masyarakat Bangka.

Jejak kisahnya bahkan dipercaya masih tersimpan dalam nama sejumlah bukit, ladang, tumbuhan, serta tempat-tempat tertentu yang hingga kini masih dikenal oleh masyarakat.

Konon, setelah adiknya, Akek Benu atau Akek Bedengung, menghilang, Akek Antak bersama adiknya, Abok Rut, bermukim di Bukit Permisan, Kampung Gudang. Dari tempat inilah keduanya menjalani kehidupan dengan bercocok tanam, berkebun, membuka ladang, atau dalam istilah setempat disebut berume.

Menurut Rusdi, warga Desa Ranggung, salah satu tempat Akek Antak berume atau berladang berada di Bukit Pelawan, Kampung Paku, Kecamatan Payung. Dalam perjalanan menuju ladang tersebut, Akek Antak dipercaya pernah memasang repas di antara perbukitan wilayah Kampung Ranggung.

Bagi Akek Antak, setiap tempat yang didatanginya seolah meninggalkan jejak dan cerita tersendiri. Begitu pula dengan Bukit Pelawan dan jejak perjalanan yang dipercaya masih tersimpan di Kampung Ranggung.

Setelah padi ditanam, tentu Akek Antak tidak hanya duduk menunggu hingga tiba masa panen. Untuk mengisi waktu, ia pergi mencari burung puyuh.

Caranya dengan menggunakan jebakan tradisional yang dikenal masyarakat setempat dengan nama repas.

Dalam perjalanan menuju ume, antara Bukit Permisan di Kampung Gudang dan Bukit Pelawan di Kampung Paku, Akek Antak dipercaya memasang repas untuk menangkap burung puyuh. Salah satu tempat yang diyakini pernah menjadi lokasi pemasangan repas tersebut adalah sebuah kaki bukit di Kampung Ranggung.

Di tempat itulah, menurut tutur lisan yang berkembang di Desa Ranggung, Akek Antak kerap memasang repas untuk menjebak burung puyuh.

Kisah semacam ini menunjukkan bagaimana sebuah legenda dapat bertahan melintasi waktu. Ia tidak selalu membutuhkan batu bertulis, prasasti, atau benda peninggalan untuk menjaga jejaknya. Legenda bertahan karena manusia terus mengingat tempat di mana sebuah cerita dipercaya pernah terjadi.

Repas boleh saja sirna, tetapi kisahnya tetap tertinggal.

Sebab bagi masyarakat Bangka, hutan boleh berubah, ladang boleh berganti, bahkan jalan setapak pun dapat hilang ditelan waktu. Namun, selama masih ada orang yang menyebut nama Akek Antak, selama masih ada seseorang yang menunjuk sebuah tempat lalu berkata, “Di situlah dahulu Akek Antak berume,” perjalanan orang sakti itu belum benar-benar berakhir.

Legenda itu terus hidup—dari tutur ke tutur, dari generasi ke generasi, dan dari satu tempat ke tempat lainnya. ***