Jam Lontar Fakfak, Arsip Toleransi Lewat Kue Lontar Papua

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Jam Lontar Fakfak mengubah kue lontar Papua menjadi penanda waktu sosial, bukan sekadar kudapan hari raya. Instalasi itu muncul di pameran seni “Mehak Tuni: Fakfak Sebagai Arsip” dan memotret tradisi saling-kirim lontar lintas Lebaran dan Natal.

Pameran “Mehak Tuni: Fakfak Sebagai Arsip” digelar di Tourist Information Center Fakfak untuk memperingati 48 tahun Group Mambesak, 5 Agustus 2026. “Mehak Tuni” dari bahasa Iha berarti “kopi negeri” dan diposisikan sebagai ruang refleksi atas nilai yang melekat pada keseharian.

Di tengah polarisasi identitas, generasi muda Fakfak merasa ada praktik sosial yang nyaris tak terdokumentasi. Tradisi perpindahan kue lontar dari rumah ke rumah berjalan rutin, tetapi jarang dicatat sebagai arsip kebudayaan.

Masalahnya bukan ketiadaan toleransi, melainkan ketiadaan cara bercerita yang meyakinkan publik luas. Fakfak punya praktik, tetapi narasi nasional sering hanya punya slogan.

Instalasi “Jam Lontar” menampilkan jam dinding yang didekonstruksi dan dipadukan dengan meja serta kursi tamu jadul. Angka 12, 3, 6, dan 9 diganti piring lontar, sementara dasar jam diganti wadah anyaman pandan untuk menyajikan kue.

Pilihan piring bekerja sebagai tanda resepsi dan penghormatan, bukan ornamen. Saat piring menjadi penanda waktu, ukuran waktu bergeser dari kuantitatif ke kualitatif melalui peristiwa kunjungan dan perayaan.

Di Fakfak, lontar memang bukan kuliner “murni” lokal, tetapi hasil lintasan sejarah. Sejumlah catatan etimologis mengaitkan “lontar” dengan ronde taart, pie susu bundar dalam tradisi Belanda yang menyebar mengikuti jalur rempah Maluku hingga Papua.

Justru di titik “pinjaman” itulah lokalitas bekerja secara kreatif. Kue itu diserap, diberi fungsi sosial baru, lalu menjadi suguhan kehormatan yang dianggap wajib saat Lebaran dan Natal.

Ritme pertukaran lontar membentuk pola sirkular yang bisa dibaca sebagai ekonomi simbolik berbasis resiprositas. Saat Idul Fitri, keluarga Muslim mengantar lontar ke tetangga Kristen, lalu pada Natal dan Tahun Baru terjadi arus balik yang sama.

Antropolog Arjun Appadurai menyebut dinamika semacam ini sebagai “social life of things,” ketika benda bergerak membawa sejarah relasi manusia. Lontar menjadi objek transaksional simbolik yang mengikat kembali jaringan kekerabatan dan tetangga.

Di sisi lain, karya ini selaras dengan gagasan “estetika relasional” Nicolas Bourriaud yang memandang seni sebagai ruang pertemuan. Meja menjadi altar dialog, kursi menjadi undangan, dan pengunjung diposisikan sebagai tamu yang akan dijamu.

Bahasa pameran juga menerjemahkan falsafah “satu tungku tiga batu” sebagai kerangka hidup bersama. Perbedaan tidak dipoles menjadi seragam, tetapi dirawat sebagai tiga penyangga yang menjaga tungku tetap menyala.

Di tingkat konsep, “Jam Lontar” mengingatkan pada “kronotop” Mikhail Bakhtin, yaitu simpul ruang dan waktu dalam satu objek budaya. Waktu diukur lewat momen pintu dibuka, piring diantar, dan salam ditukar.

Kekuatan instalasi ini ada pada keberaniannya menolak retorika toleransi yang terlalu abstrak. Ia memaksa kita melihat toleransi sebagai kerja domestik yang melelahkan, karena butuh adonan, oven, biaya, dan niat untuk mendatangi orang lain.

Namun ada pertanyaan kritis yang perlu ditahan agar karya tidak berubah menjadi romantisasi. Jika toleransi hanya dipahami sebagai tradisi hari raya, bagaimana ia bekerja saat konflik ekonomi, politik lokal, atau kompetisi ruang hidup meningkat?

Di sinilah seni kontemporer berfungsi sebagai arsip sekaligus alarm. Ia mengarsipkan praktik baik, tetapi juga mengingatkan bahwa praktik itu rapuh bila generasi muda kehilangan ruang, waktu, dan alasan untuk saling berkunjung.

Globalisasi membuat identitas mudah dikapitalisasi menjadi label dan konten, termasuk lontar yang kini populer sebagai “kue Lontar Papua” dengan banyak varian rasa. Popularitas bisa menguntungkan, tetapi juga berisiko mengosongkan makna jika tradisi resiprositasnya tidak ikut dirawat.

Fakfak memberi pelajaran yang tidak nyaman bagi wacana nasional. Toleransi tidak perlu banyak panggung, tetapi perlu kebiasaan yang berulang dan dapat diwariskan.

“Jam Lontar” menunjukkan bahwa arsip paling kuat sering lahir dari ruang tamu, bukan dari dokumen resmi. Ia menandai waktu bukan dengan detik, melainkan dengan keberanian untuk mengetuk pintu tetangga.

Jika piring lontar berhenti berputar, yang hilang bukan sekadar kue, tetapi mekanisme sosial yang menahan prasangka agar tidak tumbuh. Pertanyaannya sederhana dan menantang: di kota kita sendiri, benda apa yang masih sanggup membuat kita saling mengunjungi?

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Agustus 2026)