Resor Kushner-Ivanka di Albania: Revolusi Flamingo dan Lahan Sengketa
ORBITINDONESIA.COM – Proyek resor mewah Kushner-Ivanka di pesisir Zvërnec, Albania, memicu “Revolusi Flamingo” dan kemarahan publik. Di sebuah laguna biru yang jadi rumah ribuan flamingo, jalan baru membelah kawasan yang dulu dianggap salah satu bentang alam liar terakhir di Adriatik.
Perbukitan hijau bergulung menuju laguna biru berkilau, sementara pelikan memburu ikan dan kawanan flamingo tampak jauh di cakrawala. Selama dua dekade, pesisir ini menjadi cagar alam yang dicintai burung migran, dan termasuk bentang alam liar terakhir di Adriatik.
Lalu kawasan itu menarik perhatian pengembang: Jared Kushner dan Ivanka Trump, yang melihatnya pertama kali lima tahun lalu saat berlayar di dekatnya dengan kapal pesiar milik seorang teman. Kini, jalan baru mengiris lanskap yang semula perawan, dan gundukan tanah yang tercabik dipenuhi tanaman tercabut serta ranting patah.
Setidaknya satu hamparan rawa telah dikeringkan dan diratakan, dengan jejak ban truk bersilangan. Warga Albania khawatir flamingo akan pergi dan tidak pernah kembali.
Pembangunan kompleks hunian mewah yang direncanakan dimulai pada Mei, lalu memicu protes besar di Tirana. Demonstrasi itu dikenal sebagai Revolusi Flamingo setelah sebuah video memperlihatkan seorang warga diseret dengan kasar dari lokasi yang baru dipagari oleh petugas keamanan swasta.
Selama sebulan, massa berkumpul tiap malam sambil meneriakkan bahwa tanah Albania tidak untuk dijual, dan menuntut Perdana Menteri Edi Rama mundur. Pada Kamis, polisi memakai meriam air dan gas air mata setelah sebagian demonstran melempar telur ke mobil yang membawa anggota parlemen dan menteri ke gedung parlemen.
Rama, pemimpin yang dikenal blak-blakan dan ingin membawa Albania masuk Uni Eropa, mendukung amandemen mengejutkan pada 2024. Amandemen itu mengizinkan pembangunan pariwisata di cagar alam asalkan proyeknya “bintang lima atau lebih”.
Hanya sekitar dua pekan setelah aturan berubah, Kushner mengunggah mock-up proyek pesisir Zvërnec secara daring. Gambar itu menunjukkan konstruksi melintasi semenanjung yang sebelumnya dilindungi.
Dokumen “vision master plan” setebal 97 halaman bertanggal November 2025 menggambarkan hotel, vila, dan ratusan apartemen. Rencana itu juga memuat area ritel, lapangan golf, taman air, lapangan tenis, kasino, lebih dari 700.000 meter persegi bangunan, serta 70.000 meter persegi “logistik bawah tanah”.
Bagian dari laguna unik, yang menjadi rumah ribuan flamingo dan dilabeli lembaga negara Albania sebagai “monumen alam”, disebut akan dialokasikan untuk marina dan yacht club. Dokumen itu disusun sebuah firma arsitektur dan diunggah bulan lalu oleh seorang jurnalis.
Juru bicara Laboratory for Visionary Architecture menyatakan dokumen yang beredar adalah studi draf dari beberapa studi, bukan rencana final atau yang disetujui. Pemerintah Rama mengatakan master plan telah ditinjau dan ditolak, dan versi baru sedang disusun serta akan melalui penilaian dampak lingkungan mendalam.
Pengembang proyek, investasi sekitar €2 miliar oleh Kushner dan istrinya bersama Kastrati Group dan Assets Group berbasis Qatar, menyebut rencana itu kedaluwarsa. Mereka menegaskan “tidak ada kesimpulan” yang boleh ditarik dari tender konsultan atau materi perencanaan awal.
Mereka juga bersikeras proyek akan menghormati lingkungan, tetapi warga dan aktivis menyebut itu mustahil. “Mereka bicara melindungi lingkungan, tapi mereka membangun kota,” kata Joni Vorpsi dari NGO Protection and Preservation of Natural Environment in Albania.
Vorpsi menyebut area itu “bagian paling liar di Adriatik” dan lokasi penyu bertelur. Ia mengatakan kepada Financial Times bahwa kerusakan sudah terjadi, bahkan sebelum proyek benar-benar berjalan penuh.
Setelah protes meledak di Tirana, pekerjaan tampak berhenti sementara. Pekan lalu tidak terlihat truk, material, atau pekerja, dan pagar baru telah dilepas.
Parlemen Eropa pada pertengahan Juni menyerukan moratorium atas semua pekerjaan dan izin baru di kawasan lindung Albania. Mereka juga mendesak amandemen “bintang lima” dicabut, karena keanggotaan Albania di UE ikut dinilai lewat standar tata kelola dan perlindungan lingkungan.
Bagi Marjana Koçeku, anggota parlemen 25 tahun di Tirana, protes ini menandai pergeseran cara anak muda memandang negaranya. Setelah 1991, Albania mengalami emigrasi massal, tetapi arus keluar itu mulai melambat dan diaspora pun pulang untuk ikut berdemonstrasi.
“Orang tua membesarkan kami dengan ide bahwa kebahagiaan ada di luar perbatasan,” kata Koçeku. Ia menilai protes menunjukkan Albania mulai dilihat sebagai tempat hidup, bukan tempat untuk ditinggalkan.
Kisah hidup Koçeku mencerminkan perubahan itu, dari desa pegunungan terpencil yang hanya bisa dicapai dengan perahu. Ia sempat kuliah di Italia, lalu kembali untuk membangun proyek pariwisata berkelanjutan di rumah keluarganya sebelum masuk politik.
Bulan lalu, Koçeku keluar dari partai Rama karena proyek pesisir Zvërnec, dan menjadi satu-satunya anggota parlemen independen. Ia mengaku menerima ancaman setelah sikapnya itu.
Selain proyek pesisir, investor menyiapkan dana serupa untuk membangun kompleks lain di Sazan, satu-satunya pulau Albania, tepat di seberang pesisir dan laguna yang dilindungi. Dalam podcast, Ivanka Trump menyebutnya “pulau pribadi yang indah di tengah Mediterania” yang ditemukan saat singgah berenang dari kapal teman.
Namun orang yang mengenal wilayah itu menyebut rencana tersebut tidak realistis. Sazan adalah singkapan kecil tanpa penduduk tetap, lama dipakai pangkalan militer, dan dipenuhi barak, bunker, serta terowongan terbengkalai.
Risiko lain adalah ranjau bawah laut yang belum meledak. “Saat angin bertiup, bisa 60, 90, bahkan lebih dari 100 km/jam, kami nyaris tak bisa berdiri,” kata Artur Mecollari, mantan komandan angkatan laut Albania.
Mecollari yang pernah menyurvei pulau pada 2008 untuk mencari amunisi sisa menyebut risikonya masih ada. “Untuk air minum, kami mengebor 3.500 meter dan tidak menemukan apa-apa,” katanya, lalu menyimpulkan Sazan “tidak bisa dilakukan”.
Juru bicara Sazan Real Estate Development LLC menyatakan target mereka adalah membangun “destinasi kelas dunia” dengan desain yang matang dan pengelolaan lingkungan. Ketua perusahaan, Asher Abehsera, mengatakan proyek dirancang memberi nilai lingkungan, sosial, dan ekonomi jangka panjang sambil menghormati warisan alam Albania, dan kajian dampak lingkungan sedang berjalan.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Rama mengklaim proyek Zvërnec justru akan menguntungkan cagar alam dengan membersihkan laguna yang tercemar dan memulihkan kanal air yang rusak. Ia bahkan menyebut area akan menjadi “20-25 persen lebih hijau”.
“Jika Anda berpikir melindungi cukup dengan tidak menyentuh, Anda membuat kesalahan besar,” kata Rama. Ia menekankan ide “regenerasi” sebagai pembenaran pembangunan.
Vorpsi menolak argumen itu dan menunjuk laporan 2024 dari konsultan sungai dan lahan basah berbasis Wina. Laporan itu menyebut kawasan Vjosa “luar biasa” karena integritas hidromorfologinya, yang umumnya rapuh jika dipotong infrastruktur masif.
Sengketa tidak hanya datang dari aktivis, karena lahan itu juga terjerat litigasi lebih dari satu dekade. Warga Zvërnec, desa penanam ara dan zaitun di bukit yang menghadap laguna flamingo, menyatakan tanah yang ditetapkan untuk kompleks elite adalah milik mereka sejak pasca-komunisme.
“Pada 1991, kami diberi tanah yang dulu milik orang tua kami,” kata Kostaq Konomi, kepala desa, sambil menunjukkan dokumen kepemilikan. Namun bertahun-tahun kemudian, warga mengatakan kantor kadaster diam-diam menerbitkan sertifikat tandingan kepada seorang pebisnis bernama Artur Shehu.
Jaksa Albania baru-baru ini mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Shehu dan pebisnis lain yang diduga terlibat penyelundupan narkoba internasional dan pencucian uang lewat investasi properti. Warga menduga korupsi berperan dalam perubahan kepemilikan, dan seorang demonstran menyebut masalah tanah sebagai “luka terbuka terdalam” Albania.
Juru bicara Sazan Real Estate Development mengatakan mereka percaya akuisisi lahan dilakukan secara sah dan sesuai prosedur. Namun, bagi banyak warga, legalitas formal tidak otomatis menjawab pertanyaan moral tentang siapa yang diuntungkan dan siapa yang tersingkir.
Kushner dan mitra bisnisnya tahun lalu menarik diri dari proyek Trump Hotel di Serbia setelah penolakan publik dan penyelidikan domestik menemukan masalah hukum. Ketika ditanya apakah proyek Albania bisa bernasib sama, juru bicara menyatakan masa depannya “pada akhirnya ditentukan oleh Albania dan rakyat Albania”.
Juru bicara Kushner menolak berkomentar, dan juru bicara Ivanka Trump tidak merespons permintaan komentar. Kastrati Group dan Assets Group juga tidak merespons.
Seorang warga desa, berbicara anonim karena takut pembalasan pemerintah, mengatakan ia tak paham bagaimana tanah yang selama ini dibayar pajaknya bisa dijual ke investor asing. “Kalau mau pembangunan, kenapa tidak dibuat di tempat yang bisa dinikmati orang kaya dan orang miskin?” katanya.
Saat Ivanka Trump mengunjungi Zvërnec bersama para arsiteknya pada Januari, warga melihat iring-iringan SUV dan mobil polisi. “Orang kuat bisa melakukan apa yang mereka mau,” kata Konomi.
Kasus “proyek resor mewah Kushner-Ivanka di Albania” memperlihatkan pola klasik pembangunan di negara kandidat UE: regulasi dipercepat, legitimasi dipertanyakan, dan dampak ekologis belum teruji. Amandemen 2024 yang membuka cagar alam untuk proyek “bintang lima” adalah sinyal bahwa label kemewahan dipakai sebagai tiket menembus batas konservasi.
Di atas kertas, pemerintah menjanjikan penilaian dampak lingkungan yang mendalam dan master plan baru. Di lapangan, jejak awal berupa jalan baru, rawa yang dikeringkan, dan lanskap yang teriris sudah menjadi bukti bahwa “pra-konstruksi” bisa sama destruktifnya dengan konstruksi.
Dokumen 97 halaman yang bocor memang disebut draf, tetapi draf itu memberi gambaran skala ambisi: ratusan apartemen, kasino, golf, water park, dan logistik bawah tanah. Skala seperti ini biasanya mengubah ekosistem pesisir melalui reklamasi mikro, perubahan aliran air, polusi cahaya, kebisingan, dan tekanan wisata.
Rama mengusung narasi “regenerasi”, yaitu pembangunan sebagai cara memperbaiki laguna tercemar dan kanal rusak. Namun, klaim penghijauan “20-25 persen” sulit diverifikasi tanpa data metodologis, dan kerap dipakai untuk mengaburkan hilangnya habitat yang tak tergantikan.
Seruan Parlemen Eropa untuk moratorium memperlihatkan isu ini bukan sekadar konflik lokal. Keanggotaan UE menuntut kepastian hukum, perlindungan biodiversitas, dan tata kelola lahan yang bersih, sementara sengketa kadaster dan dugaan pencucian uang di sektor properti justru menggerus kredibilitas.
Sengketa lahan di Zvërnec menambah lapisan ketidakpastian bisnis dan sosial. Jika benar ada sertifikat ganda dan dugaan korupsi, maka proyek megainvestasi berisiko berdiri di atas fondasi legal yang rapuh dan memicu delegitimasi politik jangka panjang.
Dimensi Sazan menunjukkan paradoks lain: investor menjual imaji “pulau pribadi Mediterania”, sementara pihak militer dan ahli lokal menyodorkan fakta angin ekstrem, ranjau, dan krisis air. Ketika pemasaran mengalahkan geografi, proyek mudah berubah menjadi simbol arogansi modal.
Yang paling menarik adalah perubahan psikologi publik: protes yang dipimpin anak muda dan diaspora. Jika dulu emigrasi menjadi katup harapan, kini ruang hidup di dalam negeri justru dipertahankan, dan cagar alam menjadi panggung identitas nasional baru.
Revolusi Flamingo bukan sekadar kisah burung yang terancam, melainkan ujian tentang siapa yang berhak menentukan masa depan ruang hidup Albania. Ketika “bintang lima” menjadi standar kebijakan, demokrasi mudah tergelincir menjadi lelang lanskap.
Argumen pemerintah bahwa pembangunan bisa “membersihkan” laguna terdengar modern, tetapi berbahaya jika tidak dibatasi. Regenerasi sejati biasanya lahir dari pemulihan ekosistem dengan intervensi minimal, bukan dari kota baru yang menuntut marina, kasino, dan arus kendaraan.
Investor bisa saja serius soal mitigasi, tetapi skala proyek membuat janji “menghormati lingkungan” terdengar seperti slogan. Jika rawa sudah dikeringkan pada tahap awal, publik wajar curiga bahwa garis merah konservasi akan terus bergeser.
Di titik ini, isu paling tajam adalah ketimpangan kuasa: warga desa membayar pajak tanah, tetapi merasa tak punya suara saat tanahnya dialihkan. Ketika iring-iringan SUV dan polisi mengantar tamu penting, pesan yang diterima warga sederhana: hukum bisa kalah oleh akses.
Jika Albania ingin masuk UE, pertanyaan kuncinya bukan hanya apakah proyek ini legal, tetapi apakah ia adil, transparan, dan kompatibel dengan perlindungan kawasan lindung. Negara yang kuat bukan yang paling cepat mengundang modal, melainkan yang paling tegas menjaga batasnya.
Proyek resor mewah Kushner-Ivanka di Albania telah mengubah laguna flamingo menjadi cermin politik: antara janji investasi €2 miliar dan kecemasan kehilangan alam yang tak bisa dibeli kembali. Di satu sisi ada narasi “destinasi kelas dunia”, di sisi lain ada warga yang bertanya mengapa pembangunan tidak dirancang untuk semua.
Moratorium yang diminta Parlemen Eropa memberi kesempatan untuk berhenti, mengaudit, dan menilai ulang dari nol, bukan sekadar mengganti dokumen master plan. Sengketa lahan, dugaan korupsi kadaster, dan risiko ekologis harus dituntaskan sebelum satu batu pun diletakkan lagi.
Pada akhirnya, flamingo adalah metafora yang tajam: makhluk migran yang akan pergi jika habitatnya terganggu. Pertanyaannya, apakah Albania ingin menjadi tempat yang membuat warganya bertahan, atau tempat yang kembali mendorong mereka pergi karena tanahnya diperlakukan sebagai komoditas? (Orbit dari berbagai sumber, 10 Juli 2026)