Walmart Naikkan Proyeksi, Saham Jatuh karena Penjualan Toko Melambat

Yahoo Finance

Yahoo Finance

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Walmart menaikkan proyeksi kinerja setahun penuh setelah melampaui estimasi Wall Street untuk pendapatan dan laba, tetapi sahamnya justru anjlok 9% karena pertumbuhan penjualan toko sejenis (same-store sales) di AS melambat. Kontras ini menegaskan satu hal: pasar lebih takut pada tanda perlambatan konsumen ketimbang merayakan angka laba yang tampak solid. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Dalam laporan kuartal terbaru, Walmart membukukan pendapatan naik hampir 6% menjadi US$187,9 miliar, melampaui konsensus Bloomberg sekitar US$186 miliar. Laba per saham disesuaikan mencapai US$0,81, lebih tinggi dari ekspektasi US$0,74. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Namun, penjualan toko sejenis di AS hanya tumbuh 2,6%, jauh di bawah proyeksi 3,7% dan menjadi laju paling lambat sejak kuartal IV 2020. Bagi ritel sebesar Walmart, angka ini sering dibaca sebagai termometer daya beli rumah tangga. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Salah satu penekan utama datang dari turunnya harga obat yang menggerus pertumbuhan penjualan. Di luar kategori health and wellness, yang terdampak legislasi “maximum fair price” yang memungkinkan Medicare menegosiasikan harga obat, Walmart mencatat pertumbuhan same-store sales 3,4% pada barang inti. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Perusahaan juga menyebut efek pembanding dari lonjakan adopsi GLP-1 selama dua tahun terakhir. Artinya, sebagian pertumbuhan sebelumnya bersifat “sekali jalan”, sehingga laju saat ini tampak lebih dingin ketika basisnya sudah tinggi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Di sisi strategi, Walmart memang sengaja menekan harga ribuan item seperti daging sapi, keripik, dan soda untuk merebut konsumen yang makin sensitif terhadap biaya. Kebijakan ini membantu menjaga volume, tetapi bisa menahan pertumbuhan nilai penjualan dan membuat investor bertanya: seberapa mahal biaya mempertahankan pangsa pasar? (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

CFO John David Rainey memberi petunjuk bahwa psikologi konsumen ikut berubah ketika harga bensin menembus US$4 per galon. “Saat harga bahan bakar naik dan melewati US$4, mungkin ada dampak psikologis, ada pilihan yang dibuat konsumen,” ujarnya, seraya menambahkan Juni paling terlihat dalam hal pelanggan melakukan trade-off. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Lalu lintas pelanggan dan ukuran belanja (ticket size) lebih rendah dari perkiraan Wall Street. Bisnis grocery tumbuh pada kisaran menengah satu digit, dipimpin personal care, beauty, dan perlengkapan hewan, sementara general merchandise hanya naik rendah satu digit. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Di tengah perlambatan toko fisik, e-commerce justru menguat 23%, melampaui ekspektasi 22% dan naik 24% khusus di AS. Kenaikan ini kemungkinan terkait promosi yang digelar untuk menandingi Prime Day milik Amazon, menandakan perang diskon masih menjadi mesin pertumbuhan. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Dari sisi profitabilitas, laba operasi melonjak sekitar 21% year over year, sementara margin kotor naik 158 basis poin. Pendorongnya termasuk manfaat pengembalian tarif (tariff refund), meski tertahan oleh investasi harga dan biaya bahan bakar yang lebih tinggi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Untuk kuartal ketiga yang mencakup musim back-to-school dan awal rencana liburan, Walmart memproyeksikan penjualan bersih naik 3% hingga 3,75% dengan laba per saham disesuaikan US$0,62–US$0,64. Untuk tahun fiskal 2027, Walmart memandu pertumbuhan pendapatan 4%–5% dan laba per saham disesuaikan US$2,80–US$2,87, lebih konservatif dibanding proyeksi Wall Street yang mendekati 5% dan estimasi awal US$2,97. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Reaksi pasar yang keras memperlihatkan bahwa keyword “Walmart” kini dibaca sebagai cermin ekonomi, bukan sekadar laporan perusahaan. Ketika same-store sales melambat, investor menangkap sinyal bahwa konsumen kelas menengah-bawah mulai mengencangkan ikat pinggang, bahkan di ritel yang terkenal murah. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Di sisi lain, Walmart tampak menang dalam dua arena sekaligus: menahan pelanggan dengan harga dan mempercepat pergeseran ke belanja online. Tetapi kemenangan ini tidak gratis, karena diskon agresif, biaya logistik, dan volatilitas energi bisa mengikis kualitas pertumbuhan jika hanya mengejar volume. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Faktor kebijakan publik juga menambah lapisan cerita, karena negosiasi harga obat oleh Medicare menekan lini health and wellness. Ini menunjukkan bahwa kinerja ritel besar tidak hanya ditentukan belanja konsumen, tetapi juga desain regulasi yang mengubah struktur harga dan margin. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Walmart boleh saja mengalahkan ekspektasi laba, tetapi perlambatan penjualan toko sejenis mengingatkan bahwa narasi utama ada pada daya beli dan perilaku konsumen. Ketika bensin mahal memicu trade-off dan promosi online makin dominan, pertanyaannya bukan apakah Walmart kuat, melainkan apakah konsumen AS mulai rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Proyeksi yang lebih konservatif bisa dibaca sebagai kehati-hatian, atau sinyal bahwa masa depan ritel akan lebih ditentukan efisiensi daripada ekspansi. Jika “bellwether” seperti Walmart saja harus bertarung lewat pemangkasan harga, kita patut merenung: seberapa lama ekonomi bisa bertahan ketika belanja sehari-hari menjadi arena kompromi? (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)