PHK Lucid 18% di AS: Efisiensi, Stok Menumpuk, Pasar EV Melambat
ORBITINDONESIA.COM – PHK Lucid 18% di AS menandai babak baru krisis penyesuaian di industri mobil listrik, ketika produksi tak lagi sejalan dengan permintaan. Lucid Group menyebut langkah ini sebagai rencana penghematan biaya yang ditaksir memberi pengurangan beban tahunan sekitar 158 juta dolar AS.
Lucid mengumumkan pada Senin bahwa mereka memangkas tenaga kerja di Amerika Serikat sekitar 18% sebagai bagian dari program penghematan. Pemangkasan ini mencakup karyawan penuh waktu, kontraktor, dan pekerja produksi per jam di manufaktur, menurut dokumen ke Securities and Exchange Commission (SEC).
Secara global, Lucid memiliki sekitar 9.000 karyawan per 31 Desember. Seorang juru bicara menyatakan keputusan ini diambil untuk menyelaraskan produksi dengan permintaan, menurunkan persediaan, dan beradaptasi dengan kondisi pasar yang melemah.
Perusahaan juga mengumumkan COO Marc Winterhoff hengkang efektif segera, dan posisi COO dihapus. Winterhoff sempat menjadi CEO interim sampai Silvio Napoli resmi menjabat CEO pada 1 Juni.
Lucid memperkirakan akan menanggung beban kas sekitar 32 juta dolar AS untuk pesangon, tunjangan, dan transisi karyawan terkait pemangkasan terbaru. Selain itu, Lucid akan menghapus shift produksi kedua di pabrik AMP-1 Arizona.
Ini bukan pemangkasan pertama dalam waktu dekat, karena pada Februari Lucid sudah memberhentikan sekitar 12% tenaga kerja AS demi mengejar profitabilitas. Rentetan langkah ini menunjukkan bahwa strategi “tumbuh dulu, untung belakangan” makin sulit dipertahankan di pasar EV yang mendingin.
Kata kunci dari PHK Lucid 18% adalah “inventori tinggi,” istilah yang di industri otomotif sering berarti produksi harus diperlambat atau bahkan dihentikan sementara. Lucid sendiri menangguhkan panduan (guidance) setelah Napoli menyatakan akan mengevaluasi operasi bisnis perusahaan.
Secara finansial, tekanan Lucid masih berat meski penjualan meningkat dan kerugian menyempit. Pada 2025, Lucid rugi 2,7 miliar dolar AS dengan pendapatan 1,35 miliar dolar AS, serta mencatat free cash flow negatif 3,8 miliar dolar AS.
Angka free cash flow negatif itu sekitar 31% lebih buruk dibanding tahun sebelumnya, yang mengindikasikan pembakaran kas belum terkendali. Dengan kondisi seperti ini, target menjadi cash-flow positive “pada paruh akhir dekade ini” terdengar lebih seperti janji ketahanan daripada kepastian.
Penghematan tahunan 158 juta dolar AS memang signifikan, tetapi tetap kecil dibanding skala kerugian miliaran dolar. Artinya, pemangkasan tenaga kerja lebih tepat dibaca sebagai upaya memperpanjang runway, bukan solusi struktural untuk model bisnis.
Faktor eksternal juga memburuk bagi pemain EV, termasuk Lucid dan para pesaingnya. Artikel sumber menyebut adopsi EV lebih lambat dari perkiraan dan regulasi berubah di bawah pemerintahan Trump, termasuk penghapusan insentif federal 7.500 dolar AS untuk pembelian EV.
Jika insentif hilang, harga efektif kendaraan listrik naik bagi konsumen, dan permintaan bisa melemah lebih jauh. Dalam situasi itu, perusahaan premium seperti Lucid berpotensi lebih rentan karena basis pelanggan mereka lebih sempit dan sensitif terhadap nilai tambah.
Penghapusan shift kedua di pabrik AMP-1 menjadi sinyal operasional yang tegas. Ini bukan sekadar efisiensi, melainkan pengakuan bahwa kapasitas yang dirancang untuk pertumbuhan kini menjadi beban bila kendaraan menumpuk di gudang.
PHK Lucid 18% menunjukkan bahwa narasi “masa depan EV pasti menang” tidak otomatis berarti semua produsen EV akan selamat. Pasar bisa tumbuh, tetapi pemenangnya cenderung sedikit, dan sisanya terjebak di antara biaya tinggi, skala kecil, dan permintaan yang fluktuatif.
Pernyataan perusahaan tentang “menyederhanakan” dan “mempertajam eksekusi” terdengar wajar, namun inti masalahnya lebih keras: Lucid harus membuktikan bahwa mereka mampu menjual cukup banyak mobil dengan margin yang masuk akal. Tanpa itu, setiap putaran efisiensi hanya menunda pertanyaan terbesar tentang kelayakan jangka panjang.
Hengkangnya COO dan penghapusan jabatan itu juga menarik dibaca sebagai restrukturisasi kendali di era CEO baru. Napoli tampaknya ingin rantai komando lebih ramping, tetapi risiko eksekusinya meningkat saat organisasi sekaligus dipangkas dan target efisiensi digenjot.
Dalam industri otomotif, menyeimbangkan produksi dan permintaan adalah seni yang mahal. Ketika perusahaan salah membaca kurva permintaan, yang terjadi bukan hanya diskon dan stok, tetapi juga PHK, pengurangan shift, dan reputasi merek yang ikut tertekan.
Lucid sedang belajar bahwa teknologi unggul tidak cukup tanpa strategi komersial yang tahan guncangan. Pertaruhan mereka kini bukan sekadar membuat mobil listrik terbaik, melainkan bertahan cukup lama sampai pasar kembali ramah dan biaya per unit benar-benar turun.
PHK Lucid 18% dan penghapusan shift produksi kedua memperjelas bahwa industri EV memasuki fase disiplin, bukan euforia. Di fase ini, perusahaan dinilai bukan dari visi, tetapi dari kemampuan mengubah produksi menjadi permintaan dan permintaan menjadi arus kas.
Lucid masih punya peluang, tetapi peluang itu dibayar mahal oleh karyawan yang terdampak dan oleh strategi yang harus dipangkas menjadi lebih realistis. Pertanyaannya kini sederhana dan tajam: berapa lama perusahaan EV bisa bertahan ketika insentif menyusut, pasar melambat, dan uang tunai terus terbakar? (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)