Trump Usul Suriah Lawan Hezbollah di Lebanon, Kawasan Bergejolak
ORBITINDONESIA.COM – Donald Trump melontarkan gagasan yang mengguncang: biarkan Suriah, bukan Israel, yang “mengurus” Hezbollah di Lebanon. Usul ini muncul saat Gedung Putih tampak makin frustrasi karena perang Israel–Hezbollah berlarut dan korban sipil terus bertambah.
Dalam laporan AP dari Beirut, Trump menilai perang Israel melawan Hezbollah terlalu lama dan “terlalu banyak orang dibunuh.” Ia bahkan menyebut Suriah akan “melakukan pekerjaan lebih baik” karena dianggap lebih presisi dibanding militer Israel.
Data yang dikutip menyebut lebih dari 4.000 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak Hezbollah ikut dalam perang Iran yang lebih luas melalui serangan 2 Maret ke Israel. Israel menyatakan serangannya menargetkan Hezbollah dan mengklaim mengambil langkah melindungi warga sipil.
Trump juga mengkritik pola serangan yang menghancurkan bangunan apartemen saat memburu target. “Anda tidak harus merobohkan rumah apartemen setiap kali mencari seseorang,” katanya, menekankan keberadaan warga non-kombatan di dalamnya.
Namun Suriah yang dimaksud Trump bukan Suriah era Bashar Assad. Negara itu kini dipimpin Ahmad al-Sharaa, tokoh yang memimpin pemberontak Islamis yang menggulingkan Assad sekitar satu setengah tahun lalu dan membentuk pemerintahan baru.
Al-Sharaa menolak narasi bahwa Suriah akan masuk Lebanon. Dalam pidato 13 Juni di Damaskus, ia menyebut rumor intervensi Suriah “tidak benar” dan menekankan seruan mengakhiri perang serta memperkuat institusi Lebanon.
Dalam wawancara 21 Juni dengan Al Mashhad, al-Sharaa menyatakan ucapan Trump “disalahpahami” seolah Suriah akan menginvasi Lebanon “besok pagi.” Ia mengklaim yang dibahas adalah peran Suriah dalam solusi aman dan damai, bukan operasi militer lintas batas.
Masalahnya, Trump justru menggandakan ide tersebut. Fox News melaporkan Trump kecewa Israel tak bisa “menyingkirkan Hezbollah” dan ia “hampir menyerahkannya kepada Suriah” karena menganggap al-Sharaa lebih presisi.
Di sisi lain, Israel memandang pemerintah baru Suriah dengan curiga. Israel juga dilaporkan telah menguasai sebuah jalur di Suriah selatan sejak al-Sharaa berkuasa, menandakan ketidakpercayaan strategis yang belum surut.
Ketegangan makin kompleks karena Turki menjadi pendukung utama pemerintahan al-Sharaa. Suriah pun berubah menjadi arena tarik-menarik pengaruh Israel dan Turki, masing-masing berusaha membatasi manuver pihak lain.
Usul Trump tampak seperti jalan pintas: mengganti aktor perang agar hasilnya lebih cepat dan lebih “rapi.” Tetapi secara geopolitik, ini menyerupai memindahkan api dari satu ruangan ke ruangan lain, tanpa memadamkan sumbernya.
Hezbollah bukan sekadar milisi bersenjata yang bisa “dibersihkan” oleh operasi lintas batas. Ia adalah aktor politik, jaringan sosial, dan simbol perlawanan bagi sebagian komunitas Syiah Lebanon, sehingga setiap intervensi asing berisiko membentuk konsolidasi baru.
Al-Sharaa memiliki alasan kuat untuk menolak. Pemerintah baru Suriah menghadapi pekerjaan raksasa: memulihkan negara pascaperang 14 tahun, menata institusi, dan mengelola kepulangan jutaan pengungsi.
Randa Slim dari Stimson Center menyebut gagasan Trump “paling baik” didorong oleh “ketidaktahuan mendalam” terhadap dinamika lapangan. Ia menegaskan pasukan Suriah “jauh dari institusi militer yang koheren” dan mencakup “ribuan pejuang jihadis asing” dengan loyalitas serta disiplin yang tak pasti.
Jika Suriah dipaksa atau tergoda masuk Lebanon, dampaknya bisa memicu spiral sektarian. AP mencatat pasca-runtuhnya Assad terjadi beberapa letupan kekerasan balas dendam sektarian, termasuk serangan pejuang Sunni Islamis terkait pemerintah baru terhadap warga Alawit dan Druze.
Lebanon menyimpan mosaik rapuh: Syiah, Kristen, Druze, dan Sunni, dengan memori konflik yang belum benar-benar pulih. Kekerasan sektarian di Suriah mudah menyeberang sebagai paranoia politik, rumor bersenjata, dan mobilisasi massa.
Di level negara, Lebanon juga punya trauma historis terhadap Damaskus. Banyak warga mengingat pahit pendudukan Suriah selama puluhan tahun yang berakhir 2005, sehingga “kembalinya Suriah” dalam bentuk apa pun akan memantik resistensi.
Israel pun tidak otomatis diuntungkan. Seorang pejabat yang dikutip AP menyebut Israel khawatir Suriah bisa mengambil kembali peran lamanya dalam politik Lebanon, meski perhatian utama Israel tetap Hezbollah.
Masalah tambah rumit karena Suriah saat ini juga menjadi arena ketegangan Israel–Turki. Pejabat keamanan Israel bahkan dilaporkan menggelar rapat khusus pada Rabu untuk membahas isu ini, menandakan risiko eskalasi lintas front.
Secara militer, invasi Suriah ke Lebanon akan membuka pertanyaan: mandat apa, target apa, dan garis akhir apa. Tanpa definisi keberhasilan yang jelas, operasi bisa berubah menjadi perang gesekan baru, sementara Hezbollah beradaptasi melalui perang gerilya dan politik.
Suriah sendiri sempat mengirim penguatan ke perbatasan Lebanon pada pekan-pekan awal perang regional, dengan alasan mencegah penyelundupan senjata dan limpahan konflik. Pada Maret, Suriah menuduh Hezbollah menembakkan artileri ke posisi tentaranya, tuduhan yang dibantah Hezbollah, lalu eskalasi berhenti.
Menlu Turki Hakan Fidan mengatakan kepada AP pada Maret bahwa Turki ikut menengahi untuk meredakan ketegangan. Ini menunjukkan bahwa bahkan insiden kecil pun membutuhkan diplomasi intens, apalagi skenario invasi skala besar.
Gagasan Trump tampak lebih sebagai ekspresi frustrasi ketimbang strategi yang matang. Ia mengkritik korban sipil dan kehancuran, tetapi menawarkan solusi yang berpotensi memperluas perang dan menambah aktor bersenjata di panggung yang sudah sesak.
Jika tujuan Trump adalah “presisi,” maka pertanyaannya: presisi untuk siapa dan untuk tujuan apa. Memindahkan tugas ke Suriah tidak otomatis mengurangi korban, karena konflik Lebanon selalu berkelindan dengan identitas, pembalasan, dan legitimasi politik.
Al-Sharaa membaca situasi dengan naluri bertahan hidup negara. Ia berusaha menjaga Suriah tetap di pinggir perang regional, karena satu langkah salah bisa mengundang sabotase internal, reaksi Israel, dan tekanan dari sponsor eksternal.
Di sisi lain, Israel menghadapi dilema reputasi dan efektivitas. Ketika Trump menyebut Israel gagal “menyelesaikan” Hezbollah, itu bukan sekadar kritik taktis, melainkan sinyal bahwa Washington bisa mengubah preferensi mitra jika biaya politiknya membengkak.
Namun mengandalkan Suriah untuk menekan Hezbollah juga mengandung paradoks moral dan politik. Pemerintahan baru Suriah lahir dari koalisi pemberontak Islamis, dan AP menyinggung adanya kekerasan balas dendam sektarian, sehingga klaim “lebih presisi” terdengar rapuh.
Usul ini juga membuka ruang permainan baru bagi Turki, Iran, dan aktor lokal Lebanon. Dalam ekosistem konflik, setiap vacuum atau reposisi kekuatan biasanya diisi, bukan dibiarkan kosong.
Trump mungkin ingin menghentikan perang yang “terlalu lama” dan “terlalu mematikan,” tetapi resepnya berisiko menghidupkan trauma lama Lebanon dan membuka front baru di Suriah. Ketika satu konflik regional dipadamkan dengan memindahkan beban ke negara rapuh lain, yang terjadi sering kali bukan penyelesaian, melainkan perpanjangan krisis.
Pertanyaan kuncinya bukan apakah Suriah “bisa” melawan Hezbollah, melainkan siapa yang akan mengendalikan akibatnya. Jika sejarah mengajarkan sesuatu, Lebanon jarang menjadi tempat eksperimen strategi asing berakhir dengan damai.
(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)