Fitur Kesehatan Mental TikTok untuk Remaja: Self-Care atau Perang Data?

CBC

CBC

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Fitur kesehatan mental TikTok untuk remaja kini menawarkan latihan napas, afirmasi positif, hingga meditasi malam, seolah menjadi jawaban atas kecemasan akibat doomscrolling. Namun di balik janji “well-being”, kritik menguat: apakah ini benar-benar perlindungan kesehatan mental remaja, atau cara baru memperpanjang waktu layar dan memperkaya data pengguna?

TikTok menambahkan fitur baru ke “Time and Well-being space” yang diklaim dirancang dengan masukan remaja. Pengguna bisa meraih badge lewat “wellness missions”, seperti tidak membuka TikTok di malam hari dan membatasi screen time.

Perusahaan menyebut uji awal menunjukkan hampir 40 persen pengguna yang menemukan misi tersebut memilih untuk mengeksplorasinya. Di saat yang sama, TikTok menghadapi gugatan dari lebih dari selusin negara bagian di AS terkait dugaan dampak buruk algoritma adiktif pada kesehatan mental anak.

Tekanan publik juga menimpa raksasa lain seperti Meta, Snapchat, dan YouTube. Isunya bukan lagi sekadar konten, melainkan desain platform yang terus mendorong keterikatan, bahkan ketika pengguna ingin berhenti.

Influencer sekaligus advokat kesehatan mental Zachery Dereniowski menilai algoritma TikTok sangat kuat, sehingga ruang self-care di dalam aplikasi bisa membantu, terutama bagi audiens muda. Ia menempatkan fitur ini sebagai peluang: jika pengguna sudah berada di aplikasi, setidaknya mereka diarahkan pada kebiasaan yang lebih sehat.

TikTok juga mengklaim fitur meditasi setelah pukul 22.00 untuk usia 13–16 tahun efektif, dengan 98 persen remaja memilih tetap menyalakannya. Klaim ini terdengar meyakinkan, tetapi tetap menyisakan pertanyaan: apakah “tetap menyalakan” berarti “lebih sehat”, atau sekadar “lebih patuh pada desain aplikasi”?

Peneliti privasi anak dari University of Toronto, Riley McNair, mengingatkan bahwa downtime yang benar-benar bebas pelacakan makin sulit ditemukan. Menurutnya, penggunaan alat online untuk membangun kebiasaan sehat sudah “dinormalisasi”, dari mindfulness app hingga pelacak kebugaran dan siklus fertilitas.

McNair menilai fitur TikTok mungkin membantu sebagian remaja, tetapi karena opsional dan tersembunyi di pengaturan, dampaknya cenderung hanya menjangkau mereka yang sudah sadar perlu mengontrol diri. Artinya, kelompok paling rentan—yang terjebak pola kompulsif—bisa jadi justru tidak tersentuh intervensi.

Yang paling tajam, McNair menyebut kesan awalnya: wellness hub adalah mekanisme pengumpulan data baru. Ia menekankan logika bisnis platform, yakni semakin lama pengguna berada di aplikasi, semakin banyak peluang perusahaan mengumpulkan insight dan menyesuaikan produk untuk mempertahankan perhatian.

Analis teknologi dan keamanan siber Ritesh Kotak melihat TikTok relatif lebih proaktif dibanding platform lain, tetapi ia menduga ada motif defensif terhadap legislasi dan risiko hukum. Ia menyebut TikTok berupaya “memopoli” waktu senggang dengan menanamkan meditasi dan jeda napas di dalam aplikasi yang sama.

Di AS, gugatan dari para jaksa agung menuduh algoritma TikTok adiktif dan merusak kesehatan mental anak. Gugatan Kentucky, misalnya, menuding riset internal TikTok mengaitkan penggunaan kompulsif dengan peningkatan kecemasan dan isu citra tubuh pada pengguna muda.

Gugatan lain datang dari distrik sekolah yang menuding TikTok, Meta, Snapchat, dan YouTube tetap menarget remaja meski memahami sifat adiktif platform. Dalam konteks ini, fitur well-being bisa dibaca sebagai “perisai reputasi” yang tampil humanis, sambil mempertahankan mesin keterikatan.

Fitur kesehatan mental TikTok untuk remaja memunculkan paradoks: solusi ditawarkan oleh pihak yang juga dituduh menciptakan masalah. Ketika self-care dipaketkan dalam format misi dan badge, kesehatan mental berisiko berubah menjadi gamifikasi yang tetap mengejar metrik keterlibatan.

Logika “jika sudah di aplikasi, lebih baik melakukan hal positif” terdengar pragmatis, tetapi juga menormalisasi ketergantungan. Kita seperti menerima asumsi bahwa ruang tenang harus disediakan oleh platform, bukan dibangun di luar layar.

Kekhawatiran terbesar bukan pada latihan napasnya, melainkan pada infrastrukturnya: pelacakan, personalisasi, dan insentif bisnis untuk mempertahankan atensi. Dalam ekosistem iklan dan rekomendasi, bahkan jeda bisa menjadi data, dan data bisa menjadi umpan untuk kembali.

Di titik ini, isu privasi anak menjadi pusat yang sering luput dari narasi “kesehatan mental”. McNair dan Kotak sama-sama menekankan perlunya legislasi, sementara Kanada melalui Privacy Commissioner tengah berkonsultasi soal kode privasi anak dan pemerintah membahas ulang Online Harms Act.

Jika regulasi tidak memperjelas batas, platform akan terus mendefinisikan keselamatan dengan standar mereka sendiri. Dan standar itu, cepat atau lambat, akan bertabrakan dengan kepentingan inti: pertumbuhan pengguna, durasi tonton, dan monetisasi perhatian.

Dereniowski memberi contoh “non-negotiables” yang justru sederhana: olahraga harian, minum satu liter air di pagi hari, dan tidur minimal tujuh jam. Ia juga menjauh dari ponsel lewat aktivitas hadir penuh, seperti memasak, menelepon orang tua, bermain basket, dan berada di alam.

Pesan itu terasa paling jujur: kebiasaan sehat sering kali tidak membutuhkan aplikasi yang sama yang memicu kecanduan. Pertanyaannya kini, beranikah kita mengakui bahwa sebagian self-care terbaik adalah keluar dari platform, bukan mencari ketenangan di dalamnya?

Fitur kesehatan mental TikTok untuk remaja mungkin berguna sebagai pintu awal, tetapi pintu itu mengarah ke dua lorong: pemulihan atau penguatan ketergantungan yang lebih halus. Pada akhirnya, kesehatan mental bukan sekadar fitur, melainkan keputusan kolektif tentang batas, privasi, dan hak untuk benar-benar offline. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)