Credit Union di Sekolah Phoenix: Literasi Keuangan Siswa Naik

ORBITINDONESIA.COM – Credit union di sekolah Phoenix kini bukan sekadar ide, melainkan cabang nyata Copper State Credit Union yang beroperasi di dalam satu SMA. Program literasi keuangan siswa ini memberi pengalaman langsung mengelola tabungan, transaksi, dan keputusan uang sejak bangku sekolah.

Literasi keuangan remaja sering diajarkan sebagai teori, lalu berhenti di lembar kerja dan ujian pilihan ganda. Akibatnya, banyak siswa paham istilah, tetapi tidak terbiasa mengambil keputusan finansial dalam situasi nyata.

Di sisi lain, remaja semakin cepat bersentuhan dengan uang digital, belanja daring, dan paylater keluarga. Ketika sekolah tertinggal, ruang belajar uang berpindah ke media sosial dan iklan, yang sering lebih persuasif daripada edukatif.

Kehadiran cabang Copper State Credit Union di dalam SMA di Phoenix memotong jarak antara pelajaran dan praktik. Siswa tidak hanya mendengar nasihat “menabung itu penting”, tetapi melihat cara kerja layanan keuangan dari dekat.

Cabang credit union di sekolah memberi pembelajaran berbasis pengalaman, karena siswa dapat membuka rekening, menabung rutin, dan memahami alur transaksi harian. Mereka juga menyaksikan konsekuensi keputusan kecil, seperti menunda setoran atau menghabiskan saldo untuk kebutuhan sesaat.

Model ini selaras dengan pendekatan “learning by doing” yang terbukti efektif untuk keterampilan hidup. Dalam konteks keuangan, pengalaman konkret sering lebih membekas dibanding ceramah, karena uang selalu terkait emosi, status sosial, dan tekanan teman sebaya.

Data nasional di AS menunjukkan literasi keuangan remaja masih menjadi pekerjaan rumah. Survei National Financial Educators Council (NFEC) beberapa tahun terakhir berulang kali menempatkan literasi keuangan sebagai salah satu sumber kerugian ekonomi personal, meski angka pastinya bervariasi antar studi.

Keunggulan credit union di sekolah adalah kedekatan dan repetisi, karena siswa bisa berinteraksi berkali-kali dalam setahun ajaran. Repetisi ini penting untuk membentuk kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan satu kali.

Namun, ada risiko jika program berubah menjadi promosi lembaga, bukan pendidikan publik. Transparansi kurikulum, batasan pemasaran, dan pengawasan sekolah menentukan apakah program ini melayani siswa atau justru membentuk konsumen dini.

Isu lain adalah kesenjangan akses, karena tidak semua sekolah punya mitra lembaga keuangan atau sumber daya ruang dan staf. Jika hanya sekolah tertentu yang mendapat cabang, maka literasi keuangan berbasis praktik bisa menjadi privilese, bukan standar pendidikan.

Cabang Copper State Credit Union di SMA Phoenix adalah terobosan yang realistis, karena ia mengubah uang dari konsep abstrak menjadi aktivitas yang bisa dipelajari. Sekolah yang berani membawa layanan keuangan ke dalam koridor kelas sedang mengakui satu hal, bahwa kehidupan dewasa dimulai lebih cepat dari ijazah.

Meski begitu, pendidikan keuangan tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada institusi keuangan, meskipun berbentuk credit union yang cenderung berorientasi anggota. Sekolah harus memegang kendali materi, agar siswa juga belajar skeptisisme sehat, seperti membaca biaya, memahami bunga, dan mengenali konflik kepentingan.

Yang paling penting, program semacam ini semestinya mengajarkan daya tawar, bukan kepatuhan. Siswa perlu berlatih bertanya, membandingkan produk, dan menolak keputusan impulsif, karena itulah keterampilan yang menyelamatkan mereka di dunia kredit dan cicilan.

Cabang credit union di sekolah Phoenix menunjukkan bahwa literasi keuangan siswa bisa dibangun lewat pengalaman, bukan sekadar slogan. Ia memberi ruang aman untuk salah, belajar, lalu memperbaiki kebiasaan sebelum taruhannya menjadi mahal.

Pertanyaannya, apakah model ini akan diperluas dengan standar etika dan pemerataan akses, atau berhenti sebagai proyek menarik di beberapa sekolah saja. Jika pendidikan benar-benar ingin memerdekakan, maka mengajarkan cara mengelola uang harus setara pentingnya dengan mengajarkan cara membaca dunia.

(Orbit dari berbagai sumber, 19 Juni 2026)