Literasi Keuangan Remaja Kulit Hitam Baltimore: Program 10 Bulan KDW Cares
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan remaja kini jadi medan perjuangan baru di Baltimore, ketika KDW Cares menjalankan program literasi keuangan 10 bulan untuk Black youth. “We run a 10-month financial literacy program that runs concurrently with the school year,” kata pendirinya, Steven Williams.
Banyak anak muda masuk dunia kerja dengan ijazah, tetapi tanpa peta membaca uang. Williams menyebut “one missing piece was financial literacy across the board,” bahkan bagi mereka yang berpendapatan awal lebih tinggi dari orang tua.
Di kota-kota Amerika, kesenjangan kekayaan rasial adalah kenyataan yang berdampak lintas generasi. Federal Reserve melaporkan median kekayaan keluarga kulit putih jauh lebih tinggi dibanding keluarga kulit hitam, sehingga satu keputusan finansial buruk dapat terasa lebih menghukum (Survey of Consumer Finances, 2022).
Masalahnya bukan sekadar “tidak menabung,” melainkan tidak pernah diajari sistemnya. Ketika sekolah menekankan nilai rapor, banyak keluarga juga menanggung beban ekonomi yang membuat pendidikan finansial kalah prioritas.
KDW Cares memilih model imersif, bukan seminar satu kali yang cepat hilang efeknya. “It’s not a workshop-type deal… it’s a kind of immersive experience,” tegas Williams.
Programnya dimulai dari cara memperoleh penghasilan, termasuk resume, wawancara, dan riset karier. Ini penting karena literasi keuangan tanpa literasi pendapatan hanya menghasilkan nasihat hemat yang terdengar seperti menyalahkan korban.
Setelah itu, peserta belajar budgeting, saving, credit building, leverage, perlindungan aset, hingga investasi seperti saham dan obligasi. Mereka juga dikenalkan jalur wirausaha, termasuk real estat, agar paham aset bukan mitos orang kaya.
Pendekatan panjang seperti ini sejalan dengan temuan OECD yang menekankan pendidikan finansial efektif bila bertahap dan relevan dengan keputusan hidup nyata. Remaja lebih cepat belajar ketika materi terkait kebutuhan langsung, seperti rekening bank, skor kredit, dan biaya kuliah (OECD/INFE, berbagai laporan literasi finansial).
Dampak awalnya terlihat dari testimoni peserta. “Without this class, I probably wouldn’t have reached most of the goals I set for myself,” kata David Cruz-Harris Jr., 18.
Cruz-Harris masuk saat 16 tahun untuk mengelola uang dan membuat keputusan lebih kuat. Ia mengaku dulu skeptis, tetapi kini menilai program semacam ini perlu dicoba semua orang setidaknya sekali.
Namun, literasi keuangan tetap bukan obat tunggal. Inflasi, biaya sewa, dan akses kredit yang tidak adil bisa membuat orang yang “sudah paham” tetap kesulitan, sehingga program perlu disandingkan dengan advokasi akses kerja dan perlindungan konsumen.
Yang menarik dari KDW Cares adalah ia memindahkan literasi keuangan dari slogan menjadi kebiasaan. Program 10 bulan membuat peserta dipaksa berhadapan dengan angka, pilihan, dan konsekuensi, bukan sekadar termotivasi sesaat.
Di sisi lain, narasi “kalau pintar mengatur uang pasti sejahtera” sering dipakai untuk menutupi ketimpangan struktural. Karena itu, pendidikan finansial harus jujur: mengajarkan cara bertahan dalam sistem, sambil berani mengkritik sistem yang membuat sebagian kelompok memulai dari garis start berbeda.
Fokus pada Black youth juga bukan eksklusif, melainkan koreksi arah pada kelompok yang paling sering menanggung akibat dari kurangnya akses aset dan pengetahuan finansial. Ketika generasi muda memahami kredit, utang, dan investasi sejak dini, mereka punya peluang lebih besar memutus rantai biaya mahal dari ketidaktahuan.
Di Baltimore, KDW Cares menunjukkan bahwa literasi keuangan remaja tidak harus jadi mata pelajaran kering, tetapi bisa menjadi perjalanan yang membentuk identitas dan daya tawar. Testimoni peserta memberi sinyal bahwa pengetahuan yang ditanam lebih awal dapat mencegah “kesalahan mahal” yang biasanya baru disadari saat dewasa.
Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung: setelah anak muda diajari membaca uang, apakah kota dan negara juga bersedia memperbaiki aturan main yang membuat uang lebih mudah tumbuh bagi sebagian orang daripada yang lain. Mungkin di situlah ujian sesungguhnya dari literasi keuangan—bukan hanya mengelola diri, tetapi juga menuntut sistem yang lebih adil.
(Orbit dari berbagai sumber, 20 Agustus 2026)