Hamas: Eskalasi Israel di Masjid Al-Aqsa Tidak Akan Mengubah Karakter Islam Situs Tersebut

Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, kota yang diduduki Zionis Israel.

Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, kota yang diduduki Zionis Israel.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Hamas menyatakan pada hari Jumat, 21 Agustus 2026, bahwa langkah-langkah baru Israel di Masjid Al-Aqsa Yerusalem—termasuk izin membawa buku doa Yahudi dan pelaksanaan doa bersama secara terorganisir di dalam kompleks masjid—"tidak akan berhasil mengubah identitas Islam masjid tersebut," demikian dilaporkan Anadolu.

Kelompok Palestina itu mengeluarkan pernyataan tersebut bertepatan dengan peringatan 57 tahun peristiwa pembakaran situs suci itu pada tahun 1969, serta beberapa hari setelah polisi Israel mengizinkan buku doa Yahudi dibawa masuk ke dalam kompleks masjid.

"Rencana pihak pendudukan [Israel] tidak akan berhasil melakukan Yahudisasi terhadap Masjid Al-Aqsa, mengubah karakteristiknya, menghapus identitasnya, membaginya secara waktu maupun ruang, ataupun melegitimasi ritual Talmud di pelatarannya," tegas Hamas.

Kelompok tersebut menambahkan bahwa keputusan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, untuk mengizinkan buku doa Yahudi masuk ke kompleks masjid dan memperbolehkan doa bersama secara terorganisir di pelatarannya merupakan "langkah eskalasi" yang menentang "kesucian dan identitas sejarah Islam" situs tersebut.

Menurut laporan media Israel, pekan lalu polisi Israel mengizinkan sekelompok penganut Yahudi religius membawa buku doa ke dalam kompleks masjid, setelah sebelumnya mengizinkan masuknya lembaran doa cetak sejak bulan Januari.

Ben-Gvir kemudian mengonfirmasi langkah tersebut.

Sementara itu, polisi Israel menyatakan bahwa pengelolaan situs yang menjadi titik rawan konflik ini dilakukan berdasarkan arahan tingkat politik, prosedur yang berlaku, serta penilaian situasi di lapangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan lama yang melarang orang Yahudi melakukan doa atau membawa benda-benda keagamaan ke dalam kompleks Masjid Al-Aqsa telah dilonggarkan secara bertahap.

Pada akhir Juli lalu, ratusan penganut Yahudi religius melaksanakan doa bersama di dalam kompleks masjid dengan kehadiran Ben-Gvir.

Hamas menyatakan bahwa peristiwa pembakaran tahun 1969 merupakan "tonggak sejarah berbahaya dalam rangkaian upaya berkelanjutan untuk menargetkan Yerusalem, Masjid Al-Aqsa, dan identitas Islamnya."

"Apa yang disaksikan Al-Aqsa saat ini—termasuk berbagai penyusupan, ritual Talmud, dan upaya memaksakan realitas baru di pelatarannya—merupakan kelanjutan dari kejahatan tersebut," tambah mereka. Kelompok tersebut menyerukan kepada warga Palestina di Yerusalem, Tepi Barat yang diduduki, dan di dalam wilayah Israel untuk "memperkuat kehadiran dan keteguhan sikap mereka di Al-Aqsa serta melawan rencana pihak pendudukan untuk memaksakan realitas baru di sana."

Kelompok itu juga mendesak negara-negara, para pemimpin, masyarakat, dan organisasi Arab serta Muslim untuk "memikul tanggung jawab sejarah mereka terhadap Yerusalem dan Al-Aqsa," bersatu dalam upaya menghentikan pelanggaran Israel, dan mendukung warga Palestina di kota tersebut.

Dalam pernyataan terpisah, Dewan Nasional Palestina menyatakan bahwa serangan pembakaran Al-Aqsa pada tahun 1969 "bukanlah tindakan individu yang terisolasi," melainkan "mata rantai awal dari proyek sistematis yang menargetkan masjid tersebut dan Yerusalem."

Dewan tersebut memperingatkan agar tidak ada lagi seruan Israel untuk mengubah status sejarah dan hukum masjid itu, seraya menyebutkan bahwa kelompok-kelompok Yahudi ekstremis—yang dipimpin oleh apa yang disebut sebagai "kelompok-kelompok Kuil" (Temple groups)—terus menghasut penyerbuan ke masjid tersebut dan berupaya memaksakan pembagian waktu serta ruang di kompleks masjid itu.

Dewan tersebut menambahkan bahwa serangan terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem serta wilayah Palestina merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menargetkan keragaman agama kota tersebut dan identitas Palestina.

Masjid Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga bagi umat Islam di dunia. Umat Yahudi menyebut kawasan tersebut sebagai "Temple Mount" (Bukit Bait Suci), dengan klaim bahwa lokasi itu merupakan tempat berdirinya dua kuil Yahudi pada zaman dahulu.

Pada 21 Agustus 1969, Dennis Michael Rohan, seorang warga negara Australia, membakar ruang salat Al-Qibli di masjid tersebut, yang menghancurkan mimbar Salahuddin serta sebagian atap ruangan dan menyebabkan kerusakan parah.

Insiden tersebut diikuti oleh pertemuan puncak Islam pertama di Rabat, Maroko, pada 25 September 1969, yang berujung pada pembentukan Organisasi Konferensi Islam, yang kini dikenal sebagai Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). ***