Pencegahan Knife Crime Remaja Skotlandia: Cashback, Geng, dan Rasa Tak Aman
ORBITINDONESIA.COM – Knife crime remaja Skotlandia kembali menyita perhatian setelah tiga remaja divonis bersalah membunuh Kayden Moy di Irvine Beach. Pemerintah Skotlandia merespons dengan tambahan dana jutaan pound untuk program pencegahan geng remaja melalui Cashback for Communities.
Pembunuhan Kayden Moy, 16 tahun, terjadi pada Mei lalu dalam serangan pisau yang dipicu sengketa antar geng dari East Kilbride. Dua terdakwa, Jay Stewart (18) dan seorang anak 15 tahun, dinyatakan bersalah, sementara Cole Turley (18) sudah mengaku bersalah sebelum sidang di High Court Glasgow.
Kasus ini bukan sekadar tragedi individual, melainkan potret benturan budaya jalanan, identitas kelompok, dan eskalasi konflik yang makin cepat. Di ruang publik, pertanyaan mengarah pada dua hal: mengapa remaja membawa senjata, dan apa yang bisa menghentikan siklusnya.
Justice Secretary Neil Gray menyebut pemerintah akan menambah £6 juta untuk Cashback for Communities, sebuah skema yang berjalan sejak 2008. Program ini didanai dari proceeds of crime dan menawarkan aktivitas gratis serta program pengalihan bagi anak muda di seluruh Skotlandia.
Gray menekankan logika pencegahan: menyediakan “diversionary activity” agar remaja punya alternatif selain budaya geng dan kekerasan. Ia juga mengaitkannya dengan inisiatif seperti Extra Time, dengan tujuan mencegah orang “mengambil pisau sejak awal”.
Dari sisi kepolisian, Superintendent Graeme Gallie menyampaikan dua tren yang tampak bertolak belakang. Kejahatan kekerasan di kalangan muda disebut menurun, tetapi weapon-carrying justru meningkat karena remaja “tidak merasa aman”.
Gallie mengatakan temuan itu terlihat melalui aktivitas stop and search, lalu diperdalam lewat keterlibatan Scottish Violence Reduction Unit. Pesan yang kembali dari anak muda jelas: mereka membawa senjata untuk perlindungan, dipengaruhi media sosial dan internet.
Namun kepolisian juga mencatat angka terendah dalam setahun terakhir untuk jumlah tersangka kekerasan di bawah 18 tahun. Gallie menegaskan mayoritas remaja tidak terlibat kekerasan dan tidak membawa senjata, sehingga kebijakan harus menghindari stigmatisasi generasi muda.
Tambahan dana £6 juta untuk Cashback for Communities terdengar tepat, tetapi uang saja tidak otomatis memutus rantai kekerasan. Program pengalihan bekerja jika ia mampu mengalahkan “insentif sosial” geng: status, rasa memiliki, dan ilusi perlindungan.
Di sini, kunci masalahnya adalah rasa tak aman yang membuat remaja memilih pisau sebagai asuransi hidup. Ketika rasa aman runtuh, pesan moral tentang bahaya senjata menjadi kalah oleh kalkulasi instan: “lebih baik bawa daripada jadi korban”.
Pengaruh media sosial mempercepat konflik menjadi pertunjukan dan pembuktian diri, sehingga batas antara ancaman dan aksi makin tipis. Jika platform digital menjadi ruang pemicu, maka pencegahan harus hadir sebagai ruang tandingan yang nyata, bukan sekadar kampanye.
Stop and search bisa membantu mengurangi senjata di jalan, tetapi berisiko memperlebar jarak kepercayaan bila dianggap menyasar kelompok tertentu. Karena itu, pendekatan yang seimbang dibutuhkan: penegakan hukum yang presisi, ditopang layanan komunitas, sekolah, dan dukungan kesehatan mental.
Kasus Kayden Moy mengingatkan bahwa “gang culture” bukan hanya soal kriminalitas, melainkan juga soal kegagalan ekosistem perlindungan. Investasi publik perlu diukur dengan indikator yang tegas, seperti penurunan weapon-carrying, keterlibatan program, dan keselamatan di ruang publik.
Skotlandia sedang menghadapi paradoks: kekerasan remaja menurun, tetapi kebiasaan membawa senjata meningkat karena rasa takut. Jika ketakutan menjadi norma, maka pisau akan terus dianggap alat bertahan, bukan ancaman.
Cashback for Communities menawarkan jalan keluar yang lebih manusiawi, karena mencegah sebelum menghukum. Tantangannya adalah memastikan program itu hadir di titik paling rentan, dengan mentor, ruang aman, dan kesempatan yang terasa lebih kuat daripada geng.
Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya “berapa dana yang digelontorkan”, melainkan “apakah remaja kembali merasa aman tanpa senjata”. Jika rasa aman berhasil dipulihkan, budaya pisau akan kehilangan panggungnya sendiri.
(Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)