Sitting Is the New Smoking: Bahaya Duduk Lama dan Postur Buruk
ORBITINDONESIA.COM – “Sitting is the new smoking” bukan sekadar slogan kesehatan, melainkan alarm untuk bahaya duduk lama yang merusak tulang belakang secara diam-diam. Dr Faizan Abdullah Salam Ahmed Abdullah Mohsin, dokter ortopedi di Al Hilal Medical Center, Sitra, menilai kerusakan ini kerap terjadi tanpa disadari sampai nyeri datang dan aktivitas harian mulai terganggu.
Mayoritas orang bekerja dan belajar dengan layar, lalu duduk berjam-jam dengan punggung membungkuk. Kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi menjadi pola hidup sedentari yang menumpuk risiko dari hari ke hari.
Dr Faizan menyoroti bahwa nyeri punggung pada usia muda makin sering ditemui karena penggunaan gawai berlebih, minim aktivitas fisik, dan obesitas. Bahkan remaja kini datang dengan masalah postur yang dulu lebih identik dengan pekerja kantoran berusia matang.
Dalam wawancara dengan The Daily Tribune, ia menyebut lebih dari 50 persen pasien nyeri punggung bawah melaporkan postur kerja yang buruk. Angka ini membuat isu ergonomi bukan lagi urusan “kenyamanan”, melainkan faktor klinis yang nyata.
Masalah utama duduk lama bukan sekadar durasi, melainkan posisi tubuh yang memaksa tulang belakang bekerja di luar desain alaminya. Saat kepala maju, bahu turun, dan panggul miring, beban kompresi dan tarikan pada leher serta punggung meningkat.
Dr Faizan menyebut kasus yang paling sering ia lihat adalah ketegangan leher, nyeri punggung atas dan bawah, serta gangguan diskus servikal dan lumbal. Dalam jangka panjang, postur buruk dapat memicu kelainan diskus dengan atau tanpa radikulopati dan/atau mielopati, kemiringan panggul abnormal, hingga perubahan degeneratif spondilotik lebih dini.
Di titik ini, analogi “new smoking” menemukan logikanya: dampaknya pelan, kumulatif, dan sering dianggap normal sampai kerusakan terasa. Bedanya, rokok memiliki stigma sosial yang kuat, sedangkan duduk lama justru dilegalkan oleh budaya kerja dan sekolah.
Namun narasi “duduk itu berbahaya” juga perlu dibaca kritis agar tidak berubah menjadi kepanikan yang menyalahkan individu semata. Banyak orang tidak punya pilihan selain duduk lama karena desain pekerjaan, target produktivitas, dan ruang kerja yang tidak ramah tubuh.
Karena itu, pencegahan harus diarahkan pada sistem dan kebiasaan sekaligus. Dr Faizan menekankan ergonomi meja kerja: layar setinggi mata dan posisi pinggul lebih tinggi daripada lutut untuk mengurangi stres abnormal pada tulang belakang.
Ia juga menegaskan langkah yang sering terlambat dilakukan: mencari saran medis tentang postur sebelum nyeri muncul. Menurutnya, bila terdeteksi dini, kerusakan terkait postur sepenuhnya bisa dibalikkan.
Rekomendasi lain yang penting adalah pendidikan ergonomi sejak sekolah dan masa awal karier. Ini masuk akal karena kebiasaan postur terbentuk saat tubuh masih adaptif, sementara “budaya layar” sudah dimulai sejak bangku kelas.
Pernyataan “ya, duduk adalah rokok baru” terdengar provokatif, tetapi justru efektif untuk mengguncang normalisasi gaya hidup sedentari. Kalimat itu memaksa kita mengakui bahwa ancaman kesehatan modern tidak selalu datang dari zat beracun, melainkan dari rutinitas yang dianggap produktif.
Meski begitu, membandingkan duduk dengan merokok punya batas, karena duduk adalah kebutuhan dasar sedangkan merokok adalah pilihan konsumsi. Yang lebih tepat adalah menyebutnya sebagai “paparan risiko” yang harus dikelola, bukan dihapus total.
Di sinilah kritiknya: banyak kantor memuja jam kerja panjang, tetapi abai pada desain kursi, ketinggian meja, dan jeda gerak yang memadai. Tubuh karyawan diperlakukan sebagai aksesori, padahal ia adalah mesin utama yang menentukan keberlanjutan produktivitas.
Jika “rokok” pernah dilawan dengan regulasi, kampanye publik, dan perubahan budaya, maka “duduk lama” juga perlu pendekatan serupa. Standar ergonomi, edukasi postur, dan kebijakan micro-break mestinya menjadi bagian dari kesehatan kerja, bukan bonus opsional.
Intinya, bahaya duduk lama dan postur buruk bukan mitos, melainkan jalur cepat menuju nyeri dan degenerasi tulang belakang yang datang lebih awal. Dr Faizan mengingatkan bahwa pencegahan ada di hal sederhana: ergonomi yang benar, edukasi sejak dini, dan intervensi sebelum sakit.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah duduk berbahaya”, melainkan “mengapa kita membiarkan sistem kerja dan belajar membuat sakit menjadi normal”. Jika kita bisa mengubah cara memandang rokok sebagai ancaman publik, mengapa kita masih menoleransi kursi dan kebiasaan yang pelan-pelan melumpuhkan punggung kita sendiri.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)