Pengguna Internet RI 229 Juta, Gen Z Dominasi Media Sosial

Radar Surabaya

Radar Surabaya

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Jumlah pengguna internet RI menembus 229 juta jiwa, dan mayoritasnya generasi muda yang hidup nyaris tanpa jeda dari layar. Di ruang digital itu, media sosial menjadi aktivitas paling dominan, sekaligus pintu masuk bagi hiburan, informasi, dan pengaruh.

Angka 229 juta pengguna internet Indonesia menandai penetrasi yang kian mendekati total populasi, terutama di kelompok usia produktif dan pelajar. Namun dominasi media sosial sebagai aktivitas digital utama memunculkan pertanyaan: apakah internet kita dipakai untuk melompat maju, atau hanya untuk terus bergulir tanpa arah.

Di banyak rumah, gawai menjadi benda pertama yang disentuh saat bangun dan terakhir saat tidur. Kebiasaan itu bukan sekadar tren, melainkan pola hidup baru yang membentuk cara berpikir, cara berbelanja, dan cara berpolitik.

Data pengguna internet RI 229 juta jiwa menunjukkan pasar digital yang masif, tetapi kualitas pemanfaatannya belum otomatis sebanding dengan kuantitas. Ketika media sosial jadi aktivitas digital paling dominan, waktu tersedot ke konten pendek yang memprioritaskan emosi dan kecepatan, bukan kedalaman.

Platform merancang algoritma untuk mempertahankan perhatian, karena perhatian adalah komoditas yang dijual ke pengiklan. Akibatnya, generasi muda lebih sering “dikurasi” oleh mesin rekomendasi ketimbang memilih informasi secara sadar.

Di sisi ekonomi, dominasi media sosial memang melahirkan pekerjaan baru, dari kreator hingga pedagang live shopping. Tetapi ekosistem ini juga rentan, karena pendapatan banyak orang bergantung pada perubahan algoritma dan kebijakan platform yang tidak transparan.

Di sisi sosial, media sosial mempercepat penyebaran kabar, termasuk kabar bohong dan narasi kebencian. Indonesia pernah berulang kali menghadapi gelombang misinformasi, dan laju sebarannya sering lebih cepat daripada klarifikasi resmi.

Di sisi pendidikan, internet semestinya memperluas akses belajar, namun realitasnya banyak pelajar lebih akrab dengan konten hiburan daripada sumber pengetahuan. Tanpa literasi digital yang kuat, 229 juta pengguna internet bisa berubah menjadi 229 juta sasaran manipulasi.

Di sisi kesehatan mental, budaya selalu terhubung memicu kelelahan, FOMO, dan perbandingan sosial yang tidak adil. Generasi muda menjadi kelompok paling rentan karena identitasnya masih dibentuk, sementara standar “ideal” di media sosial sering tidak nyata.

Masalahnya bukan pada internet, melainkan pada arah dan tata kelola perhatian publik yang dibiarkan liar. Jika media sosial adalah aktivitas digital paling dominan, maka yang dominan sesungguhnya adalah industri yang memanen emosi dan waktu kita.

Kita sering merayakan angka besar sebagai tanda kemajuan, padahal kemajuan digital seharusnya diukur dari kemampuan warga mengubah informasi menjadi keputusan yang rasional. Tanpa itu, internet hanya mempercepat keramaian, bukan mempercepat kecerdasan kolektif.

Pemerintah dan platform perlu menempatkan transparansi algoritma, perlindungan data, dan penegakan terhadap disinformasi sebagai agenda utama, bukan pelengkap. Sekolah dan keluarga juga perlu mengajarkan disiplin digital, karena kebebasan tanpa keterampilan hanya melahirkan ketergantungan.

Generasi muda tidak bisa terus disalahkan sebagai “kecanduan”, sebab desain platform memang dibuat adiktif. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang paling diuntungkan dari kebiasaan kita menggulir, dan siapa yang menanggung biaya sosialnya.

Jumlah pengguna internet Indonesia 229 juta jiwa adalah peluang besar untuk mempercepat inovasi, pendidikan, dan produktivitas. Namun dominasi media sosial sebagai aktivitas digital utama menuntut kita mengaudit ulang cara hidup digital yang kita anggap normal.

Pada akhirnya, internet adalah cermin: ia memantulkan prioritas kita, sekaligus memperbesar yang paling sering kita beri perhatian. Jika yang kita rawat hanya keramaian, maka masa depan akan ramai tetapi rapuh, dan kita perlu bertanya: untuk apa sebenarnya kita online. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)