Serangan Udara Pakistan di Afghanistan Tewaskan Warga Sipil

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan udara Pakistan di Afghanistan kembali memicu krisis perbatasan, setelah Kabul menuduh Islamabad menewaskan sedikitnya 36 warga sipil dan melukai lebih dari 160 orang pada Minggu malam. PBB mengonfirmasi sedikitnya 28 warga sipil tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, dan memperingatkan angka itu bisa bertambah (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Pejabat Afghanistan menuding Pakistan menggempur sedikitnya tiga provinsi perbatasan di timur, yakni Paktika, Paktia, dan Kunar. Juru bicara pemerintah Taliban, Hamdullah Fitrat, menyebut angka korban itu lewat X dan menyatakan serangan terjadi pada Minggu malam (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Misi PBB di Afghanistan menyatakan sedikitnya 49 orang terluka, dan menegaskan korban mencakup perempuan serta anak-anak. Pernyataan PBB juga menekankan bahwa verifikasi lapangan masih berjalan sehingga jumlah korban berpotensi meningkat (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Pakistan mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, dengan alasan operasi menargetkan militan. Seorang pejabat pemerintah Pakistan, Attaullah Tarar, mengatakan sedikitnya 32 militan tewas dan ada operasi darat sebelum serangan udara dilakukan (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Konflik lintas batas ini telah menewaskan ratusan orang sejak akhir Februari, dengan pertempuran terutama terjadi di sepanjang perbatasan sekitar 1.600 mil. Pakistan menuduh Taliban Afghanistan menampung serta mensponsori kelompok militan yang dalam beberapa tahun terakhir membunuh ribuan personel keamanan Pakistan, tuduhan yang dibantah Kabul (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Upaya meredakan ketegangan, termasuk melalui mediasi China, sejauh ini buntu. Perundingan resmi tingkat pemerintah di Urumqi pada April disebut gagal menghasilkan gencatan senjata (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Serangan Minggu malam disebut sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan paramiliter Pakistan. Militer Pakistan menyatakan pada Sabtu penyerang meledakkan bahan peledak lalu menembaki kamp Rangers di Karachi, menewaskan tiga perwira dan melukai empat lainnya (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Sebuah faksi yang berafiliasi dengan Tehreek-e-Taliban Pakistan (T.T.P.), atau Taliban Pakistan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Karachi. Klaim ini memperlihatkan pola klasik eskalasi, yakni serangan internal Pakistan dibalas dengan operasi lintas batas di Afghanistan (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Dalam pengakuan tertutup, sejumlah pejabat Taliban Afghanistan mengakui ada militan Afghanistan yang bergabung dengan Taliban Pakistan karena kedekatan ideologi dan sejarah bertempur bersama saat perang Afghanistan yang dipimpin AS. Namun mereka menilai para militan itu tidak punya pengaruh besar atas keputusan dan tindakan kelompok Taliban Afghanistan secara keseluruhan (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Di lapangan, dampak terbesar justru menimpa warga Afghanistan, bukan hanya kelompok bersenjata. PBB menyebut militer Pakistan telah melakukan puluhan serangan udara ke infrastruktur militer dan kota-kota Afghanistan selama konflik beberapa bulan terakhir (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Di Paktia, seorang pejabat kesehatan senior, Meraj Gul Adil, menyatakan lebih dari 130 orang terluka di provinsinya saja. Ia dan seorang sopir lokal, Mohammad Rafiq Haqyar, mengatakan dua serangan tampak menghantam bangunan yang sama dengan jeda sekitar 10 menit, dan seorang warga, Sayed Rahman Ahrar, mengaku menyelamatkan saudara perempuannya dari reruntuhan (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Jika dua gelombang serangan benar menghantam lokasi yang sama, pertanyaan tentang kehati-hatian dan penilaian target menjadi tak terhindarkan. Dalam konflik udara, jeda singkat antargelombang kerap diasosiasikan dengan serangan ulang, tetapi konsekuensinya fatal ketika bangunan itu ternyata berisi warga sipil (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Serangan ini juga disebut sebagai serangan besar kedua sejak akhir Februari yang menurut Taliban dan PBB menewaskan banyak warga sipil. Pada pertengahan Maret, Pakistan dilaporkan menyerang sebuah pusat rehabilitasi narkoba, menewaskan sedikitnya 269 orang dan melukai 172 lainnya menurut angka PBB (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Di sisi lain, Afghanistan lebih banyak melakukan serbuan darat ke pos-pos perbatasan Pakistan dan serangan sporadis memakai drone berintensitas rendah. Ketimpangan cara bertempur ini membuat kerusakan dan korban cenderung lebih besar di wilayah yang menjadi sasaran serangan udara (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Konflik ini juga memiliki dimensi ekonomi dan kemanusiaan yang memperburuk keadaan. Pakistan, merespons pemberontakan Taliban Pakistan, mengusir lebih dari satu juta warga Afghanistan tahun lalu dan menutup perbatasan, sehingga Afghanistan kehilangan pasar impor-ekspor utamanya (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Artinya, kekerasan bersenjata dan tekanan ekonomi saling mengunci dalam lingkaran setan yang sama. Ketika perdagangan macet dan pengungsi dipaksa pulang, ruang hidup warga menyempit, sementara aktor bersenjata mendapatkan lebih banyak alasan untuk merekrut dan membalas (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Di jalur diplomasi tidak resmi, sekelompok sekitar selusin mantan duta besar dan perwakilan nonpemerintah dari kedua negara bertemu di Istanbul awal bulan ini. Mereka menyusun proposal perdamaian yang meminta kedua pihak melucuti sebagian kelompok militan seperti Taliban Pakistan dan Islamic State Khorasan Province, serta melanjutkan kembali perdagangan, menurut dokumen yang dilihat The New York Times (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Dua peserta pertemuan, yang berbicara anonim karena pembicaraan bersifat rahasia, menyebut tantangan utamanya adalah membawa proposal itu ke pemerintah masing-masing dan meyakinkan mereka membuka kembali perundingan resmi. Ini menegaskan bahwa masalahnya bukan sekadar kurangnya ide, melainkan defisit kepercayaan dan biaya politik untuk terlihat “mengalah” (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Kata kunci konflik ini adalah “tanggung jawab”, tetapi yang paling sering hilang justru tanggung jawab terhadap warga sipil. Pakistan berbicara tentang militan yang tewas, sementara Afghanistan dan PBB mencatat tubuh warga yang terkubur, dan jurang narasi itu membuat kebenaran mudah dipolitisasi (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Jika Islamabad yakin ancaman T.T.P. bersifat eksistensial, serangan lintas batas mungkin dipandang sebagai jalan pintas keamanan. Namun jalan pintas semacam itu berisiko menjadi pabrik dendam baru, karena setiap rumah yang hancur menambah alasan bagi generasi berikutnya untuk memihak kekerasan (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Taliban Afghanistan juga berada dalam dilema yang mereka ciptakan sendiri. Kedekatan ideologis dan sejarah tempur dengan T.T.P. membuat penyangkalan total sulit dipercaya, tetapi pengakuan terbuka akan membuka pintu tekanan internasional dan memperuncing ketegangan domestik (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Proposal Istanbul yang menuntut pelucutan kelompok militan dan pemulihan perdagangan terdengar sederhana, tetapi justru itulah inti yang paling sulit. Melucuti kelompok bersenjata berarti mengorbankan “aset” pengaruh, sementara membuka perdagangan berarti mengakui ketergantungan yang selama ini dipakai sebagai alat tawar (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Di titik ini, perang perbatasan tampak seperti konflik yang dipelihara oleh logika pembalasan. Selama serangan di Karachi dibalas dengan bom di Paktia, dan serangan di pos perbatasan dibalas dengan penutupan jalur ekonomi, warga sipil akan terus menjadi mata uang termurah (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Serangan udara Pakistan di Afghanistan menunjukkan bagaimana perang modern bisa bergerak cepat, tetapi akuntabilitas bergerak lambat. Ketika PBB pun menyatakan jumlah korban bisa bertambah, yang dibutuhkan bukan hanya klaim kemenangan atas “militan”, melainkan mekanisme pencegahan agar warga tidak terus menjadi korban (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Pertanyaannya kini sederhana sekaligus menohok: siapa yang berani menghentikan siklus balas dendam sebelum ia menjadi kebijakan permanen? Jika kedua negara tidak mengubah prioritas dari pembalasan menuju perlindungan warga dan dialog yang terukur, perbatasan 1.600 mil itu akan tetap menjadi garis luka yang terus terbuka (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)