Krisis Ekspor Gandum Ukraina, Ancaman Guncangan Pangan Global

nytimes.com

nytimes.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Krisis ekspor gandum Ukraina kembali menegang ketika panen melimpah justru menumpuk di lumbung-lumbung selatan, sementara jalur Laut Hitam makin berbahaya. “Kami tidak tahu bagaimana akan bertahan,” kata Viktor Zvirishyn, petani 57 tahun dari Mykolaiv, ketika harga jatuh dan pembeli menghilang.

Musim ini disebut panen “besar”, dan lumbung di selatan Ukraina penuh gundukan biji-bijian berwarna keemasan. Namun gandum itu sulit bergerak, karena pelabuhan dan rute pelayaran Laut Hitam kembali tersendat oleh serangan.

Invasi Rusia pada 2022 pernah memicu guncangan pangan global, setelah ekspor Ukraina via Laut Hitam terganggu. Ukraina sempat pulih sebagian, lalu kesepakatan gandum Laut Hitam yang dimediasi Turki dan PBB membuka kembali ekspor.

Tahun ini, Rusia menyerang pelabuhan Ukraina yang masih berfungsi dan menekan pengiriman di Laut Hitam, sehingga rute utama ekspor kembali tertutup. Serangan drone juga meluas ke lahan, alat, dan bangunan pertanian di wilayah garis depan.

Ukraina membalas dengan memperluas serangan ke fasilitas pelabuhan Rusia di selatan. Menurut Lloyd’s List, Kyiv juga menghantam sedikitnya lima tanker Rusia yang membawa gandum pada Agustus.

Dampak langsungnya adalah penyusutan ekspor dari dua pemasok besar gandum dunia, yakni Rusia dan Ukraina. Ini bukan sekadar berita perang, melainkan alarm rantai pasok pangan global.

Ukraina mengekspor hanya 0,5 juta ton gandum dari 1–18 Agustus, kata Menteri Pertanian Taras Vysotskyi. Angka itu disebut hanya sekitar 20% dari level normal ketika pelabuhan berfungsi penuh.

Di sisi lain, ekspor gandum Rusia tercatat 1,4 juta ton pada 1–20 Agustus, menurut buletin Russian Grain Union. Itu kurang dari setengah periode yang sama tahun sebelumnya, dan disebut terendah dalam 10 tahun.

Ketika ekspor macet, pasar bereaksi cepat dengan cara yang menghukum petani, bukan agresor. Zvirishyn mengatakan “tak ada yang mau membeli” karena gandum tak bisa keluar, sehingga harga anjlok.

Masalah paling keras adalah penyimpanan, karena panen tidak bisa menunggu logistik perang. Vicki Aken dari Mercy Corps memperingatkan petani bisa kehilangan panen hanya karena tak ada ruang simpan.

Ukraina mencoba rute jalan, rel, dan terminal di Sungai Donau, tetapi kapasitasnya terbatas. Donau juga terpukul kekeringan, dan Rusia mulai menyerang bagian dari jaringan alternatif itu.

Di tingkat desa, krisis terlihat seperti tumpukan karung yang tidak bergerak dan uang yang tidak masuk. Zvirishyn menyimpan sebagian di silo lokal, sisanya ditutup terpal di ruang terbuka.

Ia mengaku sudah melunasi utang, tetapi kini tak punya uang membeli bahan bakar traktor untuk musim tanam berikutnya. “Saya hampir kehabisan uang sekarang,” katanya, “saya tidak tahu bagaimana akan melanjutkan.”

Roman Pradun, 35 tahun, menunjukkan kualitas gandumnya, tetapi ia mengatakan akan menjual rugi pada harga saat ini. Ia beruntung punya lumbung, karena baru dibangun kembali dengan bantuan lembaga amal internasional.

Namun keamanan fisik pun rapuh, karena serangan drone menarget bangunan pertanian dan makin mendekat. Pradun terluka di lutut akibat serpihan drone yang ditembak jatuh saat ia berlari keluar rumah untuk mencegah kebakaran.

Krisis ekspor gandum Ukraina memperlihatkan paradoks perang modern: produksi bisa pulih, tetapi pasar bisa tetap “dibunuh” oleh risiko pengiriman. Ketika asuransi, kapal, dan pembeli mundur, gandum berubah dari komoditas menjadi beban.

Pola ini juga menyingkap kelemahan diplomasi pangan internasional yang bergantung pada kesepakatan rapuh. Mercy Corps bahkan menyerukan perjanjian gandum baru, tetapi tidak ada tanda pembicaraan berjalan.

Serangan balasan Ukraina terhadap tanker dan fasilitas pelabuhan Rusia menambah lapisan eskalasi di jalur logistik. Secara militer mungkin dimaksudkan sebagai tekanan, tetapi secara ekonomi ia mempersempit ruang netral bagi perdagangan pangan.

Yang paling rentan adalah petani kecil dan menengah, karena mereka menanggung biaya panen, penyimpanan, dan risiko serangan langsung. Jika mereka bangkrut, dampaknya bukan hanya satu musim, melainkan kapasitas produksi beberapa tahun ke depan.

Di luar Ukraina, dunia semestinya membaca ini sebagai sinyal awal, bukan kepanikan terlambat. Ketika dua eksportir besar tersendat bersamaan, negara importir yang miskin devisa biasanya yang lebih dulu merasakan lonjakan harga.

Di Mykolaiv, para petani masih memilih bertahan meski gudang penuh dan langit tidak aman. “Ini bertani,” kata Volodymyr Pradun, “kamu tidak bisa begitu saja berhenti.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia menampar kita dengan pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan ketahanan pangan dunia diserahkan pada jalur pelayaran yang bisa ditutup oleh drone dan rudal. Jika gandum tidak bisa bergerak, maka panen melimpah pun hanya menjadi tumpukan sunyi di bawah terpal.

(Orbit dari berbagai sumber, 4 September 2026)