Indra Iswara: Sengketa Wasiat Berujung Berkah dengan Akta Notaris

Ilustrasi sengketa waris.

Ilustrasi sengketa waris.

Opini

Oleh Indra Iswara, Notaris

ORBITINDONESIA.COM - Di ruang berpendingin lima belas derajat, Dua saudara saling menatap lekat.

Pak Indra menyodorkan kertas berstempel tinta, Memabukkan mereka dalam sengketa harta.

"Ini akta sah dari Notaris," serunya penuh jemawa,

"Tanah warisan tanah perkebunan, milikku sepenuhnya!"

Siti menahan napas, dadanya gemetar hebat, Mengingat pesan almarhumah ibu yang mengikat.

"Ibu tak pernah menganak-emaskan siapa pun," bisiknya liris,

Namun saudaranya bergeming, berkeras pada lembar petunjuk tertulis.

Hubungan sedarah yang dahulu hangat bagai sang Surya,

Kini membeku, hancur lebat tergerus nafsu dan logika.

Bulan-bulan berganti penuh amarah dan dendam, Pintu rumah yang dulu terbuka kini terkunci rapat dan remang.

Siti tak lagi menyapa, Bowo pun enggan menatap muka, Hanya berkas pengadilan yang lalu lalang membawa duka.

Hingga suatu petang, Notaris tua memanggil keduanya,

Duduk bersama di meja kayu tanpa riak bahaya.

"Akta ini asli, tapi bukan untuk membuat kalian saling benci,"

Ucap Notaris pelan, menatap dua pasang mata yang hening menyepi.

"Ibu kalian menitipkan klausa tersirat di lembar terakhir, Bahwa harta ini hanya bisa dijual jika kalian sepakat berbagi."

Siti dan Bowo tertegun, saling tatap dalam keheningan mendalam,

Keduanya tersadar, kesombongan selama ini hanyalah racun yang kelam.

Akta Notaris itu akhirnya dibaca bukan lagi sebagai senjata,

Melainkan sebagai jembatan untuk melebur perpecahan jiwa.

Mereka sepakat mengelola tanah bersama tanpa perselisihan, Membangun usaha perkebunan yang mendatangkan kelimpahan.

Sengketa dingin yang sempat merusak ikatan persaudaraan,

Kini berubah menjadi berkah, mempererat tali kasih yang sempat hilang.

Jakarta Selatan.

28 Agustus 2026